Misa Pagi di Trier Dom: Batu Tua, Wajah-Wajah Dunia, dan Keheningan yang Sama

Pagi itu kami berangkat dari kawasan kota kecil Lüxem — mungkin sejenis kampung atau desa ya — dekat kota Wittlich menuju kota tua Trier.

Menantu saya menyetir mobil, sementara kami sekeluarga duduk menikmati perjalanan yang tenang di pagi hari. Tujuan kami sederhana tetapi bermakna: mengikuti misa di Trier Cathedral (Cathedral of Saint Peter) atau Trier Dom, salah satu katedral tertua di Eropa.

Di tengah perjalanan, putri sulung saya bertanya pelan kepada suaminya:

“Di sini sopan tidak pakai baju kaos?”

Menantu saya menjawab dengan santai:

“Di Jerman itu biasa saja. Yang penting hati dan niatmu, bukan penampilanmu.”

Jawaban sederhana itu membuat suasana kami lebih ringan. Ada perbedaan budaya, tetapi juga ada rasa diterima yang membuat kami tidak tegang.

Ketika kami masuk ke dalam katedral, udara langsung berubah.

Dingin.

Temaram.

Dan sunyi dalam cara yang khas gereja-gereja batu tua di Eropa.

Dinding tebal dari batu alam membuat ruangan terasa lebih sejuk, bahkan ketika orang-orang di dalamnya cukup banyak.

Misa pagi itu tidak penuh sesak seperti di banyak gereja di Indonesia, tetapi juga tidak sepi. Ada cukup banyak umat yang hadir.

Yang menarik, kami melihat komposisi yang beragam.

Sebagian besar adalah pasangan usia setengah baya, opa dan oma yang duduk tenang, mengikuti misa dengan khusyuk.

Ada juga orang-orang muda, meski jumlahnya tidak sebanyak generasi yang lebih tua.

Namun yang paling terasa justru keberagaman wajah.

Di dalam ruang yang sama, kami melihat wajah-wajah Eropa lokal, tetapi juga banyak wajah Asia, Afrika, bahkan Timur Tengah dengan latar budaya Arab.

Ada sesuatu yang sederhana namun kuat di situ: iman tidak lagi hanya milik satu wajah atau satu bangsa.

Ia hadir dalam banyak bahasa dan banyak rupa.

Di Balik Anggapan tentang Generasi Muda

Satu hal yang cukup menarik bagi saya adalah kesan yang sering kita dengar bahwa “orang muda di Eropa meninggalkan gereja.”

Namun pengalaman singkat di Trier Dom memberi gambaran yang lebih nuansa.

Saya sempat berbincang ringan dengan beberapa orang.

Mereka bercerita bahwa dalam keluarga mereka, meskipun tidak semua anak menjadi sangat aktif di gereja, tradisi tetap dijaga.

Anak-anak tetap dibaptis.

Kemudian menjalani sakramen krisma bagi yang Katolik.

Jika sudah masa-nya menikah, mereka juga melaksanakan dengan sakral di gereja bagi pemeluk Kristen. Meskipun ada juga yang memilih tidak atau belum melaksanakan pemberkatan pernikahan di gereja.

Terkait hal ini saya rasanya maklum. Sebab bagi mereka yang diakui secara hukum oleh negara adalah menikah di kantor Catatan Sipil. Dampaknya banyak, terkait dengan hak dan kewajiban pasangan suami istri, pajak, dan lainnya.

Berbeda dengan Indonesia, seseorang yang non-muslim diakui atau boleh mencatatkan pernikahan di Catatan Sipil jika sudah melakukan pernikahan secara agama. Di Jerman, dan mungkin sebagai besar Eropa, ketentuan itu tidak berlaku.

Kembali ke soal aktivitas beribadah, biasanya semakin berumur baru semakin rajin ke gereja.

Tahapan selanjutnya, ketika meninggal ada misa atau ibadah. Apalagi jika mereka masih membayar pajak gereja.

Dan bagi keluarga Kristen Protestan (evangelis), tradisi keluarga juga tetap dijalankan dengan cara yang kurang lebih serupa—meski bentuk keterlibatannya bisa berbeda-beda.

Artinya, meskipun ekspresi religius generasi muda mungkin tidak selalu sama seperti generasi sebelumnya, akar tradisinya tidak sepenuhnya hilang.

Lilin di Depan Bunda Maria

Setelah misa selesai, kami berjalan ke sisi dalam katedral.

Di sana terdapat patung Bunda Maria.

Seperti banyak pengunjung lain, kami memasukkan uang logam sebagai derma, lalu menyalakan lilin satu per satu.

Api kecil itu menyala pelan, berdiri di antara ratusan lilin lain yang sudah lebih dulu hidup.

Istri saya tampak sangat tenang, bahkan bisa dibilang sangat bahagia dalam cara yang sulit dijelaskan—seperti ada rasa syukur yang tidak perlu diucapkan.

Ia berdiri cukup lama di sana, sebelum akhirnya kembali bergabung dengan kami.

Gereja Batu dan Suasana yang Berbeda

Gereja-gereja tua di Jerman memiliki karakter yang khas.

Batu alam yang tebal membuat ruangan terasa dingin dan temaram.

Cahaya yang masuk tidak pernah terlalu terang.

Semua terasa lebih redup, lebih pelan, lebih dalam.

Namun justru di situlah kekuatannya.

Tempat ini tidak berusaha menjadi modern.

Ia tetap menjadi dirinya sendiri—ruang doa yang dibentuk oleh sejarah panjang, dan tetap hidup sampai hari ini.

Ketika kami keluar dari katedral, dunia luar kembali bergerak seperti biasa.

Kota Trier kembali ramai.

Orang-orang berjalan cepat.

Kehidupan sehari-hari kembali mengambil alih.

Namun kami membawa sesuatu yang berbeda.

Bukan hanya pengalaman misa di sebuah katedral tua.

Tetapi juga kesadaran kecil bahwa di dalam ruang yang sama, manusia dari berbagai bangsa, usia, dan latar belakang masih bisa duduk bersama dalam diam yang sama.

Dan mungkin, di dunia yang semakin cepat ini, keheningan seperti itu justru menjadi hal yang paling jarang—dan paling berharga. ***


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *