Ada lagu yang tidak pernah benar-benar tua. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali menyapa.
Siang ini, seusai jogging, kaus merah — bertuliskan Kaiserslautern — masih basah oleh sisa keringat. Napas mulai kembali teratur. Di depan ku, secangkir kopi mengepulkan aroma yang perlahan mengusir lelah. Dari pengeras suara mengalun Angie, lagu lawas dari The Rolling Stones yang usianya bahkan lebih tua dari pada aku.
Entah mengapa, lagu itu selalu terdengar berbeda setiap kali usia bertambah.
Dulu, mungkin aku mendengarnya sebagai lagu tentang cinta. Hari ini, di usia 49 tahun, aku menikmatinya sebagai lagu tentang perjalanan. Tentang orang-orang yang pernah singgah, lalu melanjutkan langkahnya. Tentang mimpi yang tercapai, harapan yang berubah, juga tentang waktu yang diam-diam mengajari kita menerima bahwa tidak semua hal harus kita miliki selamanya.
Seperti jogging pagi tadi, hidup ternyata tidak selalu soal berlari cepat. Yang lebih penting adalah tetap melangkah, menjaga ritme, dan tahu kapan harus berhenti sejenak untuk menghela napas.
Aku tersenyum sambil menyeruput kopi yang mulai hangat. Rasanya sederhana. Tidak ada yang istimewa. Tetapi justru dalam kesederhanaan seperti inilah hidup sering memperlihatkan wajahnya yang paling jujur.
Mungkin, di usia ini, aku sedang belajar menjadi tua.
Bukan tua yang kehilangan semangat, melainkan tua yang mulai memahami bahwa hidup tidak harus selalu penuh gegap gempita. Ada waktunya mengejar. Ada waktunya melepaskan. Ada waktunya berbicara. Ada pula waktunya menikmati kesunyian, ditemani secangkir kopi, tubuh yang lelah setelah berlari, dan sebuah lagu lama yang masih setia diputar.
Keringat yang belum benar-benar kering menjadi bukti bahwa tubuh ini masih mau diajak bergerak. Kopi mengingatkan bahwa jeda juga bagian dari perjalanan. Musik mengajarkan bahwa kenangan tidak selalu harus disesali. Ada yang cukup dikenang, lalu dibiarkan mengalir bersama waktu.
Barangkali, menjadi tua bukan tentang menghitung berapa tahun telah berlalu. Menjadi tua adalah belajar berdamai dengan waktu. Bersyukur karena kaki masih sanggup berlari, paru-paru masih bisa menghirup udara pagi, hati masih dapat tersentuh oleh sebuah lagu, dan jemari masih ingin menuliskan cerita.
Siang ini sesederhana itu.
Secangkir kopi.
Sisa-sisa jogging.
Dan Angie yang mengalun pelan.
Ternyata, kebahagiaan sering datang tanpa banyak suara. Ia hadir dalam momen-momen kecil yang nyaris luput kita syukuri.
Di usia 49 tahun, saya tidak lagi ingin berlari lebih cepat daripada waktu.
Saya hanya ingin ketika waktu selesai dengan saya, ia menemukan seseorang yang telah menjalani hidup dengan utuh—menghargai setiap pagi, setiap langkah, setiap cangkir kopi, setiap peluh yang jatuh, dan setiap lagu yang pernah menemani perjalanan.
Kalau itu bisa saya lakukan, maka menjadi tua bukanlah kehilangan.
Ia adalah anugerah. Karena pada akhirnya, setiap orang punya cerita.
Lagu itu berakhir. Kopi pun tinggal ampas. Tetapi siang tetap berjalan, persis seperti hidup. ***
Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.
☕ Traktir Kopi di Trakteer