Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.
☕ Traktir Kopi di TrakteerKabut asap masih menggantung di langit Pontianak pagi itu. Matahari seolah enggan menampakkan diri. Aroma kopi panas mengepul di Warkop Angie, Jalan Siam, menemani obrolan kami yang semula biasa saja.
Namun, seperti sering terjadi dalam hidup, percakapan sederhana justru membuka pintu menuju cerita-cerita besar.
Aku bersama Bang Masri Sareb Putra dan Bang Albert Y Imas berbincang tentang Nyarumkop. Tentang reuni 110 tahun. Tentang sekolah yang telah membentuk begitu banyak pribadi dengan jalan hidup yang berbeda-beda. Dari satu nama, muncul nama lain. Dari satu kenangan, lahir kenangan berikutnya.
Lalu telepon itu datang.
Bang Adri — Dr Adrianus Asia Sidot MSi — menghubungi Bang Masri. Beliau sedang bersiap meninggalkan Pontianak untuk tugas dinas di kabupaten, tetapi masih menyempatkan waktu menerima kami di rumahnya.
Kami pun mengubah arah.
Aku yang menyetir arah Sungai Raya, membelokkan mobilku. Putar balik di Jl Ahmad ani, tak jauh Gaia Mall.
Sesampainya di rumah beliau, kopi kembali tersaji. Namun pagi itu, yang benar-benar menghangatkan bukanlah kopinya, melainkan cerita-cerita yang mengalir tanpa dibuat-buat.
Aku duduk lebih banyak mendengar.
Semakin sering aku bertemu para senior Nyarumkop, semakin aku menyadari bahwa mereka bukan hanya alumni sebuah sekolah. Mereka adalah perpustakaan hidup. Masing-masing menyimpan bab-bab kehidupan yang tidak pernah tertulis di buku pelajaran.
Bang Adri membuka salah satu bab itu.
Beliau berkisah tentang masa kecilnya di Saham. Tentang ayahnya yang seorang guru. Tentang keterbatasan ekonomi keluarga. Tentang keinginannya memiliki celana panjang ketika akan masuk SMA Santo Paulus Nyarumkop.
Jawaban ayahnya sederhana.
“Nanti saja.”
Dua kata yang mungkin terdengar biasa. Namun setelah puluhan tahun, dua kata itu ternyata menyimpan begitu banyak makna.
Bang Adri mengenangnya sambil menahan air mata.
Ruangan itu mendadak sunyi.
Tak seorang pun di antara kami merasa perlu menyela. Ada saatnya cerita cukup didengarkan. Sebab pada momen-momen tertentu, kehadiran jauh lebih berarti daripada kata-kata.
Aku memandang wajah beliau. Sulit membayangkan bahwa seorang tokoh nasional yang kini begitu dihormati pernah berangkat ke Nyarumkop hanya membawa satu baju, satu celana pendek, bantal, dan selimut yang dibungkus tikar. Diantar ayahnya dengan sepeda motor melewati jalan berlumpur.
Yang membuatku terdiam bukan semata kisah tentang kemiskinan.
Melainkan tentang kasih seorang ayah yang memilih tetap mengantar anaknya bersekolah, meski tidak mampu memenuhi semua keinginannya.
Hari itu aku belajar lagi bahwa keberhasilan seseorang hampir selalu memiliki cerita sunyi di belakangnya. Ada orang tua yang berkorban. Ada guru yang percaya. Ada asrama yang menempa. Ada teman-teman yang saling menguatkan. Dan ada air mata yang tidak pernah diketahui banyak orang.
Beberapa hari terakhir, aku berkesempatan bertemu sejumlah senior Nyarumkop.
Masing-masing meninggalkan kesan yang berbeda.
Ada yang mengajarkan arti pengabdian. Ada yang memperlihatkan kerendahan hati meski telah mencapai posisi tinggi. Ada yang mengingatkan bahwa jabatan hanyalah titipan, sedangkan karakter adalah warisan yang sesungguhnya.
Aku semakin yakin, kebesaran seseorang tidak pertama-tama terlihat dari gelar yang disandang atau jabatan yang diduduki. Kebesaran itu tampak dari cara mereka memperlakukan orang lain, dari kesederhanaan dalam berbicara, dan dari kesediaan membuka lembaran hidupnya agar menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.
Mungkin itulah salah satu alasan mengapa aku menikmati proses menulis buku 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop.
Bukan semata karena sedang menyusun sejarah sebuah lembaga pendidikan.
Tetapi karena melalui proses itu aku dipertemukan kembali dengan begitu banyak manusia luar biasa.
Orang-orang yang telah berjalan jauh sebelum kami.
Orang-orang yang jatuh, bangkit, berjuang, lalu tetap memilih rendah hati.
Aku pulang hari itu dengan membawa lebih dari sekadar catatan wawancara.
Aku membawa inspirasi.
Aku membawa pengingat bahwa setiap orang memiliki cerita yang tidak terlihat dari luar.
Dan aku membawa keyakinan baru bahwa perjalanan hidup bukan diukur dari seberapa cepat kita sampai di tujuan, melainkan dari seberapa banyak nilai yang kita wariskan kepada orang lain sepanjang perjalanan itu.
Terima kasih, Bang Adri.
Terima kasih juga kepada para senior Nyarumkop lainnya.
Tanpa disadari, lewat secangkir kopi, sepotong kenangan, dan cerita yang disampaikan dengan tulus, kalian sedang mendidik kami sekali lagi.
Barangkali, inilah pelajaran terindah dari reuni 110 tahun Nyarumkop.
Bahwa sekolah tidak pernah benar-benar selesai ketika seseorang menerima ijazahnya.
Sekolah itu terus berlangsung.
Di ruang-ruang tamu.
Di meja-meja kopi.
Di dalam percakapan.
Dan terutama, melalui kisah hidup para alumninya.
Karena setiap orang memang punya cerita.
Dan setiap cerita yang dibagikan dengan tulus selalu memiliki kekuatan untuk menginspirasi orang lain. ***
