Ketika Berani Terbang dari Sangkar

Spread the love

Di luar zona nyaman ternyata bukan hanya ada risiko, tetapi juga kesempatan yang selama ini menunggu untuk ditemukan

Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.

☕ Traktir Kopi di Trakteer

Ada satu ketakutan yang hampir selalu muncul ketika seseorang berpikir untuk meninggalkan zona nyamannya.

“Bagaimana kalau gagal?”

“Bagaimana kalau tidak ada penghasilan?”

“Bagaimana kalau hidup menjadi lebih sulit?”

“Bagaimana kalau keputusan ini ternyata salah?”

Pertanyaan-pertanyaan itu wajar. Hampir semua orang pernah mengalaminya.

Sebab manusia secara alami menyukai kepastian. Kita merasa aman ketika gaji datang setiap bulan. Kita merasa tenang ketika rutinitas sudah dapat ditebak. Kita merasa nyaman ketika hari-hari berjalan sebagaimana biasanya.

Namun ada satu kenyataan yang sering terlupakan.

Sangkar yang nyaman tetaplah sangkar.

Ia mungkin aman.

Tetapi ia tidak pernah mengajarkan seekor burung bagaimana caranya terbang.


Ada pepatah Jerman yang sangat menarik:

„Wer nicht wagt, der nicht gewinnt.“

Siapa yang tidak berani mengambil risiko, tidak akan pernah memperoleh kemenangan.

Kalimat ini bukan ajakan untuk bertindak nekat tanpa perhitungan.

Melainkan pengingat bahwa banyak hal baik dalam hidup hanya bisa ditemukan ketika kita berani melangkah keluar dari tempat yang selama ini terasa aman.

Sebab sering kali yang paling menakutkan bukanlah kegagalan.

Yang paling menakutkan adalah hidup puluhan tahun kemudian dengan penyesalan karena tidak pernah mencoba.


Ketika masih berada di dalam dunia korporasi, banyak orang mengira perusahaan adalah satu-satunya sumber kehidupan.

Seolah-olah jika keluar, dunia akan berakhir.

Seolah-olah tidak ada peluang lain di luar sana.

Seolah-olah kemampuan yang dimiliki hanya berguna selama berada di balik meja kantor.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Banyak orang baru menyadari nilai dirinya justru setelah keluar.

Mereka menemukan bahwa kemampuan menulis ternyata bisa menghasilkan.

Kemampuan berbicara ternyata dicari banyak orang.

Kemampuan membangun relasi ternyata membuka pintu-pintu baru.

Pengalaman bertahun-tahun yang dulu dianggap biasa ternyata menjadi aset yang sangat berharga.

Potensi itu sebenarnya sudah ada sejak lama.

Hanya saja selama bertahun-tahun tertutup oleh rutinitas yang terlalu padat.


Dalam Injil terdapat perkataan Yesus yang sering memberikan ketenangan bagi banyak orang:

“Perhatikanlah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai serta tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di surga.” (Matius 6:26)

Ayat ini tentu bukan berarti manusia tidak perlu bekerja.

Burung tetap terbang mencari makan setiap hari.

Burung tetap bergerak.

Burung tetap berusaha.

Namun mereka tidak hidup dalam ketakutan yang terus-menerus tentang hari esok.

Mereka mempercayai bahwa kehidupan telah menyediakan ruang bagi mereka untuk bertahan.

Dan bukankah sering kali demikian pula yang terjadi pada manusia?

Saat kita mengambil langkah yang selama ini ditakuti, perlahan pintu-pintu baru mulai terbuka.

Pertemuan yang tidak direncanakan menghadirkan kesempatan.

Hobi yang dulu dianggap sekadar kesenangan berubah menjadi sumber penghasilan.

Keterampilan yang selama ini tersembunyi menemukan panggungnya.

Jalan memang tidak selalu mudah.

Namun ternyata jalan itu ada.


Ada satu hal yang menarik setelah seseorang keluar dari zona nyaman.

Ia mulai mengenal dirinya sendiri.

Selama bertahun-tahun mungkin kita terlalu sibuk menjalankan target perusahaan hingga lupa bertanya:

“Apa sebenarnya kemampuan terbaik saya?”

“Apa yang membuat saya hidup?”

“Apa yang ingin saya bangun?”

Ketika rutinitas lama berhenti, pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul.

Dan sering kali jawabannya mengejutkan.

Ternyata kita lebih kreatif daripada yang selama ini kita kira.

Ternyata kita mampu belajar hal-hal baru dengan cepat.

Ternyata kita bisa membangun sesuatu dari nol.

Ternyata keberanian yang selama ini dicari sudah ada di dalam diri kita sendiri.


Tentu saja tidak semua orang harus resign.

Tidak semua orang harus menjadi pengusaha.

Tidak semua orang harus meninggalkan pekerjaannya sekarang.

Namun setiap orang perlu berani keluar dari zona nyaman dalam bentuknya masing-masing.

Berani mencoba hal baru.

Berani belajar keterampilan baru.

Berani memulai usaha kecil.

Berani menulis.

Berani berkarya.

Berani bermimpi lebih besar daripada ketakutan yang selama ini mengurungnya.

Karena pertumbuhan hampir tidak pernah terjadi di tempat yang terlalu nyaman.

Pohon tidak tumbuh karena tetap menjadi benih.

Burung tidak belajar terbang dengan terus tinggal di sarang.

Dan manusia tidak menemukan potensi terbaiknya dengan terus bersembunyi di balik rasa aman.


Ada pepatah Jerman lain yang berbunyi:

„Jeder Anfang ist schwer.“

Setiap permulaan memang sulit.

Benar.

Langkah pertama hampir selalu terasa berat.

Namun langkah pertama itu juga yang membawa seseorang menuju tempat yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Hari ini mungkin Anda masih berdiri di tepi pintu, ragu untuk melangkah keluar.

Takut menghadapi ketidakpastian.

Takut kehilangan rasa aman.

Takut tidak mampu.

Namun percayalah, dunia di luar tidak selalu semenakutkan yang dibayangkan oleh pikiran kita.

Di luar sana ada peluang.

Ada pengalaman baru.

Ada pelajaran berharga.

Ada orang-orang yang akan membantu.

Ada pintu yang belum pernah kita ketuk.

Dan mungkin, ada versi terbaik diri kita yang selama ini menunggu untuk ditemukan.

Sebab terkadang, hal terbesar yang kita temukan setelah meninggalkan zona nyaman bukanlah pekerjaan baru, usaha baru, atau penghasilan baru.

Melainkan kesadaran bahwa selama ini kita ternyata jauh lebih mampu daripada yang pernah kita percayai. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *