Kaul Kekal, Ketika “Apa Adanya” Menjadi Jalan Panggilan

Opini | October 28, 2026 | by Stefanus Akim

Ada masa dalam hidup ketika seseorang merasa perlu berhenti sebentar.

Bukan karena menyerah. Bukan karena ingin melarikan diri dari dunia. Tetapi karena ingin mendengar kembali suara yang sering tenggelam di tengah kesibukan: suara hati, suara Tuhan, dan suara panggilan yang perlahan mulai samar.

Lima tahun lalu, ketika usiaku memasuki 45 tahun, aku mengalami masa seperti itu.

Sebagai seorang suami, ayah, jurnalis, dan manusia yang terus bergerak dalam berbagai tanggung jawab kehidupan, aku menyadari bahwa dunia berjalan begitu cepat. Pekerjaan menuntut perhatian. Keluarga membutuhkan kehadiran. Perubahan zaman memaksa kita terus beradaptasi.

Namun di tengah semua itu, ada kerinduan untuk menata kembali kehidupan.

Aku ingin menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia.

Bukan untuk meninggalkan dunia, tetapi untuk kembali hadir di tengah dunia dengan hati yang lebih seimbang.

Pada masa itulah aku bergabung dalam Persaudaraan Dominikan Awam Indonesia (PDAI), Chapter Santo Dominikus Pontianak, Komunitas Jordan of Saxony.

Saat itu aku tidak mencari sebuah identitas baru. Aku hanya ingin belajar: bagaimana menyeimbangkan doa dan karya, keluarga dan pelayanan, kesibukan dan keheningan.

Aku mulai memahami bahwa bertambahnya usia bukan hanya tentang angka, tetapi tentang kebijaksanaan untuk mengenali apa yang sungguh penting dalam hidup.


Lima Tahun Berjalan Bersama PDAI

Perjalanan lima tahun bersama PDAI menjadi bagian penting dalam hidupku.

Tidak selalu mudah. Ada proses belajar, pergulatan, dan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab dalam keheningan.

Aku belajar bahwa kehidupan rohani bukan berarti menjauh dari dunia.

Justru sebaliknya, iman harus membuat seseorang semakin hadir dalam kehidupan nyata.

Sebagai jurnalis, aku tetap berhadapan dengan dinamika dunia informasi. Sebagai suami dan ayah, aku tetap belajar mencintai keluarga dengan segala keterbatasanku. Sebagai manusia, aku masih membawa kelemahan dan kekurangan.

Namun di dalam komunitas ini, aku menemukan ruang untuk bertumbuh.

Aku belajar bahwa pewartaan tidak selalu melalui kata-kata besar.

Kadang pewartaan terjadi melalui kesediaan mendengar.

Melalui cara kita memperlakukan orang lain.

Melalui kesetiaan melakukan hal-hal kecil dengan kasih.


Hari Ketika Mengucapkan Kaul Kekal

Dari Jumat hingga Minggu kemarin, aku mengikrarkan kaul kekal dalam Ordo Pewarta atau Persaudaraan Dominikan Awam Indonesia (PDAI), Chapter Santo Dominikus Pontianak, Komunitas Jordan of Saxony.

Bagiku, momen itu bukan sekadar sebuah upacara keagamaan.

Itu adalah sebuah pengakuan pribadi di hadapan Tuhan dan komunitas:

Aku memilih untuk terus berjalan sebagai pewarta.

Dengan segala kekuatan.

Dengan segala kelemahan.

Dengan segala keterbatasan.

Dengan segala keberadaan.

Saat mengucapkan janji di hadapan Pastor Elson serta Presiden PDA Chapter Santo Dominikus Pontianak, Fransiskus Edy OP, perasaanku bercampur aduk.

Ada syukur.

Ada haru.

Ada sedikit kegugupan.

Tetapi yang paling terasa adalah kesadaran bahwa kata “kekal” bukan berarti aku sudah selesai.

Kekal berarti bersedia terus dibentuk.

Aku datang bukan sebagai manusia yang sempurna.

Aku datang dengan seluruh perjalanan hidup: pengalaman, harapan, kegagalan, kebiasaan lama, dan pertanyaan yang masih mencari jawaban.

Aku datang apa adanya.


Empat Orang, Satu Komitmen

Dalam kesempatan yang sama, kami berempat mengikrarkan kaul kekal.

Dari Komunitas Jordan of Saxony Pontianak, ada pula yang mengikrarkan profes pertama: Sis Archangela Tiliyan, Sis Dellyana, dan Sis Rika.

Sementara Albertus Y Imas dan Paskalis Aling mengikrarkan profes kedua.

Setiap tahap memiliki makna.

Profesi pertama adalah langkah awal memasuki sebuah perjalanan.

Profesi kedua adalah tanda kedewasaan dalam memahami panggilan.

Sedangkan kaul kekal adalah keputusan untuk terus tinggal dalam jalan yang telah membentuk diri.

Kami berbeda tahap, tetapi berjalan dalam semangat yang sama: menghadirkan kasih dan kebenaran Tuhan melalui kehidupan sehari-hari.


Persaudaraan yang Menghangatkan

Salah satu hal yang paling berkesan dari momen ini adalah kehangatan persaudaraan.

Peserta dan panitia tidak hanya datang dari Pontianak.

Ada saudara-saudari dari Komunitas Santa Perawan Maria Ratu Surga yang ber-home base di Senakin. Ada pula teman-teman dari Mandor, tempat Biara Suster Dominikan Indonesia berada.

Kehadiran mereka membuat acara ini terasa seperti pertemuan keluarga besar.

Ada doa bersama.

Ada cerita perjalanan.

Ada tawa.

Ada makan bersama.

Sederhana, tetapi penuh makna.

Aku semakin memahami bahwa PDAI bukan hanya tentang struktur atau aturan.

PDAI adalah tentang relasi.

Tentang persaudaraan yang tumbuh karena iman yang sama.


Kamar Ber-AC dan Rahmat dalam Hal Kecil

Dalam setiap perjalanan bersama, selalu ada cerita kecil yang sulit dilupakan.

Salah satunya adalah kisah kamar.

Kami yang datang terakhir justru mendapatkan kamar ber-AC. Sementara beberapa teman lain harus membawa kipas angin.

Kelihatannya sederhana.

Namun justru dari hal kecil itu lahir tawa dan keakraban.

Hidup bersama memang penuh kejutan.

Kadang kita mendapatkan kenyamanan yang tidak direncanakan. Kadang kita harus menerima keadaan yang berbeda.

Tetapi dari sana kita belajar bersyukur.

Mungkin itulah gambaran kecil dari perjalanan kaul kekal.

Kita tidak selalu mendapatkan apa yang paling nyaman, tetapi selalu ada rahmat yang bisa ditemukan.


Mengenal Dominikan, PDAI, dan Santo Dominikus

Bagi sebagian orang, istilah Dominikan atau PDAI mungkin masih asing.

Dominikan adalah keluarga besar Ordo Pewarta (Ordo Praedicatorum/OP), sebuah ordo dalam Gereja Katolik yang didirikan oleh Santo Dominikus dengan semangat doa, studi, dan pewartaan.

Sedangkan Persaudaraan Dominikan Awam Indonesia (PDAI) adalah bagian dari keluarga Dominikan bagi umat awam.

Anggotanya bukan biarawan atau biarawati. Mereka adalah umat biasa yang berusaha menghidupi spiritualitas Dominikan di tengah keluarga, pekerjaan, paroki, dan masyarakat.

Melalui kaul, anggota PDAI berkomitmen untuk memperdalam iman, memperkuat kehidupan doa, dan mengambil bagian dalam tugas pewartaan sesuai panggilannya sebagai seorang awam.

Santo Dominikus lahir di Caleruega, Spanyol, sekitar tahun 1170 dan wafat di Bologna, Italia, pada 6 Agustus 1221.

Ia mendirikan Ordo Pengkhotbah yang kemudian dikenal sebagai Ordo Dominikan.

Warisan Santo Dominikus sederhana, tetapi mendalam: berdoa, belajar, dan mewartakan.

Iman tidak cukup hanya diketahui. Iman harus dihidupi.

Sebagai seorang jurnalis, aku menemukan ada irisan antara semangat Dominikan dan dunia pewartaan.

Keduanya membutuhkan pencarian terhadap kebenaran.

Keduanya membutuhkan keberanian untuk menyampaikan sesuatu dengan tanggung jawab.

Dan keduanya membutuhkan kasih kepada manusia.


Aku Datang Apa Adanya

Pada akhirnya, kaul kekal adalah sebuah kalimat sederhana yang ingin kusampaikan kepada Tuhan:

“Aku datang apa adanya.”

Lima tahun lalu, ketika usiaku 45 tahun, aku ingin menepi sejenak dari hiruk-pikuk dunia.

Hari ini aku memahami bahwa Tuhan tidak memanggilku untuk menjauh dari dunia.

Tuhan memanggilku untuk kembali hadir di tengah dunia dengan hati yang lebih seimbang.

Sebagai suami.

Sebagai ayah.

Sebagai jurnalis.

Sebagai anggota Persaudaraan Dominikan Awam.

Aku masih terus belajar.

Belajar berdoa sebelum berbicara.

Belajar mendengar sebelum menghakimi.

Belajar mengasihi sebelum meyakinkan.

Sebab Tuhan tidak memanggil manusia yang sudah selesai.

Tuhan memanggil manusia yang bersedia berjalan.

Dan aku memilih berjalan bersama-Nya.

Dengan segala keterbatasan.

Dengan segala keberadaan.

Apa adanya.

Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.

☕ Traktir Kopi di Trakteer