Setiap orang punya cerita. Ada yang jalannya berliku, ada yang tampak lurus sejak awal. Namun pada akhirnya, waktu selalu memperlihatkan bagaimana Tuhan bekerja dalam kehidupan seseorang.
Bagi umat Katolik di Pontianak, nama RD Alexius Alex Mingkar tentu bukan sosok yang asing. Selama bertahun-tahun ia melayani umat di Paroki Katedral Santo Yosef Pontianak. Wajahnya akrab di altar, suaranya dikenal lewat homili-homili yang sederhana namun menyentuh kehidupan sehari-hari umat.
Kini, imam projo yang dikenal tenang dan bersahaja itu memasuki babak baru dalam pelayanannya. Berdasarkan keputusan Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, Pastor Alex dipercaya mengemban tugas sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak.
Bagi saya, kabar ini bukan sekadar berita tentang pergantian jabatan dalam struktur Gereja. Ada kenangan panjang yang ikut menyertainya. Pastor Alex adalah teman satu angkatan saya ketika kami sama-sama menempuh pendidikan di SMA Santo Paulus Nyarumkop, Singkawang.
Kenangan dari Nyarumkop
Ketika mendengar namanya diumumkan sebagai Vikaris Jenderal, ingatan saya langsung melayang ke masa-masa sekolah di SMA Nyarumkop.
Saat itu Alex berada di kelas A1, jurusan IPA. Saya sendiri berada di kelas A3, jurusan IPS. Meski berbeda kelas, kami menjalani kehidupan yang sama sebagai penghuni asrama seminari yang terkenal dengan disiplin dan ritme hidupnya yang teratur.
Pagi-pagi buta kami sudah bangun untuk memulai aktivitas. Hari-hari diisi dengan belajar, doa, ibadah, olahraga, dan berbagai kegiatan asrama yang membentuk karakter kami.
Sejak masa sekolah, Alex dikenal sebagai pribadi yang cerdas, tenang, dan disiplin. Ia tidak banyak bicara, tidak suka mencari perhatian, dan jauh dari kesan anak yang suka membuat masalah. Jika banyak remaja seusianya masih mencari jati diri dengan berbagai tingkah, Alex justru terlihat nyaman menjalani hidup seminari dengan segala aturan dan kesederhanaannya.
Melihat ke belakang, mungkin benih panggilan itu memang sudah tumbuh sejak masa-masa tersebut.
Dari seluruh teman seangkatan kami, hanya dua orang yang akhirnya sampai pada tahbisan imamat, yakni Alex Mingkar dan Fidelis Sajimin.
Namun hidup selalu menyimpan misterinya sendiri.
Pada pertengahan tahun 2025, sahabat kami RD Fidelis Sajimin dipanggil pulang ke rumah Bapa. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi kami yang pernah tumbuh dan belajar bersama di Nyarumkop.
Sejak saat itu, Alex menjadi satu-satunya imam dari angkatan kami yang terus melanjutkan pelayanan pastoral di tanah Kalimantan.
Persahabatan yang Tetap Terjaga
Salah satu hal yang paling saya kagumi dari Pastor Alex adalah kemampuannya menjaga persahabatan.
Tahbisan imamat, jabatan, dan berbagai tanggung jawab pelayanan tidak pernah menciptakan jarak dengan teman-teman lamanya. Ia tetap menjadi pribadi yang sama seperti yang saya kenal puluhan tahun lalu.
Beberapa kali kami masih sempat berkumpul bersama, biasanya di rumah Yosafat Aus, sahabat satu angkatan yang menetap di Pontianak. Di sana kami berbincang santai, mengenang masa-masa sekolah, bertukar kabar, dan menikmati secangkir kopi.
Dalam suasana seperti itu, status pastor dan awam seolah melebur begitu saja. Yang tersisa hanyalah persahabatan yang telah bertahan melewati puluhan tahun perjalanan hidup.
Kadang-kadang pertemuan itu berlanjut dengan karaoke sederhana. Di situlah muncul sisi lain Pastor Alex yang mungkin tidak banyak diketahui umat.
Salah satu lagu favorit yang hampir selalu ia nyanyikan adalah lagu lawas “Bis Kota”. Lagu itu seperti menjadi pengingat bahwa di balik jubah imamat dan berbagai tanggung jawab gerejawi, ia tetap seorang sahabat yang hangat, sederhana, dan menikmati kebersamaan.
