Semeja Lagi Setelah Tiga Puluh Tahun

Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.

☕ Traktir Kopi di Trakteer

Ada satu hal yang selalu aku sukai dari reuni.

Bukan panggungnya. Bukan hiburannya. Bukan juga seremoni-seremoni yang sudah diatur panitia dengan rapi.

Yang paling aku tunggu justru momen ketika kami kembali menjadi anak-anak SMA, meski rambut mulai memutih, jabatan beberapa teman sudah tinggi, dan usia tak lagi muda.

Begitulah yang aku rasakan saat Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop.

Aku kembali bertemu teman-teman satu angkatan di SMA Santo Paulus. Rasanya seperti baru kemarin kami duduk di kelas yang sama, bercanda di asrama, atau berjalan kaki dari Wisma Widya menuju sekolah.

Fransiskus Hery datang. Kini ia menjabat Asisten III Sekretariat Daerah Kabupaten Landak.

Dokter Viator hadir dari Sintang.

Ada Kayetanus, Agustinus, Agustinus Panca Esti, Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Pontianak RD Alexius Alex Mingkar, Anton Ami yang kini mengemban tugas sebagai salah satu kepala bidang di Pemerintah Kabupaten Bengkayang, Alexander Budi Tri yang mengabdi sebagai ASN di Bangkayang, serta Martinus Suwandi.

Ada Toni A yang sejak pagi sibuk mengurus jalannya acara sebagai panitia, hingga Niko Palaun – teman satu angkatan, dia kala itu siswa SMK Santo Thomas Aquinas.

Ketika kami berkumpul, jabatan-jabatan itu perlahan menghilang.

Yang tersisa hanyalah nama panggilan.

Tawa.

Dan cerita-cerita lama yang entah mengapa masih kami ingat dengan sangat jelas.

Malam harinya kami kembali berkumpul di meja yang sama saat acara hiburan. Kami menikmati babi bakar, RW, sesekali mengangkat gelas berisi bir. Seteguk. Dua teguk.

Lalu percakapan mengalir begitu saja.

Tidak ada agenda.

Tidak ada protokol.

Hanya cerita tentang keluarga, pekerjaan, anak-anak, kesehatan, hingga kisah-kisah yang dulu terasa sangat besar, tetapi kini justru menjadi bahan tertawaan.

Aku percaya, persahabatan memang seperti itu. Ia tidak membutuhkan banyak pemanasan. Meski puluhan tahun tak bertemu, percakapannya selalu menemukan jalan pulang.

Sebelum berkumpul malam itu, kami lebih dahulu bertemu secara random dengan para guru.

Ada Pak Delfinus.

Pak Hendrikus Clement.

Bu Hilda.

Bu Cresensia Mulia.

Pak Mahadi.

Pak Egidius.

Bruder Cimes.

Melihat mereka lagi membuat kami seolah kembali menjadi siswa yang dulu pernah duduk mendengarkan pelajaran, menerima teguran, diminta mengerjakan tugas, bahkan sesekali mendapat hukuman karena kenakalan yang sekarang justru menjadi kenangan manis.

Usia memang mengubah wajah kami semua.

Namun rasa hormat kepada guru ternyata tidak pernah berubah.

Kami juga menyempatkan diri berjalan menuju Wisma Widya, asrama putra tempat kami pernah tinggal.

Saya berdiri cukup lama di sana.

Sulit menjelaskan perasaan ketika melihat bangunan yang pernah menjadi rumah selama masa remaja.

Di tempat itulah kami belajar hidup bersama.

Belajar bangun pagi.

Belajar berbagi.

Belajar mencuci pakaian sendiri.

Belajar menahan rindu kepada orang tua.

Dan belajar menjadi dewasa, meski waktu itu kami merasa semuanya adalah rutinitas yang melelahkan.

Kami kemudian berjalan menuju gedung SMA Santo Paulus.

Kaki ini seperti tahu sendiri ke mana harus melangkah.

Lorong-lorong sekolah, halaman, ruang kelas, semuanya seakan memanggil ingatan yang selama ini diam.

Perjalanan kami berlanjut hingga ke depan Wisma Rini—kini bernama Wisma Symphoriana—tempat para penghuni asrama putri tinggal.

Kami hanya berdiri di bagian depannya.

Tidak masuk.

Namun itu sudah cukup.

Sebab kadang-kadang sebuah bangunan tidak perlu dimasuki untuk menghidupkan kembali kenangan.

Cukup dipandang.

Ingatan akan bekerja sendiri.

Tidak semua teman dapat hadir.

Yosafat Aus batal datang pada saat-saat terakhir karena harus menghadiri pernikahan keponakannya.

Agustinus Hendro Elyantoro pun berhalangan dengan alasan yang sama.

Kami tentu memahami.

Beginilah hidup setelah puluhan tahun. Selalu ada tanggung jawab keluarga yang harus didahulukan.

Tetapi ada satu teman yang perjuangannya layak mendapat tepuk tangan.

Hartono—yang lebih akrab kami panggil Ahau.

Ia datang jauh-jauh dari Jakarta.

Kabut asap membuat penerbangannya berkali-kali berubah. Ia bahkan harus membeli tiket beberapa kali agar bisa sampai ke Nyarumkop.

Perjalanan itu tentu tidak murah.

Tidak mudah.

Namun ia tetap datang.

Barangkali memang begitulah arti sebuah kerinduan.

Kadang ia tidak diukur dari berapa kilometer yang ditempuh, melainkan seberapa besar tekad seseorang untuk akhirnya bisa berkata, “Aku pulang.”

Ketika reuni usai, saya menyadari satu hal.

Kami memang sudah berubah.

Ada yang menjadi dokter.

Ada yang menjadi imam.

Ada yang menjadi pejabat.

Ada yang menjadi aparatur sipil negara.

Ada yang menjalani jalan hidup yang berbeda-beda.

Namun di Nyarumkop, semua identitas itu seperti ditanggalkan sementara.

Kami kembali menjadi anak-anak Wisma Widya.

Anak-anak yang pernah berbagi kamar.

Berbagi cerita.

Berbagi mimpi.

Dan mungkin itulah yang membuat reuni selalu terasa istimewa.

Ia bukan sekadar pertemuan.

Ia adalah pengingat bahwa persahabatan yang dibangun sejak remaja ternyata mampu bertahan melampaui jarak, waktu, jabatan, bahkan usia.

Ketika kami saling berjabat tangan sebelum pulang, aku tidak merasa sedang mengucapkan selamat tinggal.

Aku hanya merasa sedang menunda percakapan berikutnya.

Karena aku percaya, bagi kami yang pernah menjadi bagian dari Nyarumkop, rumah itu selalu memiliki cara untuk memanggil anak-anaknya kembali. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *