Menjemput Cerita Bersama Bang Sahat: dari Ruang Liputan ke Masa Purnatugas yang Teduh

Spread the love

Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.

☕ Traktir Kopi di Trakteer

Setiap orang punya cerita. Ada yang ceritanya berhenti di halaman-halaman koran yang kini mulai menguning dimakan usia.

Ada pula yang terus bertumbuh, mengikuti perjalanan hidup pemiliknya, menjelma menjadi kebun yang menghijau, keluarga yang berbahagia, atau pelayanan yang diam-diam menjadi berkat bagi banyak orang.

Siang itu saya bertemu kembali dengan Bang Sahat Oloan Saragih.

Sudah cukup lama kami tidak duduk bersama. Waktu membawa kami ke jalan masing-masing.

Namun secangkir kopi di Pontianak selalu punya kemampuan ajaib: memperlambat waktu dan membuka kembali laci-laci kenangan yang lama tersimpan.

Percakapan kami segera membawa saya kembali ke awal tahun 2000-an, masa ketika saya masih menjadi wartawan muda di Harian Equator.

Saat itu, “kantor” kami sesungguhnya bukan hanya ruang redaksi. Kantor kami adalah halaman DPRD Kalimantan Barat, teras Kantor Gubernur, ruang tunggu rapat, lorong-lorong birokrasi, hingga warung kopi tempat berita sering lahir sebelum akhirnya menjadi tajuk utama keesokan harinya.

Di lingkungan itulah saya mengenal Bang Sahat.

Ia adalah koresponden Suara Pembaruan yang selalu tampak santai. Murah senyum. Gemar bercanda. Namun di balik pembawaannya yang ringan, ia memiliki disiplin kerja yang luar biasa.

Saat agenda pemerintahan sedang padat-padatnya, kami sering pulang larut malam. Kadang berita baru selesai ditulis ketika sebagian besar warga Pontianak sudah terlelap.

Dari sekian banyak kenangan, ada satu cerita yang selalu membuat saya tersenyum ketika mengingatnya.

Suatu ketika Menteri Pertanian saat itu, Bungaran Saragih, melakukan kunjungan kerja ke Sungai Kakap.

Sebelum rombongan menteri tiba, Bang Sahat berseloroh kepada kami.

“Bungaran Saragih itu bacanya Suara Pembaruan,” katanya dengan nada yang sangat meyakinkan.

Kami menganggapnya sekadar candaan sesama wartawan.

Namun ketika sang menteri tiba, perhatian kami justru lebih dulu tertuju pada penampilannya yang khas. Topi koboi yang dikenakannya membuat sosok Bungaran Saragih mudah dikenali dari kejauhan.

Rasa penasaran membuat beberapa wartawan mengintip ke dalam mobil dinas yang digunakannya. Dan di situlah kami menemukan sesuatu yang membuat kami tertawa sekaligus takjub.

Di atas dashboard mobil tergeletak koran Suara Pembaruan.

Bang Sahat benar.

Kadang seorang wartawan memang mengenal pembacanya lebih baik daripada yang dibayangkan orang lain.

Sebagai jurnalis, Bang Sahat bukan hanya peliput peristiwa. Ia termasuk wartawan yang serius mengawal isu-isu penting Kalimantan Barat.

Dari persoalan PETI yang mencemari Sungai Kapuas, kebakaran hutan dan lahan, hingga berbagai persoalan sosial yang kala itu menjadi perhatian nasional. Tulisan-tulisannya juga kerap menembus media nasional dan internasional, membawa suara Kalimantan Barat ke ruang publik yang lebih luas.

Tetapi yang saya ingat bukan hanya tulisan-tulisannya.

Yang saya ingat adalah ketekunannya.

Sebab pada akhirnya, usia akan membuat orang melupakan banyak berita. Namun orang akan selalu mengingat karakter dan integritas mereka yang menulis berita itu.

Hari ini Bang Sahat telah meninggalkan rutinitas dunia jurnalistik. Suara Pembaruan sendiri sudah lama berhenti terbit. Zaman berubah. Media berubah. Cara orang membaca berita juga berubah.

Namun hidup terus berjalan.

Kini Bang Sahat menikmati masa yang lebih tenang. Ia mengelola kebun sawitnya di Rasau Jaya di Kabupaten Kubu Raya dan Anjongan di Kabupaten Mempawah. Ia juga mengembangkan usaha yang dirintisnya dengan sabar selama bertahun-tahun.

Yang paling menarik perhatian saya justru bukan keberhasilan usahanya.

Mata seorang ayah selalu memiliki cahaya yang berbeda ketika berbicara tentang anak-anaknya.

Cahaya itu saya lihat pada Bang Sahat.

Dengan penuh kebanggaan, ia bercerita tentang putra-putranya. Yang pertama mengikuti sekolah kedinasan di bawah Kementerian Perhubungan dan kini berada di Papua.

Sementara putra keduanya sedang menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Udayana di Bali.

Saya lalu menyampaikan sebuah pemikiran kepada Bang Sahat.

“Bagi saya, Bang, salah satu titik keberhasilan terbesar seorang ayah dan ibu bukanlah ketika berhasil mengumpulkan banyak harta, meraih jabatan tinggi, atau memperoleh berbagai penghargaan. Semua itu baik, tetapi bukan yang paling utama. Salah satu puncak keberhasilan orang tua adalah ketika mampu mengantarkan anak-anaknya membuka lembaran hidup yang lebih baik.”

Bang Sahat tersenyum.

Saya sungguh percaya pada kalimat itu.

Sebab pada akhirnya, rumah yang megah bisa lapuk dimakan usia. Jabatan akan berakhir ketika masa tugas selesai. Harta benda bisa datang dan pergi. Namun ketika seorang anak berhasil menemukan jalannya, memperoleh pendidikan yang baik, tumbuh menjadi pribadi yang bertanggung jawab, dan mampu berdiri di atas kaki sendiri, di situlah ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan angka.

Karena itu saya mengaku kagum kepada Bang Sahat.

Bukan semata karena usaha yang berhasil ia bangun atau berbagai pencapaian yang diraihnya setelah pensiun dari dunia jurnalistik. Yang lebih membuat saya hormat adalah keberhasilannya mengantarkan anak-anaknya menuju masa depan yang cerah.

Sebagai seorang ayah, itulah pencapaian yang menurut saya sangat membanggakan.

Entah mengapa, ketika mendengarkan kisahnya, saya teringat pada satu hal yang selama ini melekat pada dirinya: kesetiaannya melayani gereja.

Selama bertahun-tahun Bang Sahat dikenal sebagai organis di HKBP. Pelayanan yang mungkin tampak sederhana. Tidak menghasilkan kekayaan. Tidak pula menghadirkan sorotan publik.

Namun saya percaya, tidak ada kebaikan yang benar-benar hilang.

Tidak ada pelayanan yang sia-sia.

Mungkin Tuhan menyimpan semuanya dengan cara-Nya sendiri.

Saya bahkan sempat berkata kepadanya, “Bang, saya percaya semua ini juga buah dari kebaikan dan pelayanan yang Abang lakukan selama ini. Kesetiaan melayani Tuhan, membantu sesama, dan mengiringi ibadah dengan musik di gereja mungkin tidak pernah dihitung manusia. Tetapi Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk memberkati.”

Bang Sahat hanya tersenyum.

Senyum yang tenang. Senyum seseorang yang memahami bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan dengan kata-kata.

Ketika kami hendak berpisah, saya memandang wajah senior saya itu. Wajah yang kini tampak lebih teduh dibanding masa-masa ketika kami sama-sama berlari mengejar narasumber dan tenggat berita.

Saya merasa sedang melihat sebuah pelajaran hidup yang sederhana namun penting: bahwa kerja keras, integritas, kesetiaan melayani, dan kebaikan yang dilakukan dengan tulus pada akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.

Mungkin bukan dalam bentuk tepuk tangan.

Mungkin bukan pula dalam bentuk penghargaan.

Tetapi dalam bentuk keluarga yang bertumbuh baik, anak-anak yang berhasil, kesehatan yang tetap terjaga, serta hati yang penuh syukur.

Dan bukankah itu salah satu bentuk kebahagiaan yang paling utuh?

Sehat dan bahagia selalu, Bang Sahat Oloan Saragih.

Terima kasih untuk secangkir kopi, segudang kenangan, dan pelajaran hidup yang kembali saya bawa pulang siang itu.

Karena seperti yang selalu saya yakini, setiap orang punya cerita. Dan hari itu, saya kembali diperkaya oleh cerita seorang sahabat lama yang mengajarkan bahwa keberhasilan sejati sering kali tidak berada pada apa yang kita miliki, melainkan pada apa yang berhasil kita wariskan kepada generasi berikutnya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *