Ada malam yang tubuhnya telah pergi, tetapi hangatnya masih tinggal bertahun-tahun di dalam ingatan.
Hujan turun tipis malam itu.
Kota kecil kami basah oleh cahaya lampu jalan yang memantul di aspal. Kedai-kedai kopi mulai tutup satu per satu. Orang-orang pulang membawa payung dan sisa percakapan hangat dari meja-meja kayu yang sejak sore dipenuhi tawa.
Sementara itu, di sebuah kamar kecil yang hanya diterangi lampu temaram, aku masih mengingat caranya menatapku.
Perempuan penikmat senja itu.
Rambutnya sedikit lembap oleh hujan. Aroma tubuhnya bercampur wangi sabun dan udara malam. Ia duduk di tepi ranjang sambil tersenyum kecil, seolah tahu bahwa setelah malam itu, kami mungkin akan membawa rindu yang terlalu panjang.
Aku mendekat perlahan.
Jemariku menyibakkan rambut yang jatuh di wajahnya.
Ia memejamkan mata.
Dan dunia mendadak terasa begitu sunyi.
Di luar sana hujan masih turun, tetapi di dalam ruangan kecil itu, waktu seperti berhenti bergerak.
Aku masih mengingat hangat kulitnya.
Cara napasnya berubah perlahan ketika jarak di antara kami menghilang.
Cara ia menggenggam lenganku seolah takut malam segera berakhir.
Tidak ada kata-kata besar.
Tidak ada janji.
Hanya dua manusia yang untuk sesaat saling menemukan tempat pulang di tubuh dan pelukan masing-masing.
Malam berjalan lambat.
Lampu kota memudar di balik tirai.
Dan kami tenggelam dalam keheningan yang anehnya terasa begitu indah.
Aku mengingat setiap detail kecil dari malam itu.
Lengkung tubuhnya dalam cahaya redup.
Rambutnya yang jatuh di dadaku.
Desah napas yang terdengar seperti musik paling pelan di dunia.
Serta cara ia menatapku setelah semuanya hening—tatapan yang tidak meminta masa depan, tetapi cukup dalam untuk tinggal bertahun-tahun di kepala seseorang.
Waktu berlalu.
Musim berganti.
Hidup kembali berjalan seperti biasa.
Namun beberapa malam tidak benar-benar selesai.
Mereka tinggal di dalam ingatan seperti lagu lama yang terus diputar diam-diam oleh hati.
Kadang ketika hujan turun larut malam, aku masih teringat dirinya.
Perempuan dengan mata sendu dan senyum hangat itu.
Aku teringat bagaimana kami pernah saling mencintai tanpa banyak suara.
Bagaimana tubuh dan kesunyian pernah berbicara lebih jujur daripada kata-kata.
Dan sampai hari ini, ketika langit berubah jingga menjelang malam, ada bagian kecil dalam diriku yang masih merindukan malam itu.
Malam yang tidak pernah bisa kami ceritakan kepada siapa pun.
Tetapi diam-diam tetap hidup di dalam dada kami berdua. ***
Leave a Reply