Aroma yang Tinggal di Dalam Waktu

Barangkali rindu adalah cara hati menghormati seseorang yang pernah membuatnya berdebar begitu indah

Ada hal-hal yang gagal dibawa pergi oleh waktu.

Aku baru memahami itu bertahun-tahun setelah perpisahan kami.

Kota telah berubah.

Kedai kopi tempat kami biasa duduk kini memiliki cat baru. Pohon trembesi di ujung jalan tumbuh semakin besar. Wajah-wajah yang dulu akrab satu per satu menghilang dari keseharian.

Namun ada satu hal yang tetap tinggal.

Kenangan tentang dirinya.

Kadang ia datang tanpa diundang.

Saat aku melewati toko parfum.

Saat hujan turun menjelang senja.

Atau saat angin membawa aroma sampo dari seseorang yang berjalan di depanku.

Maka seketika ingatanku kembali kepadanya.

Pada rambut panjang yang bergerak pelan ketika disentuh angin sore.

Pada tawanya yang selalu datang lebih dulu sebelum senyumnya.

Pada caranya memandang langit seolah sedang membaca surat rahasia dari Tuhan.

Aku masih mengingat semuanya.

Bahkan detail-detail kecil yang mungkin sudah lama ia lupakan.


Malam-malam tertentu terasa lebih berbahaya daripada yang lain.

Terutama ketika kota telah tertidur dan hanya suara kipas angin yang menemani kesunyian.

Pada saat-saat seperti itu, kenangan sering datang membawa wajahnya.

Aku teringat bagaimana kami pernah duduk berjam-jam tanpa tujuan.

Bagaimana percakapan sederhana bisa berubah menjadi sesuatu yang begitu berarti.

Bagaimana kehadirannya membuat dunia yang biasa terasa sedikit lebih indah.

Ada kehangatan yang dahulu kami bagi.

Bukan sekadar kedekatan.

Melainkan rasa diterima sepenuhnya.

Seolah untuk beberapa saat aku tidak perlu menjadi siapa-siapa selain diriku sendiri.

Dan mungkin itulah yang paling kurindukan.

Bukan peristiwanya.

Bukan malamnya.

Melainkan perasaan pulang yang pernah kuberoleh darinya.


Dalam psikologi, kenangan emosional sering bertahan lebih lama daripada fakta.

Kita mungkin lupa tanggal.

Lupa percakapan.

Lupa urutan kejadian.

Tetapi kita jarang lupa bagaimana seseorang membuat kita merasa.

Itulah sebabnya aku masih mengingatnya.

Bukan karena ia sempurna.

Melainkan karena di dekatnya aku pernah merasa hidup dengan cara yang berbeda.

Lebih ringan.

Lebih utuh.

Lebih hangat.


Entah di mana ia berada malam ini.

Mungkin sedang menikmati secangkir kopi.

Mungkin sedang memandangi senja dari jendela rumahnya.

Atau mungkin sama sekali tidak memikirkanku lagi.

Aku tidak tahu.

Namun setiap kali langit berubah jingga dan angin sore berembus perlahan, ada bagian kecil dalam diriku yang masih berbisik namanya.

Bukan untuk memintanya kembali.

Bukan untuk mengulang masa lalu.

Hanya untuk mengakui bahwa pernah ada seseorang yang meninggalkan jejak begitu dalam, hingga bahkan waktu pun kesulitan menghapusnya.

Dan mungkin beberapa orang memang diciptakan seperti itu.

Mereka tidak tinggal selamanya.

Tetapi aroma kenangannya tetap hidup, jauh setelah langkah mereka menghilang dari pandangan. ***


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *