Ketika 2.000 Alumni Berkumpul, Ada Orang-orang yang Tak Pernah Selesai Bekerja

Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.

☕ Traktir Kopi di Trakteer

Ada satu hal yang baru kusadari ketika Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop usai.

Yang paling sedikit menikmati reuni justru mereka yang membuat reuni itu terjadi.

Selama tiga hari berada di Nyarumkop, aku berkali-kali melihat Bang Yustianus Ami berjalan cepat dari satu titik ke titik lain. Tangannya tak pernah benar-benar kosong. Telepon genggamnya nyaris tak berhenti berdering. Satu persoalan selesai, persoalan lain sudah menunggu.

Sesekali kami berpapasan.

“Sudah makan, Bang?” tanyaku.

Ia hanya tersenyum.

“Nanti…”

Jawaban itu kudengar lebih dari sekali.

Lalu aku mulai memperhatikan orang-orang lain.

Ada yang mengatur parkir kendaraan yang terus berdatangan. Ada yang memastikan konsumsi tidak terlambat. Ada yang mengurus tamu. Ada yang mengatur panggung. Ada yang mengecek listrik. Ada yang mengatur kursi. Ada yang mengantar narasumber. Ada yang mempersiapkan misa. Ada yang sibuk menjawab pertanyaan alumni yang datang dari berbagai kota, bahkan dari luar negeri.

Ada Toni A teman satu angkatan yang kemana-mana menenteng Handy Talky (HT). Ia kelihatan letih tapi masih sangat cekatan.

Ada Anton Ami — teman satu angkatan juga — yang menjadi Seksi Perlengkapan. Ia bahkan bolak-balik dari Bengkayang ke Nyarumkop agar semua berjalan lancar.

Sehari sebelum-nya sampai larut malam kulihat Anton masih sibuk mengkomando pasang lampu dan membereskan panggung.

Ada kak Edhita Opang yang sibuk menjadi MC sekaligus penyanyi. Ia juga sibuk melatih nari.

Dan, banyak lagi nama-nama yang terlibat. Termasuk anak-anak asrama yang sangat membantu.

Mereka seperti semut.

Tidak banyak terlihat. Tetapi tanpa mereka, seluruh bangunan besar itu tidak akan pernah berdiri.


Mengumpulkan hampir dua ribu alumni bukan pekerjaan kecil.

Yang datang bukan hanya dari Kalimantan Barat. Ada yang terbang dari Jakarta, Batam, bahkan dari luar negeri. Masing-masing membawa harapan yang berbeda.

Ada yang ingin bertemu guru.

Ada yang ingin melihat kembali asrama.

Ada yang ingin menemukan teman sebangku setelah tiga puluh tahun berpisah.

Ada pula yang datang hanya untuk sekali lagi mengucapkan terima kasih kepada almamater.

Semua harapan itu bertemu di satu tempat.

Dan panitia harus memastikan semuanya berjalan.


Tentu saja tidak ada acara sebesar ini yang benar-benar tanpa cela.

Ada antrean.

Ada jadwal yang sedikit bergeser.

Ada informasi yang terlambat diterima.

Ada hal-hal kecil yang mungkin membuat sebagian orang kurang nyaman.

Tetapi bagiku, itu bukan ukuran utama.

Ukuran keberhasilan sebuah reuni adalah ketika ribuan orang pulang dengan membawa cerita yang ingin mereka bagikan.

Dan itulah yang kulihat.

Media sosial dipenuhi foto.

Grup WhatsApp kembali hidup.

Orang-orang yang sudah puluhan tahun tidak saling menyapa kembali bercakap-cakap hingga larut malam.

Mereka tertawa.

Mereka bernyanyi.

Mereka berpelukan.

Mereka menangis ketika bertemu guru.

Bukankah itu tujuan sebuah reuni?


Aku juga melihat sesuatu yang mungkin luput dari perhatian banyak orang.

Panitia hampir tidak pernah benar-benar menjadi peserta.

Saat kami menikmati hiburan malam, mereka masih mondar-mandir memastikan acara berikutnya siap.

Ketika kami duduk menikmati makan malam bersama teman-teman SMA, mereka masih menerima telepon.

Saat kami berburu foto bersama guru-guru, mereka sedang mengantar tamu lain.

Ketika kami mulai beristirahat, mereka masih mengangkat kursi, membereskan meja, mengecek perlengkapan untuk esok hari.

Mereka tidak banyak duduk.

Tetapi justru karena itulah ribuan alumni bisa duduk dengan nyaman.


Aku mengenal Bang Yustianus Ami cukup lama.

Aku tahu ia bukan bekerja sendirian.

Di belakangnya ada ratusan panitia, para alumni lintas angkatan, para relawan, para guru, pengurus IKAPKN, Yayasan Perguruan Masyarakat Kalimantan Barat, keluarga besar PKN, hingga warga Nyarumkop yang membuka rumah, halaman, bahkan tenaga mereka demi menyukseskan perhelatan ini.

Tidak semua nama bisa disebut.

Tetapi setiap orang telah menyumbangkan sesuatu.

Ada yang memberi waktu.

Ada yang memberi tenaga.

Ada yang memberi pikiran.

Ada yang memberi biaya.

Ada pula yang hanya melakukan pekerjaan kecil yang mungkin tak pernah masuk dokumentasi.

Padahal justru pekerjaan-pekerjaan kecil itulah yang membuat acara besar dapat berlangsung.


Sesudah semuanya selesai, panggung dibongkar.

Kursi diangkat.

Spanduk diturunkan.

Lampu dipadamkan.

Para alumni kembali ke kota masing-masing.

Yang tersisa hanyalah halaman sekolah yang kembali tenang.

Namun aku percaya, di hati banyak orang, Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop akan tinggal lebih lama daripada panggung yang telah dibongkar.

Karena sebuah reuni bukan hanya tentang bertemu.

Ia adalah hasil dari begitu banyak orang yang memilih bekerja di belakang layar agar orang lain dapat menciptakan kenangan.

Maka ketika ribuan alumni pulang dengan hati penuh sukacita, ada satu ucapan sederhana yang rasanya layak disampaikan kepada mereka yang tak banyak duduk selama tiga hari itu.

Terima kasih.

Sebab kenangan yang kami bawa pulang hari ini, sebagian besar lahir dari kerja keras kalian yang mungkin tidak selalu terlihat.

Dan barangkali, memang begitulah cara terbaik sebuah pengabdian dikenang: tidak selalu berada di depan panggung, tetapi membuat semua orang di depan panggung dapat menikmati setiap momennya. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *