Brother Albertus Yustinus Imas, Dominikan Awam, dan Ketajaman Analisa di Secangkir Kopi

Spread the love

Ada orang-orang yang kita kenali lewat deretan gelar akademik, tebalnya publikasi jurnal, atau reputasi internasionalnya terlebih dahulu.

Namun, di blog ini, saya selalu percaya bahwa cerita terbaik adalah tentang bagaimana kita mengenal manusia di balik semua pencapaian mentereng tersebut.

Bagi saya, salah satu cerita itu mengalir dari sosok Albertus Yustinus Imas.

Jika Anda berselancar di dunia akademis atau riset perbatasan Borneo, nama Albertus Yustinus Imas adalah jaminan mutu. Pria kelahiran 1969 ini adalah peneliti senior antropologi linguistik yang risetnya telah melanglang buana.

Ia pernah membedah dikotomi Dayak-Melayu di Kalimantan Barat, hingga meraih API Fellowship dari Universitas Kyoto untuk meneliti identitas suku Dayak Selako di Lundu, Sarawak.

Bersama Mira S. Lubis, ia bahkan menelurkan monograf penting berjudul Truly Asia: a short explanation of rural and urban life of Dayak in Sarawak pada tahun 2017.

Namun, mari kita lipat sejenak catatan kaki ilmiah dan jurnal-jurnal tebal itu.

Biarkan saya membawa Anda ke sebuah sudut warung kopi di Pontianak, tempat di mana saya sering bersua dengannya.

Obrolan Santai yang Berbobot

Bagi saya, Bang Albertus Yustinus Imas — tapi saya kali ini akan memanggilnya Brother Albertus karena alasan Ordo Dominikan…hahaha — adalah teman minum kopi yang luar biasa menyenangkan.

Pertemuan kami sesekali di meja kopi sama sekali tidak melulu diisi oleh perdebatan teori sosiologi yang berat atau dinamika geopolitik perbatasan yang kaku.

Sering kali, kami justru terjebak dalam obrolan santai, tertawa lepas membahas hal-hal remeh-temeh sehari-hari.

Di sinilah letak keunikan seorang Albertus Yustinus Imas. Ia adalah sosok yang sangat humble dan bersahaja. Tidak ada sedikit pun kesan menggurui, meskipun isi kepalanya penuh dengan data lapangan.

Namun, justru dari balik kesederhanaan penampilannya itu, kejeniusannya kerap menyelinap tanpa permisi.

Saat kami membicarakan hal yang paling kasual sekalipun, analisanya selalu keluar dengan sangat tajam. Ia memiliki kemampuan langka untuk membedah fenomena sederhana di sekitar kita menjadi sebuah sudut pandang baru yang segar dan mendalam. Mendengarkan dia berbicara dengan gaya membumi itu membuat hal rumit terasa begitu jernih.

Bertemu di Chapter Jordan of Saxony

Intensitas pertemuan kami semakin menemukan ritme dan maknanya yang dalam akhir-akhir ini.

Kami tidak lagi sekadar dipertemukan oleh lingkaran pertemanan santai, melainkan oleh sebuah panggilan spiritual yang sama. Kami berdua kini sama-sama berproses sebagai anggota Dominikan Awam (Ordo Praedicatorum / OP) di Chapter Jordan of Saxony, Pontianak.

Sebagai sesama saudara awam dalam ordo yang menekankan pilar Veritas (Kebenaran) dan studi ini, saya melihat bagaimana spiritualitas Santo Dominikus hidup dalam keseharian Albertus Yustinus Imas.

Karakter utamanya yang rendah hati berkelindan indah dengan ketajaman berpikirnya sebagai seorang intelektual. Di dalam komunitas, ia tetaplah Albertus Yustinus Imas yang sama—pribadi yang hangat, pendengar yang baik, namun selalu mampu memberikan refleksi spiritual yang bernas saat kami berdiskusi.

Dari seorang Albertus Yustinus Imas, saya belajar satu hal berharga: menjadi seorang peneliti senior atau intelektual lintas batas tidak harus membuat kita berjarak dengan realitas sekitar. Justru dari kerendahan hati untuk mendengarkan hal-hal kecil di sekitar meja kopi, sebuah analisa yang jujur dan tajam itu dilahirkan.

Secangkir kopi berikutnya mungkin sudah menanti kami di sudut Pontianak. Dan saya tahu, obrolan dengan Saudara Imas akan selalu menjadi cerita yang berharga untuk dituliskan kembali. ***


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *