Kaul Kekal, Ketika “Apa Adanya” Menjadi Jalan Panggilan

Ada masa dalam hidup ketika seseorang merasa perlu berhenti sebentar. Bukan karena menyerah. Bukan karena ingin melarikan diri dari dunia. Tetapi karena ingin mendengar kembali suara yang sering tenggelam di tengah kesibukan: suara hati, suara Tuhan, dan suara panggilan yang perlahan mulai samar. Lima tahun lalu, ketika usiaku memasuki 45 tahun, aku mengalami masa seperti … Read more

Angie-nya The Rolling Stone, Secangkir Kopi, dan Keringat yang Belum Kering

Ada lagu yang tidak pernah benar-benar tua. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali menyapa. Siang ini, seusai jogging, kaus merah — bertuliskan Kaiserslautern — masih basah oleh sisa keringat. Napas mulai kembali teratur. Di depan ku, secangkir kopi mengepulkan aroma yang perlahan mengusir lelah. Dari pengeras suara mengalun Angie, lagu lawas dari The … Read more

Secangkir Kopi, Sejuta Cerita

Ada yang sederhana dari foto ini. Segelas kopi hitam di dalam gelas kaca, diletakkan di atas piring enamel yang mulai menua. Sendok kecil masih berdiri tegak, seolah menunggu tangan yang akan mengaduknya. Buih-buih tipis di permukaan kopi menjadi penanda bahwa ia baru saja diseduh. Di baliknya, suasana warung kopi tampak samar. Kursi-kursi kayu, meja-meja sederhana, … Read more

Semeja Lagi Setelah Tiga Puluh Tahun

Rasanya seperti baru kemarin kami duduk di kelas yang sama, bercanda di asrama, atau berjalan kaki dari Wisma Widya menuju sekolah. Kini, ubah kami sudah memutih

Di Meja yang Sama Reuni Nyarumkop

Di meja yang sama reuni Nyarumkop ini kami kembali bertemu. Seramping ketika masih mengenakan seragam putih abu-abu. Ada yang tidak berubah dari sebuah reuni. Bukan wajah-wajahnya. Sebab rambut kami mulai memutih. Kerutan mulai hadir di sudut mata. Sebagian perut tak lagi seramping ketika masih mengenakan seragam putih abu-abu. BACA JUGA: Pastor Alex Mingkar, dari Bangku … Read more

Nyarumkop, Tempat yang Selalu Memanggil Kami Pulang

Kabut asap masih menyelimuti langit Kalimantan Barat ketika aku meninggalkan Nyarumkop, 6 September 2026. Jalan pulang menuju Pontianak kembali dipenuhi kendaraan. Di dalam mobil, orang-orang mulai terdiam. Barangkali lelah setelah tiga hari yang begitu padat. Barangkali masih sibuk merapikan kenangan yang baru saja tercipta. Aku yang berada di balik kemudi Suzuki All New Ertiga biru … Read more

Para Senior Alumnus Nyarumkop yang Menginspirasi di Balik Secangkir Kopi

Kabut asap masih menggantung di langit Pontianak pagi itu. Matahari seolah enggan menampakkan diri. Aroma kopi panas mengepul di Warkop Angie, Jalan Siam, menemani obrolan kami yang semula biasa saja. Namun, seperti sering terjadi dalam hidup, percakapan sederhana justru membuka pintu menuju cerita-cerita besar. Aku bersama Bang Masri Sareb Putra dan Bang Albert Y Imas … Read more

Proyek Bunuh Diri Itu Bernama ‘Buku 110 Tahun Nyarumkop’

Aku masih sering tersenyum sendiri ketika memegang buku 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (1916–2026). Buku itu kini sudah ada di tangan para alumni. Halamannya sudah dibaca banyak orang. Namun setiap kali aku melihat sampulnya, yang teringat bukan hanya isi buku itu, melainkan perjalanan yang nyaris membuat kami kehabisan tenaga. Semuanya berawal dari permintaan Ketua Panitia … Read more