Ada sebuah pepatah yang sering dikaitkan dengan budaya kerja di Jerman:
“Man arbeitet, um zu leben, nicht man lebt, um zu arbeiten.“
Kita bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja.
Kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin klise. Namun semakin bertambah usia, semakin kita menyadari betapa dalam maknanya.
Banyak orang memulai karier dengan mimpi yang baik. Ingin membahagiakan orang tua. Ingin memberikan kehidupan yang lebih layak bagi keluarga. Ingin memiliki rumah sendiri. Ingin menyekolahkan anak hingga setinggi mungkin.
Tidak ada yang salah dengan semua itu.
Masalah muncul ketika pekerjaan yang awalnya hanya alat perlahan berubah menjadi tujuan hidup itu sendiri.
Kita mulai mengukur nilai diri dari jabatan. Menghitung harga diri dari besarnya gaji. Merasa bersalah ketika beristirahat. Merasa tidak berguna ketika tidak produktif.
Tanpa sadar, hidup berubah menjadi perlombaan yang tidak pernah selesai.
Ada target baru setelah target lama tercapai. Ada posisi baru yang harus dikejar setelah promosi didapatkan. Ada pencapaian lain yang selalu tampak lebih menarik di kejauhan.
Kita terus berlari.
Padahal sering kali kita tidak lagi tahu ke mana sebenarnya tujuan perjalanan itu.
Jerman dikenal sebagai salah satu negara dengan produktivitas kerja yang tinggi di dunia. Menariknya, produktivitas itu tidak dibangun dengan memaksa orang bekerja tanpa henti.
Sebaliknya, masyarakat Jerman memiliki penghargaan yang besar terhadap waktu pribadi.
Saat jam kerja selesai, banyak orang benar-benar pulang. Akhir pekan digunakan untuk keluarga, olahraga, berjalan di alam, membaca buku, berkebun, atau menikmati secangkir kopi tanpa gangguan pekerjaan.
Mereka memahami bahwa manusia bukan mesin.
Tubuh membutuhkan istirahat.
Pikiran membutuhkan ruang.
Hati membutuhkan ketenangan.
Justru karena itulah seseorang dapat kembali bekerja dengan energi yang utuh keesokan harinya.
Produktivitas sejati bukan berasal dari bekerja lebih lama.
Produktivitas lahir dari bekerja dengan lebih sehat.
Sayangnya, banyak dari kita dibesarkan dengan keyakinan berbeda.
Semakin sibuk dianggap semakin sukses.
Semakin sedikit tidur dianggap semakin berdedikasi.
Semakin jarang pulang dianggap semakin profesional.
Kita bangga mengatakan bahwa kita tidak punya waktu.
Padahal bisa jadi itu bukan tanda keberhasilan.
Bisa jadi itu tanda bahwa hidup mulai kehilangan keseimbangan.
Sebab keseimbangan hidup bukan berarti membagi waktu secara matematis antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Work-life balance yang sesungguhnya jauh lebih sederhana.
Ia adalah kemampuan untuk hadir sepenuhnya di tempat kita berada.
Saat bekerja, kita bekerja dengan sungguh-sungguh.
Saat bersama keluarga, kita benar-benar bersama keluarga.
Saat berolahraga, pikiran tidak sibuk memikirkan email kantor.
Saat berdoa, hati tidak terus menghitung target bulan depan.
Keseimbangan bukan soal jumlah jam.
Keseimbangan adalah soal kehadiran.
Saya teringat momen sederhana yang mungkin pernah dialami banyak orang.
Pagi hari. Secangkir kopi hangat di tangan. Udara masih sejuk. Tidak ada rapat daring. Tidak ada notifikasi mendesak. Tidak ada tenggat waktu yang menghantui.
Hanya suara burung, aroma kopi, dan rasa syukur karena masih diberi satu hari lagi untuk hidup.
Momen seperti itu sering dianggap biasa.
Padahal justru itulah kekayaan yang sesungguhnya.
Bukan rekening yang terus bertambah.
Bukan kartu nama dengan jabatan yang panjang.
Melainkan kemampuan menikmati hidup tanpa terburu-buru.
Kemampuan menghirup udara pagi dengan tenang.
Kemampuan tertawa bersama keluarga tanpa melihat jam.
Kemampuan berlari kecil saat jogging sambil merasakan tubuh yang masih sehat.
Kemampuan duduk diam dan berkata kepada diri sendiri:
“Hari ini cukup.”
Ada pula pepatah Jerman lain yang indah:
“Die Zeit kommt nie zurück.“
Waktu tidak pernah kembali.
Kita bisa mencari uang lagi.
Kita bisa mendapatkan pekerjaan baru.
Kita bisa membangun bisnis baru.
Namun waktu yang telah lewat tidak pernah dapat dibeli kembali.
Tidak ada perusahaan yang mampu mengembalikan masa kecil anak yang terlewat.
Tidak ada jabatan yang dapat menghadirkan kembali makan malam keluarga yang tidak pernah sempat dinikmati bersama.
Tidak ada bonus tahunan yang mampu membeli ulang kesehatan yang hilang akibat stres berkepanjangan.
Karena itu, pertanyaan terpenting dalam hidup mungkin bukan:
“Seberapa keras saya bekerja?”
Melainkan:
“Apakah saya masih memiliki waktu untuk benar-benar hidup?”
Dan hidup yang utuh bukan hanya tentang pekerjaan, keluarga, atau kesehatan.
Ada satu dimensi yang sering terlupakan: hubungan dengan Tuhan.
Betapa mudahnya kita menyediakan waktu untuk rapat berjam-jam, tetapi sulit meluangkan beberapa menit untuk berdoa.
Betapa disiplin kita memenuhi agenda pekerjaan, tetapi sering menunda saat hendak berlutut di hadapan-Nya.
Padahal jiwa juga membutuhkan perhatian sebagaimana tubuh membutuhkan makanan.
Kadang keseimbangan hidup yang sejati dimulai dari sana.
Dari keberanian untuk berhenti sejenak.
Mematikan layar.
Menenangkan pikiran.
Lalu berdoa.
Bersyukur.
Mendengarkan.
Mengingat kembali bahwa nilai diri kita tidak ditentukan oleh jabatan, gaji, atau pencapaian.
Melainkan oleh kenyataan bahwa kita adalah manusia yang dicintai Tuhan.
Pada akhirnya, hidup yang berhasil bukanlah hidup yang paling sibuk.
Bukan pula hidup dengan daftar pencapaian terpanjang.
Hidup yang berhasil adalah hidup yang tetap memiliki ruang untuk bekerja dengan baik, mencintai keluarga dengan tulus, menjaga kesehatan dengan bijak, menikmati secangkir kopi dengan tenang, dan berlutut di hadapan Tuhan dengan hati yang damai.
Karena seperti kata orang Jerman:
“Man arbeitet, um zu leben, nicht man lebt, um zu arbeiten.“
Kita bekerja untuk hidup.
Maka jangan sampai kesibukan mencari kehidupan justru membuat kita lupa menjalani kehidupan itu sendiri. ***
Leave a Reply