Di Meja yang Sama, Kami Kembali Menjadi Anak-anak Nyarumkop

Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.

☕ Traktir Kopi di Trakteer

Ada yang tidak berubah dari sebuah reuni.

Bukan wajah-wajahnya. Sebab rambut kami mulai memutih. Kerutan mulai hadir di sudut mata. Sebagian perut tak lagi seramping ketika masih mengenakan seragam putih abu-abu.

Yang tidak berubah adalah cara kami tertawa.

Begitu bertemu, jarak puluhan tahun seperti runtuh begitu saja. Tak ada lagi jabatan, pangkat, ataupun gelar yang memisahkan. Kami kembali menjadi anak-anak SMA Santo Paulus Nyarumkop yang pernah tidur di ranjang besi Wisma Widya dan Wisma Bhinneka, berbagi lauk di meja makan asrama, dan saling meminjam buku ketika ujian tiba.

Di antara kami ada Fransiskus Hery, kini menjabat Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Landak.

Ada dr Viator yang mengabdi di Sintang.

Ada Kayetanus, Agustinus, Agustinus Panca Esti, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak RD Alexius Alex Mingkar, Anton Ami yang mengemban tugas sebagai salah satu kepala bidang di Pemerintah Kabupaten Landak, Alexander Budi Tri yang menjadi ASN di Bangkayang, Toni A yang selama reuni nyaris tak pernah berhenti bekerja sebagai panitia seksi acara, serta Niko Palaun — teman seangkatan kala itu dia SMK.

Ada pula Martinus Suwandi.

Kami datang dengan jalan hidup yang berbeda-beda.

Namun ketika duduk melingkar, semua itu seperti tak lagi penting.

Yang penting adalah cerita.

Kami saling mengingat nama guru, nama teman, nama tempat, bahkan nama-nama yang dulu sering mendapat giliran piket membersihkan halaman.

Malam harinya, saat acara hiburan berlangsung, entah siapa yang memulai, kami berkumpul di meja yang sama. Meja itu seolah menjadi ruang kecil tempat waktu berhenti berjalan.

Kami menikmati babi bakar, mencicipi RW, lalu meneguk satu-dua teguk bir. Tak ada pesta yang berlebihan. Yang kami rayakan bukan makanan ataupun minuman, melainkan kesempatan untuk kembali bersama.

Sesekali gelak tawa pecah begitu keras. Lalu mendadak hening ketika seseorang menyebut nama teman yang sudah lama tak berjumpa atau mengingat sebuah peristiwa yang hampir terlupakan.

Di momen-momen seperti itulah aku sadar, kenangan memang punya cara sendiri untuk kembali hidup.

Sebelumnya kami juga sempat bertemu dengan guru-guru yang pernah membentuk kami.

Ada Pak Delfinus, Pak Hendrikus Clement, Bu Hilda, Bu Cresensia Mulia, Pak Mahadi, Pak Egidius, Pak Johan, dan Bruder Cimes. Serta beberapa nama lagi.

Waktu membuat kami berubah, tetapi di hadapan para guru itu kami tetap merasa seperti murid-murid yang dulu.

Rasanya masih sama ketika harus menyalami mereka.

Masih ada rasa hormat yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Sayangnya, tidak semua teman dapat hadir.

Yosafat Aus dan Agustinus Hendro Elyantoro harus membatalkan keberangkatan pada saat-saat terakhir karena keponakan mereka melangsungkan pernikahan. Kami tentu memahami. Hidup memang selalu menghadirkan prioritas yang berbeda.

Namun ada juga kisah perjuangan yang membuat kami tersenyum.

Hartono—atau Ahau, begitu kami memanggilnya—datang dari Jakarta. Perjalanannya tidak mudah. Kabut asap yang menyelimuti Kalimantan membuat penerbangannya beberapa kali berubah. Ia bahkan harus membeli tiket lebih dari sekali.

Ketika akhirnya ia tiba di Nyarumkop, kami tahu, itu bukan sekadar perjalanan ratusan kilometer.

Itu perjalanan pulang.

Kami juga berjalan kembali ke tempat-tempat yang pernah menjadi bagian dari hidup kami.

Wisma Widya.

Asrama yang dahulu menjadi rumah kedua.

Lorong-lorongnya mungkin sudah berubah. Cat temboknya telah berganti. Beberapa sudut tampak berbeda.

Namun ingatan kami masih mengenali setiap langkah.

Kami menyempatkan diri masuk ke kompleks SMA Santo Paulus. Berdiri di depan ruang-ruang kelas yang dulu terasa begitu akrab. Sulit dipercaya, begitu banyak mimpi lahir dari ruang-ruang sederhana itu.

Langkah kemudian membawa kami menuju Wisma Rini.

Kini namanya telah berganti menjadi Wisma Symphoriana.

Kami hanya berdiri di bagian depan. Tidak masuk lebih jauh.

Itu sudah cukup.

Gedung itu dahulu menjadi rumah bagi para siswi penghuni asrama. Bagi anak-anak lelaki Wisma Widya dan Bhinneka (SMA dan SMK), serta Wisma Timonong (SMP) nama Wisma Rini selalu terdengar akrab sekaligus sedikit misterius. Kami tahu tempat itu ada, tetapi tak pernah benar-benar menjadi bagian dari keseharian kami.

Kini, ketika berdiri di depannya, aku tersenyum sendiri.

Begitu banyak hal yang dahulu terasa besar, ternyata kini tinggal menjadi cerita yang menyenangkan untuk dikenang.

Reuni mengajarkanku satu hal.

Persahabatan yang dibangun pada usia belasan tahun mempunyai akar yang berbeda. Ia tidak tumbuh karena jabatan, kepentingan, atau keuntungan. Ia lahir dari kehidupan yang dijalani bersama.

Kami pernah makan di meja yang sama.

Tidur di asrama yang sama.

Dimarahi guru yang sama.

Merindukan rumah pada malam-malam yang sama.

Barangkali itulah sebabnya, setelah puluhan tahun, kami masih bisa duduk di meja yang sama dan tertawa tanpa canggung.

Ketika acara selesai dan satu per satu kembali ke kota masing-masing, aku membawa pulang satu keyakinan.

Reuni bukan sekadar bertemu kembali.

Ia adalah cara hidup mengingatkan bahwa di suatu tempat bernama Nyarumkop, kami pernah belajar menjadi manusia. Dan pelajaran itu, ternyata, jauh lebih panjang daripada masa sekolah kami sendiri. ***

3 Comments

  1. Bravo,, satu hati, satu Almamater

  2. Bravo, satu hati satu almamatet

  3. Bravo, satu hati satu almamatet

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *