Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.
☕ Traktir Kopi di TrakteerSaya tidak menyangka, salah satu ide menulis yang paling membekas justru lahir di sebuah pemakaman.
Bukan di ruang redaksi. Bukan pula di ruang kelas pelatihan jurnalisme. Melainkan di kompleks Pemakaman Katolik di Jalan AR Hakim, Pontianak, ketika saya menemani Andreas Harsono berziarah ke makam Mgr. Jan Pacificus Bos, OFM Cap.
Di tempat yang sunyi itu, Bang Andreas — begitu ia biasa aku sapa — berkata pelan, “Pacificus Bos ini tokoh besar. Ia layak ditulis.”
Kalimatnya sederhana. Tidak panjang. Tidak menggurui. Tetapi entah mengapa, ia terus mengikuti saya hingga bertahun-tahun kemudian.
Saya mengenal Andreas Harsono jauh sebelum kami berdiri di depan makam itu.
Bagi banyak orang, Andreas adalah wartawan senior, penulis, peneliti, sekaligus salah seorang pendiri Aliansi Jurnalis Independen (AJI). Bagi saya, ia juga adalah guru.
Saya beruntung pernah menjadi peserta Kursus Jurnalisme Sastrawi yang diselenggarakan Yayasan Pantau. Di kelas itulah Andreas bersama Janet Steele—guru besar jurnalisme dari George Washington University—mengajarkan kepada kami bahwa jurnalisme tidak berhenti pada pertanyaan apa yang terjadi. Jurnalisme juga harus mampu menjawab mengapa sebuah kisah layak diceritakan.
Saya masih mengingat berbagai diskusi di kelas itu. Kami diajak sabar melakukan riset, menghargai detail, mendengarkan narasumber, membangun adegan, dan menghadirkan manusia di balik sebuah peristiwa. Berita tidak hanya terdiri atas data dan kutipan, tetapi juga emosi, konteks, dan kehidupan.
Pelajaran itu terus saya bawa sampai hari ini.
Namun, ada satu pelajaran yang justru saya dapatkan di luar ruang kelas.
Hari itu kami berjalan memasuki kompleks pemakaman Katolik di Jalan AR Hakim. Pepohonan besar membuat suasananya teduh. Tidak jauh dari Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak, berdampingan dengan kompleks Biara Suster SFIC, berdirilah makam Mgr. Jan Pacificus Bos.
Tidak megah.
Tidak mencolok.
Bahkan mungkin banyak warga Pontianak yang melintas setiap hari tanpa mengetahui bahwa di tempat itu dimakamkan orang yang meletakkan fondasi Gereja Katolik di Kalimantan.
Kami berdiri beberapa saat dalam diam.
Lalu Andreas Harsono mulai bercerita.
Ia mengatakan bahwa Pacificus Bos adalah tokoh besar. Seorang misionaris yang bukan hanya mewartakan iman, tetapi juga membangun pendidikan, pelayanan kesehatan, dan kehidupan sosial masyarakat Kalimantan. Menurutnya, jasa sebesar itu layak dikenang dan ditulis lebih luas.
Saya mendengarkannya sambil sesekali memandang nisan di depan kami.
Ada perasaan yang sulit saya jelaskan.
Mengapa justru seorang wartawan dari Jakarta yang membuka mata saya tentang besarnya jasa seorang tokoh yang hampir seluruh hidupnya diabdikan untuk Kalimantan?
Bukankah seharusnya kami, orang-orang Kalimantan, lebih dulu mengenalnya?
Pertanyaan itu terus tinggal dalam pikiran saya.
Sejak hari itu, nama Pacificus Bos tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan saya.
Setiap kali melintas di Jalan AR Hakim, saya teringat makamnya.
Setiap kali memasuki kompleks Katedral Santo Yosef Pontianak, saya melihat nama Pasifikus Bos di gedung pertemuan yang berdiri di belakang gereja.
Ketika mendengar tentang Klinik Pacificus Bos, saya juga teringat bahwa nama itu bukan sekadar nama sebuah fasilitas kesehatan, melainkan penghormatan kepada seorang misionaris yang sejak awal percaya bahwa pewartaan Injil harus berjalan bersama pendidikan, kesehatan, dan pelayanan kemanusiaan.
Saya mulai membaca lebih banyak.
Saya membuka arsip-arsip lama. Menelusuri sejarah Gereja Katolik di Kalimantan. Membaca tulisan para Kapusin. Sedikit demi sedikit saya mulai memahami mengapa Andreas menyebutnya sebagai tokoh besar.
Pacificus Bos datang ke Kalimantan pada tahun 1905 bersama rombongan Kapusin pertama dari Belanda.
Ia memindahkan pusat misi ke Pontianak.
Ia membuka jalan bagi berdirinya sekolah-sekolah, rumah sakit, dan pelayanan sosial.
Dari karya yang dirintisnya, Gereja Katolik di Kalimantan kemudian bertumbuh hingga menjadi beberapa keuskupan seperti sekarang.
Semakin banyak saya membaca, semakin saya merasa bahwa nama Pacificus Bos belum memperoleh tempat yang layak dalam ingatan masyarakat Kalimantan.
Saya bahkan berani mengatakan, dalam konteks Kalimantan, Pacificus Bos memiliki arti yang sebanding dengan Romo Frans van Lith di Jawa.
Kalau Van Lith dikenang sebagai pelopor Gereja Katolik modern di Jawa melalui pendidikan dan inkulturasi, maka Pacificus Bos adalah peletak fondasi Gereja Katolik di Kalimantan melalui perpaduan iman, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.
Perbedaannya mungkin hanya satu.
Nama Van Lith sudah lama menjadi bagian dari sejarah nasional.
Sementara Pacificus Bos masih lebih sering dikenal di lingkungan Gereja.
Padahal, pengaruhnya jauh melampaui tembok-tembok gereja.
Perjalanan ke makam itu bukanlah sebuah kebetulan.
Sebelumnya, kami difasilitasi oleh Pastor Alex Mingkar. Saat itu, ia menjabat sebagai Pastor Paroki Katedral Santo Yosef Pontianak. Kini, RD Alex Mingkar mengemban tugas sebagai Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Agung Pontianak.
Ini adalah jabatan prestisius dan tanggungjawab besar. Secara garis besar seorang Vikjen adalah wakil uskup.
Bagi saya, Pastor Alex bukan hanya seorang imam. Ia adalah teman satu angkatan ketika kami belajar di SMA Seminari Santo Paulus Nyarumkop, Singkawang. Persahabatan yang telah terjalin sejak masa remaja itulah yang kemudian membuka pintu bagi sebuah pengalaman yang tak pernah saya lupakan.
Melalui Pastor Alex, kami diperkenalkan kepada seorang suster dari Kongregasi SFIC yang selama ini ikut merawat kompleks pemakaman tersebut.
Suster itu mengantar kami menuju makam Mgr. Pacificus Bos.
Makamnya sederhana. Tidak jauh dari Gereja Katedral Santo Yosef Pontianak. Bersebelahan dengan kompleks biara para Suster SFIC. Tidak ada kemegahan. Tidak pula monumen yang menjulang tinggi.
Saya kemudian bertanya kepadanya, apakah masih banyak orang yang datang berziarah.
Suster itu tersenyum.
“Masih ada,” jawabnya. “Terutama para imam, biarawan, biarawati, dan umat. Tetapi memang tidak setiap hari. Biasanya lebih ramai pada peringatan-peringatan tertentu.”
Jawaban itu singkat.
Namun, justru di situlah saya merasa ada sesuatu yang mengusik.
Tokoh sebesar Pacificus Bos masih dikenang oleh Gereja. Makamnya dirawat dengan baik. Para imam, biarawan, biarawati, dan umat masih datang berdoa.
Tetapi di luar itu, berapa banyak masyarakat Kalimantan yang benar-benar mengenal siapa dirinya?
Akhirnya, saya memberanikan diri menulis tentang dirinya untuk PontianakGlobe.com.
Saya sadar sepenuhnya bahwa artikel itu masih jauh dari lengkap.
Bagaimana mungkin satu tulisan mampu merangkum perjalanan seorang misionaris yang mengabdikan lebih dari tiga puluh tahun hidupnya di Kalimantan?
Masih banyak arsip yang belum saya baca.
Masih banyak surat-surat lama yang belum saya telusuri.
Masih banyak kisah para imam, biarawan-biarawati, dan umat yang belum sempat saya dengarkan.
Tetapi setiap tulisan selalu memiliki awal.
Artikel itu adalah langkah kecil saya untuk ikut memperkenalkan kembali Pacificus Bos kepada masyarakat Kalimantan, terutama generasi muda yang mungkin mengenal nama gedung atau kliniknya, tetapi belum mengenal orang di balik nama tersebut.
Saya berharap suatu hari nanti dapat menuliskannya lebih utuh, mungkin dalam bentuk sebuah buku yang mengisahkan bukan hanya perjalanan hidupnya, tetapi juga bagaimana seorang misionaris Belanda memilih menjadikan Kalimantan sebagai rumahnya hingga akhir hayat.
Kalau tulisan saya hari ini belum mampu menggambarkan kebesaran karya Mgr. Jan Pacificus Bos, setidaknya saya ingin ikut memastikan bahwa namanya tidak perlahan menghilang dari ingatan kita.
Dan saya bersyukur, semuanya bermula dari sebuah ziarah sederhana ke sebuah makam bersama Andreas Harsono.
Kadang-kadang Tuhan mempertemukan kita dengan seseorang bukan hanya untuk berbagi cerita.
Kadang-kadang, Ia juga sedang menitipkan sebuah pekerjaan.
Mungkin, bagi saya, pekerjaan itu adalah terus menuliskan kisah-kisah tentang Kalimantan dan orang-orang yang telah membangun tanah ini, agar sejarah tidak berhenti menjadi arsip, melainkan tetap hidup dalam ingatan generasi yang akan datang. ***