Bagi saya, justru sikap seperti itulah yang membuat pelayanannya terasa dekat dengan umat.
Gembala yang Membumi
Umat Katedral Santo Yosef Pontianak tentu mengenal gaya homili Pastor Alex.
Ia tidak berbicara dengan bahasa yang rumit atau teologis secara berlebihan. Homili-homilinya selalu berangkat dari kehidupan nyata yang dialami umat sehari-hari.
Ia mampu menghubungkan Injil dengan persoalan keluarga, pendidikan anak, tantangan ekonomi, hingga dinamika sosial yang terjadi di tengah masyarakat.
Karena itu, banyak umat merasa dekat dengan cara pewartaannya.
Pastor Alex tidak berbicara dari menara gading. Ia hadir di tengah kehidupan umat yang dilayaninya. Ia memahami bahwa Gereja bukan hanya tentang liturgi dan administrasi, tetapi juga tentang mendengarkan, memahami, dan berjalan bersama umat.
Mungkin karena itulah banyak orang merasa nyaman berdiskusi dengannya, baik mengenai persoalan iman maupun kehidupan sehari-hari.
Menuju Jantung Kuria Keuskupan
Perjalanan pelayanan Pastor Alex kini memasuki babak yang baru.
Pada Senin, 15 Juni 2026, Administrator Apostolik Keuskupan Agung Pontianak, Mgr. Samuel Oton Sidin, OFMCap, secara resmi mengukuhkan Pastor Alex Mingkar, Pr sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak.
Pengukuhan tersebut berlangsung di Kapel 12 Rasul, Gedung Keuskupan Agung Pontianak, dalam suasana yang sederhana namun penuh makna.
Dalam struktur Gereja Katolik, jabatan Vikaris Jenderal memiliki peran yang sangat penting. Berdasarkan Kitab Hukum Kanonik, Vikaris Jenderal adalah pembantu utama uskup dalam menjalankan pemerintahan keuskupan dan memiliki kewenangan eksekutif yang luas dalam urusan pastoral maupun administrasi.
Dengan pengalaman pelayanan yang panjang, kemampuan pastoral yang teruji, serta kedewasaan yang dimilikinya, Pastor Alex kini dipercaya membantu memimpin perjalanan Keuskupan Agung Pontianak pada masa transisi yang penting.
Bagi saya yang mengenalnya sejak masa sekolah, momen pengukuhan itu terasa istimewa.
Di Kapel 12 Rasul siang itu, saya seperti melihat perjalanan panjang yang dimulai dari bangku-bangku kelas di Nyarumkop puluhan tahun lalu menemukan salah satu titik pentingnya. Tuhan menuntun dengan cara-Nya sendiri, sering kali jauh melampaui apa yang pernah kami bayangkan ketika masih menjadi anak-anak asrama.
Dulu saya mengenalnya sebagai teman sekolah yang tenang dan disiplin. Hari ini saya melihatnya dipercaya mengemban tanggung jawab besar untuk membantu mengelola kehidupan Gereja di Keuskupan Agung Pontianak.
Sebuah Doa untuk Sahabat Lama
Sebagai teman seangkatan, tentu ada rasa bangga yang sulit disembunyikan.
Namun lebih dari itu, ada doa yang terus menyertai.
Jabatan boleh berubah. Tanggung jawab boleh bertambah besar. Namun saya berharap Pastor Alex tetap menjadi pribadi yang selama ini kami kenal: sederhana, tenang, rendah hati, dan dekat dengan umat.
Gereja membutuhkan pemimpin yang mampu mendengar, memahami, dan hadir di tengah kehidupan umat. Dan saya percaya, pengalaman panjang yang ditempanya sejak masa seminari hingga hari ini telah mempersiapkannya untuk tugas tersebut.
Selamat mengemban tugas baru sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak, Pastor Alex Mingkar, Pr.
Tetaplah menjadi gembala yang membumi dan dekat dengan umat. Dan semoga di sela-sela kesibukan yang semakin padat, masih ada waktu untuk menikmati secangkir kopi bersama sahabat-sahabat lama, sambil sesekali menyanyikan “Bis Kota” yang selalu menghidupkan kenangan. ***
