Porta Nigra: Berdiri di Depan Dua Ribu Tahun Sejarah di Trier

Manusia datang dan pergi. Generasi berganti generasi. Namun Porta Nigra tetap berdiri, mengingatkan bahwa ada hal-hal yang mampu melampaui umur kita.

Ada banyak bangunan tua yang kami lihat selama berada di Jerman.

Katedral.

Kastel.

Rumah-rumah setengah kayu yang cantik.

Jembatan-jembatan tua yang membentang di atas sungai.

Namun ada satu bangunan yang benar-benar membuat saya berhenti cukup lama hanya untuk memandanginya.

Namanya Porta Nigra.

Terletak di kota Trier, bangunan raksasa berwarna gelap itu berdiri kokoh di tengah lalu-lalang manusia modern yang datang dari berbagai penjuru dunia.

Ketika pertama kali melihatnya dari kejauhan, saya sempat terdiam.

Bangunan itu tidak terlihat seperti gerbang biasa.

Ia lebih mirip benteng.

Atau potongan sejarah yang tiba-tiba tertinggal di tengah kota modern.

Batu-batu raksasa berwarna kehitaman tersusun bertingkat dengan jendela-jendela besar yang menganga seperti mata masa lalu yang masih mengawasi zaman.

Di sekelilingnya, wisatawan hilir mudik tanpa henti.

Saya melihat begitu banyak wajah.

Wajah-wajah Eropa dengan rambut pirang dan mata biru.

Wajah-wajah Asia yang sibuk mengambil foto.

Keluarga-keluarga dari Timur Tengah.

Rombongan pelajar.

Pasangan lanjut usia.

Anak-anak kecil yang berlari di pelataran batu.

Bahasa yang terdengar pun bermacam-macam.

Bahasa Jerman.

Bahasa Inggris.

Bahasa Prancis.

Bahasa yang saya sendiri tidak tahu berasal dari negara mana.

Semua bercampur menjadi satu.

Dan di tengah keramaian itu, Porta Nigra tetap berdiri tenang seperti seseorang yang sudah terlalu tua untuk terkejut oleh apa pun.

Belakangan saya baru memahami mengapa bangunan ini begitu istimewa.

Porta Nigra adalah gerbang kota Romawi terbesar yang masih bertahan di sebelah utara Pegunungan Alpen.

Bangunan ini dibangun sekitar tahun 170 Masehi ketika Trier masih menjadi salah satu kota penting dalam Kekaisaran Romawi.

Artinya, gerbang ini telah berdiri hampir dua ribu tahun.

Dua ribu tahun.

Angka yang sulit dibayangkan.

Ketika saya mencoba menghitungnya dalam kepala, saya merasa kecil.

Sangat kecil.

Ketika nenek moyang saya di pedalaman Kalimantan hidup dalam dunia yang sama sekali berbeda, batu-batu Porta Nigra mungkin sudah berdiri di tempat yang sama.

Ketika kerajaan-kerajaan besar lahir dan runtuh.

Ketika perang-perang Eropa berlangsung.

Ketika revolusi datang dan pergi.

Ketika teknologi mengubah dunia.

Gerbang itu tetap ada.

Tetap berdiri.

Tetap menjadi saksi.

Saya berjalan perlahan mendekati dindingnya.

Batu-batu besar yang menyusun Porta Nigra tampak kasar dan berat.

Sulit membayangkan bagaimana orang-orang Romawi mengangkut dan menyusun batu sebesar itu tanpa alat berat modern.

Namun justru itulah yang membuat saya semakin kagum.

Kadang manusia modern terlalu bangga dengan kemajuan teknologi.

Padahal ribuan tahun lalu, manusia juga sudah mampu menciptakan karya yang membuat generasi setelahnya terus terpesona.

Di sekitar Porta Nigra terdapat kafe-kafe kecil, toko suvenir, dan jalan-jalan kota yang ramai.

Kereta wisata kecil sesekali melintas membawa pengunjung berkeliling Trier.

Para turis sibuk mengangkat kamera.

Sebagian berfoto dengan latar gerbang kuno itu.

Sebagian hanya duduk menikmati suasana.

Saya termasuk golongan kedua.

Saya lebih suka duduk dan memperhatikan.

Melihat bagaimana manusia datang dan pergi.

Sementara bangunan tua itu tetap berada di tempatnya.

Ada sesuatu yang menenangkan dari menyaksikan bangunan yang sudah bertahan begitu lama.

Seolah-olah ia mengingatkan bahwa tidak semua hal harus bergerak cepat.

Tidak semua hal harus berubah.

Di salah satu sudut pelataran, saya melihat seorang pemain musik jalanan memainkan lagu dengan alat musik tiup.

Nada-nadanya mengalun pelan di antara keramaian.

Merpati sesekali hinggap di batu-batu tua.

Anak-anak kecil berlari mengejar burung-burung itu.

Wisatawan terus berdatangan.

Dan matahari musim panas perlahan menerangi permukaan batu Porta Nigra yang gelap.

Saya memandangi semuanya cukup lama.

Dan entah mengapa, saya merasa bangunan ini bukan hanya tentang Romawi.

Bukan hanya tentang sejarah Eropa.

Tetapi tentang waktu.

Tentang bagaimana manusia datang silih berganti.

Generasi berganti generasi.

Namun beberapa hal tetap bertahan lebih lama daripada usia kita.

Ketika akhirnya meninggalkan Porta Nigra sore itu, saya sempat menoleh sekali lagi.

Bangunan itu masih berdiri dengan tenang.

Dikelilingi wisatawan dari berbagai bangsa.

Difoto ribuan kali setiap hari.

Namun tetap menyimpan kesunyian sejarah yang tidak bisa sepenuhnya ditangkap kamera.

Mungkin itulah sebabnya saya begitu terpesona.

Karena di depan Porta Nigra, saya tidak hanya melihat bangunan tua.

Saya seperti sedang melihat dua ribu tahun waktu yang masih berdiri tegak di tengah dunia modern. ***

Di tengah dunia yang terus berubah, Porta Nigra berdiri tenang. Mungkin itulah alasan saya begitu terpesona olehnya


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *