Pengacara atau Hakim

Ilustrasi: unsplash.com

Apa yang terbayang di benak setiap mahasiswa yang kuliah di jurusan hukum? Mungkin yang paling umum adalah kelak akan menjadi pengacara atau hakim. Atau lain-lain profesi yang berhubungan.

Tapi hidup tidaklah flat! Cita-cita tidak selalu berbanding lurus dengan latar keilmuan. Seorang sarjana hukum bisa menjadi apa saja di negeri kita. Bisa jadi guru, jadi sales, bahkan profesi lain yang sama sekali tak berhubungan.

Mungkin di masa kini, tidaklah terlalu relevan memperdepatkan “dengan kuliah di jurusan ini, kamu mau jadi apa?” Karena rejeki sering tidak linear dengan cita-cita.

Maka, jangan heran di kehidupan nyata, kita berjumpa realita yang aneh bin ajaib. Sejauh halal, semua baik adanya.

Saya dulu mahasiswa Fakultas Hukum. Lulus jadi sarjana dengan embel-embel SH di ujung nama. Embel-embel yang jarang sekali saya gunakan.

Apakah saya akhirnya menjadi pengacara atau hakim? Untuk jadi hakim, pasti skip. Saya sekarang seorang ayah dan suami yang on the way usia setengah abad!

Bagaimana dengan pengacara? Yah, siapa tahu. Saya baru saja pensiun dari pekerjaan formal saya, dan saat ini sedang menikmati indahnya hari-hari sebagai pensiunan pemula.

Bisa saja jika cita-cita lama saya itu tiba-tiba bangkit, mungkin saya mencoba meniti usia pensiun sebagai pengacara. Tapi bisa juga tidak. Semua mungkin.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *