Rumah Pak Nungkat yang Tak Pernah Menolak Anak Asrama, Catatan dari Nyarumkop & Kenangan Bang Masri

Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.

☕ Traktir Kopi di Trakteer

Ada satu momen yang cukup membekas bagi ku seusai Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop, 4-6 September 2026.

Bukan ketika ribuan alumni berkumpul. Bukan pula saat foto bersama atau ketika lagu-lagu lama dinyanyikan.

Momen itu justru terjadi ketika aku menemani Bang Masri Sareb Putra berjalan menuruni lereng menuju sebuah rumah yang kini berada di bawah Wisma Emaus. Serta rumah-rumah dan juga villa di Jalan Sungai Eria. Rumah keluarga Pak Nungkat.

Sepanjang perjalanan, Bang Masri lebih banyak bercerita daripada berbicara.

Cerita-cerita yang selama ini hanya aku baca di tulisannya, kini keluar begitu saja, seolah jalan setapak itu ikut membuka kembali lembaran masa lalu.

“Di sinilah kami dulu sering datang,” katanya.

Aku mendengarkan.

Begitu pun beberapa teman dan adik kelas yang ikut serta. Di antara-nya Erna dan Mega. Serta kak Rufina Pipin.

Bukan hanya sebagai sesama alumni Nyarumkop, tetapi juga sebagai seseorang yang lahir dari generasi yang berbeda.


Aku baru memahami bahwa bagi anak-anak asrama angkatan Bang Masri, rumah Pak Nungkat bukan sekadar rumah tetangga sekolah.

Rumah itu adalah tempat bertahan hidup.

Ketika libur panjang tiba, tidak semua anak pulang ke kampung halaman.

Bukan karena tidak rindu.

Tetapi karena perjalanan pulang terlalu jauh dan terlalu mahal.

Anak-anak dari pedalaman Kalimantan harus menempuh sungai berhari-hari. Ada yang berjalan kaki berjam-jam bahkan berhari-hari menuju kampung. Bang Masri bahkan bercerita, pada masa itu untuk menuju Singkawang saja orang masih harus berjalan kaki.

Mendengar cerita itu aku membayangkan betapa sunyinya asrama ketika teman-teman lain sudah pulang.

Di tengah kesunyian itulah keluarga Pak Nungkat membuka pintu rumah mereka.

Anak-anak asrama datang membantu bekerja di kebun, membersihkan halaman, mengangkut kayu, atau pekerjaan apa saja yang bisa mereka kerjakan.

Mereka diberi upah.

Mereka diberi makan.

Dan mungkin yang lebih penting, mereka diberi rasa bahwa masih ada keluarga yang menerima mereka.


Saya mencoba membayangkan sesuatu yang mungkin tidak pernah dipikirkan orang.

Berapa kilogram beras yang harus dimasak keluarga Pak Nungkat?

Bukan hanya untuk anak-anak mereka sendiri.

Tetapi juga untuk anak-anak asrama yang hampir setiap hari datang bekerja atau sekadar mampir.

Pasti bukan satu dua orang.

Mungkin 5 atau 6 orang.

Mungkin lebih.

Di dapur sederhana itu, nasi selalu tersedia.

Pisang goreng selalu ada.

Teh panas selalu disuguhkan.

Tidak ada daftar tamu.

Tidak ada hitungan siapa yang sudah makan dua kali atau tiga kali.

Yang ada hanyalah kebiasaan menerima.

Hari ini, ketika biaya hidup terus naik dan segala sesuatu diperhitungkan, aku semakin menghargai kemurahan hati keluarga itu.


Aku berasal dari angkatan yang berbeda.

Ketika aku menjadi anak asrama pada awal 1993, keadaan sudah jauh berubah.

Transportasi mulai berkembang.

Sudah ada opelet jurusan Singkawang-Pakucing yang bisa kami tumpangi.

Dari Terminal Singkawang, bus menuju Pontianak, Mempawah, Sambas, Sanggau hingga berbagai daerah lain di Kalimantan Barat juga semakin banyak.

Kalau libur sekolah tiba, kami bisa pulang.

Perjalanan memang tetap panjang.

Tetapi masih mungkin dilakukan.

Karena itu, kami tidak mengalami kesepian panjang seperti generasi Bang Masri.

Kami masih bisa menikmati masakan ibu di rumah.

Masih bisa bertemu keluarga.

Masih bisa kembali menjadi anak-anak.

Perbedaan kecil dalam transportasi ternyata mengubah begitu banyak pengalaman hidup.


Aku semakin memahami mengapa Bang Masri selalu menyebut nama Pak Nungkat dengan penuh rasa hormat.

Yang beliau kenang bukan soal upah.

Bukan pula soal makanan.

Melainkan martabat.

Anak-anak asrama tidak diberi belas kasihan.

Mereka diajak bekerja.

Mereka memperoleh hasil dari kerja mereka.

Mereka belajar bahwa tangan yang bekerja selalu memiliki harga diri.

Pelajaran seperti ini mungkin tidak pernah tertulis dalam kurikulum sekolah.

Tetapi justru itulah pendidikan kehidupan.


Saat kami duduk berbincang bersama keluarga Pak Nungkat, aku melihat wajah-wajah yang di antaranya mulai menua.

Kulihat Bang Masri menjabat erat, bahkan memeluk erat anak-anak Pak Nungkat

Pak Nungkat sendiri telah lama berpulang.

Namun, cerita tentang beliau tetap hidup.

Aku percaya, seseorang tidak selalu dikenang karena jabatan atau kekayaannya.

Ada orang yang dikenang karena pernah membuat anak-anak yang jauh dari orang tuanya merasa tidak sendirian.

Itulah warisan terbesar keluarga Pak Nungkat.


Sebagai seorang ayah, aku pulang dari rumah itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.

Pikiranku melayang jauh. Saat ini dua anak ku tinggal jauh dari rumah.

Mereka sekolah di Jerman. Eropa.

Di belahan dunia yang lain.

Tapi selalu ada kisah-kisah orang baik dalam kehidupan mereka.

Tentu aku berharap akan ada orang-orang seperti Pak Nungkat di sekitar mereka.

Orang yang mungkin tidak memiliki hubungan darah.

Tetapi memiliki hati yang cukup luas untuk mengatakan, “Mari makan dulu.”

Kalimat sederhana.

Namun bagi anak yang sedang merindukan rumah, kalimat itu bisa menjadi pelukan.


Reuni memang mempertemukan kembali para alumni.

Namun kunjungan ke rumah Pak Nungkat mengingatkan aku bahwa sejarah Nyarumkop tidak hanya dibangun oleh pastor, bruder, suster, guru, atau para alumninya.

Ada keluarga-keluarga sederhana di sekitar sekolah yang ikut merawat generasi demi generasi.

Mereka mungkin tidak pernah tercatat dalam buku sejarah.

Tetapi nama mereka hidup dalam ingatan ribuan anak asrama.

Dan mungkin, itulah bentuk keabadian yang paling indah.

Karena setiap sekolah besar selalu dibangun bukan hanya oleh gedung dan ruang kelas.

Melainkan juga oleh orang-orang baik yang diam-diam membuka pintu rumahnya bagi siapa saja yang membutuhkan. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *