Parahu jalor telah lama bersandar, tetapi perjalanan itu masih berlayar dalam ingatan.
Hujan semalaman turun tanpa tergesa-gesa.
Bukan hujan yang datang mengamuk lalu pergi, melainkan hujan kampung yang sabar. Ia mengetuk atap daun sagu, membasahi daun-daun, mengisi parit kecil di tepi jalan, lalu perlahan memenuhi anak-anak sungai yang bermuara ke Sunge Manur.
Pagi harinya, dunia seperti baru saja dilahirkan kembali.
Udara terasa lebih dingin.
Tanah mengeluarkan aroma yang khas, perpaduan lumpur, akar pohon, dan daun-daun yang semalaman direndam air hujan. Kabut tipis masih menggantung di atas permukaan sungai, sementara cahaya matahari berusaha menembus sela-sela pepohonan yang tumbuh rapat di tepian.
Sebagai anak kampung, ia menyukai pagi seperti itu.
Ada sesuatu yang berbeda pada Sunge Manur setelah hujan.
Airnya berubah warna menjadi lebih pekat.
Arusnya sedikit lebih deras.
Ranting-ranting kecil dan daun-daun kering ikut hanyut mengikuti perjalanan air menuju tempat yang tidak diketahui.
Dari beranda rumah, suara sungai terdengar lebih hidup daripada biasanya.
Seolah semalaman hujan telah membangunkannya dari tidur panjang.
Kadang, pada hari-hari seperti itu, beberapa orang kampung bersiap menyusuri sungai menggunakan parahu jalor.
Perahu panjang yang dipahat dari satu batang kayu utuh.
Tidak besar.
Tidak mewah.
Namun cukup kuat untuk membawa mereka melintasi tikungan-tikungan sungai yang berkelok di antara hutan rawa.
Bagi anak-anak, menaiki parahu jalor selalu terasa seperti petualangan.
Ia masih ingat bagaimana tubuh perahu bergoyang lembut ketika mulai bergerak meninggalkan tepian.
Suara air yang membelah lambung kayu.
Aroma sungai yang basah.
Dan percikan-percikan kecil yang sesekali mengenai kaki.
Duduk di dalam parahu itu membuat dunia terasa lebih luas.
Pepohonan di kanan dan kiri sungai berdiri seperti dinding hijau yang tak berujung.
Akar-akar pohon menjulur ke air.
Burung-burung melintas rendah di atas permukaan sungai.
Sesekali terdengar suara monyet dari kejauhan, lalu menghilang kembali di balik rimbunnya dedaunan.
Ada pula burung-burung berkicau dan melompat satu dahan ke dahan lainnya.
Ia hafal betul nama-nama burung itu dalam bahasa ibu-nya.
“Itu oncet, itu amporok, itu dunutn,” ia menunjuk burung-burung itu pakai telunjuknya yang mungil.
Perjalanan menjadi semakin menarik ketika mereka tiba di saka sunge.
Percabangan sungai yang membelah arah perjalanan.
Satu jalur menuju kawasan yang lebih dalam ke hutan.
Jalur lainnya mengarah ke daerah ladang dan kebun milik warga.
Bagi anak-anak, saka sunge selalu mengandung misteri.
Ke mana sungai yang satu berakhir?
Apa yang ada di balik tikungan berikutnya?
Apakah ada kampung lain?
Apakah ada tempat yang belum pernah dilihat sebelumnya?
Pertanyaan-pertanyaan itu membuat setiap perjalanan terasa istimewa.
Kadang mereka memilih jalur kiri.
Kadang jalur kanan.
Kadang hanya mengikuti saran orang yang paling tua di dalam perahu.
Namun apa pun arahnya, selalu ada cerita yang dibawa pulang.
Salah satu yang paling disukainya adalah ketika mereka pergi mencari buah ubah.
Pohon ubah tumbuh di kawasan rawa yang tidak mudah dijangkau.
Kayunya terkenal keras dan kuat.
Akar-akarnya mencengkeram tanah berlumpur yang selalu basah.
Sementara buahnya menjadi buruan anak-anak kampung ketika musimnya tiba.
Perjalanan menuju pohon-pohon ubah tidak pernah mudah.
Parahu jalor harus menyelinap melewati jalur-jalur air yang lebih sempit.
Kadang cabang-cabang pohon rendah memaksa mereka menundukkan kepala.
Kadang lumpur membuat perjalanan terasa lebih lambat.
Namun tidak seorang pun mengeluh.
Karena petualangan adalah bagian dari kegembiraan itu sendiri.
Ketika pohon ubah akhirnya ditemukan, anak-anak segera bersorak.
Mata mereka berbinar seperti menemukan harta karun.
Beberapa memungut buah yang jatuh ke air.
Yang lain menunggu buah yang dijatuhkan dari atas pohon.
Tak terlalu tinggi. Setinggi pohon jambu di halaman belakang rumah nenek.
Tawa mereka memecah kesunyian hutan rawa.
Lalu bergema di antara batang-batang pohon yang telah berdiri di sana jauh sebelum mereka lahir.
Hari itu biasanya berakhir dengan pakaian yang kotor oleh lumpur.
Tangan yang lengket oleh getah.
Dan wajah yang dipenuhi senyum.
Tidak ada foto yang diambil.
Tidak ada video yang direkam.
Namun kenangan tentang hari itu tersimpan lebih kuat daripada apa pun yang dapat disimpan oleh sebuah telepon pintar.
Kini, bertahun-tahun kemudian, anak perempuan itu telah tinggal jauh dari kampung.
Jalan-jalan kota menggantikan jalan setapak.
Gedung-gedung menggantikan pepohonan.
Dan suara kendaraan menggantikan suara air sungai.
Namun setiap kali hujan turun sepanjang malam, ingatannya sering kembali ke tempat yang sama.
Ke Sunge Manur.
Ke kabut pagi yang menggantung di atas air.
Ke parahu jalor yang bergerak perlahan membelah sungai.
Ke saka sunge yang selalu menawarkan rasa ingin tahu.
Ke hutan rawa tempat pohon-pohon ubah tumbuh dalam diam.
Dan ke masa kecil yang sederhana, ketika kebahagiaan dapat ditemukan hanya dengan menyusuri sungai setelah hujan.
Mungkin sungai itu kini tidak lagi persis sama.
Sebagian pohon mungkin telah tumbang.
Sebagian tepian mungkin telah berubah.
Sebagian orang yang dulu menemaninya mungkin telah pergi untuk selamanya.
Namun di dalam ingatan, Sunge Manur tetap mengalir seperti dahulu.
Jernih.
Tenang.
Dan selalu membawa pulang seorang anak kampung kepada kenangan yang paling dicintainya. ***
Leave a Reply