Setelah berjalan beberapa kilometer di jalur VulkanMaar-Pfad, kami akhirnya tiba di salah satu lokasi yang paling berkesan selama perjalanan di kawasan Vulkaneifel.
Sebuah danau kawah yang tenang.
Di tepinya berdiri sebuah kapel putih kecil.
Dan di sekelilingnya terdapat kompleks pemakaman tua yang masih digunakan hingga sekarang.
Tempat itu adalah Weinfelder Maar.
Namun banyak orang mengenalnya dengan nama lain yang lebih mengundang rasa penasaran.
Totenmaar.
Danau Orang Mati.
Nama itu terdengar seperti judul novel misteri.
Namun sejarah di baliknya memang tidak biasa.
Di tepi danau berdiri Weinfelder Kapelle, sebuah kapel kecil yang secara resmi bernama Gereja Katolik Santo Martinus.
Di sekelilingnya terdapat Friedhof Weinfeld, kompleks pemakaman yang terawat rapi.
Suasananya sangat tenang.
Begitu tenang hingga suara langkah kaki terdengar jelas.
Angin berembus pelan dari permukaan danau.
Burung-burung sesekali melintas di atas air yang memantulkan langit seperti cermin.
Sulit membayangkan bahwa dahulu pernah berdiri sebuah desa di tempat tersebut.
Menurut sejarah setempat, desa bernama Weinfeld pernah berkembang di kawasan ini.
Namun pada awal abad ke-16, wabah pes melanda wilayah tersebut.
Penduduk meninggalkan desa mereka demi menyelamatkan diri.
Perlahan-lahan desa itu hilang.Rumah-rumahnya lenyap.
Kehidupan yang pernah ada di sana menghilang dari peta.
Yang tersisa hanyalah kapel dan pemakaman.
Karena itulah danau ini kemudian dikenal dengan julukan Totenmaar.
Saat berdiri di sana, saya memandangi deretan nisan tua yang menghadap ke arah danau.
Di antara nisan tua — yang tentunya pakai salib semua — saya melihat banyak bunga tabur serta bunga yang diletakkan di dekat batu nisan.
Alih-alih menyeramkan, tempat itu justru terasa damai.
Ada semerbak wangi rumput dan pohon, dan wangi bunga di sekitaran makan.
Di situ, ada suasana yang membuat orang ingin berbicara lebih pelan.
Atau bahkan memilih diam.
Anak saya kemudian menceritakan sebuah legenda yang cukup terkenal di kawasan itu.
Di dalam kapel terdapat tali lonceng tradisional.
Menurut cerita rakyat setempat, siapa pun yang menarik lonceng tersebut hingga berbunyi dapat memperoleh terkabulnya sebuah harapan.
Saya tidak tahu apakah legenda itu benar.
Tetapi saya memahami mengapa kisah seperti itu lahir.
Di tempat setenang ini, manusia memang lebih mudah berdoa dan berharap.
Selain pemandangan dan sejarahnya, ada hal lain yang membuat pengalaman wandern di Jerman meninggalkan kesan mendalam.
Keramahan orang-orangnya.
Sebelum datang ke Jerman, saya sering mendengar bahwa orang Jerman cenderung serius dan tidak banyak berbasa-basi.
Pengalaman saya justru sebaliknya.
Hampir setiap kali berpapasan dengan pendaki lain di tengah hutan, selalu ada sapaan.
“Hallo!”
Atau,
“Guten Tag!”
Sapaan sederhana itu diucapkan sambil tersenyum dan terus berjalan.
Awalnya saya merasa sedikit heran.
Namun lama-kelamaan saya mulai terbiasa.
Bahkan beberapa kali saya yang lebih dulu menyapa.
Dan hampir selalu mendapat balasan yang hangat.
Di salah satu titik pandang, kami berhenti untuk mengambil foto keluarga.
Muncullah persoalan klasik setiap liburan.
Jika semua orang ingin masuk ke dalam foto, siapa yang memegang kamera?
Ketika kami masih berdiskusi, seorang pendaki yang kebetulan lewat menghampiri dan menawarkan bantuan.
Dengan ramah ia mengambil telepon genggam kami dan memotret beberapa kali dari sudut yang berbeda.
Bahasa Inggrisnya sederhana.
Bahasa Jerman saya lebih sederhana lagi.
Namun senyum rupanya tidak membutuhkan penerjemah.
Beberapa menit kemudian ia mengembalikan telepon genggam kami, mengucapkan salam, lalu melanjutkan perjalanan.
Mungkin hanya peristiwa kecil.
Namun justru momen-momen seperti itulah yang paling lama tinggal dalam ingatan.
Menjelang sore kami kembali menuju tempat parkir.
Kaki terasa lelah.
Betis mulai mengirimkan protes.
Saya pun kembali menyadari kenyataan yang sudah beberapa kali saya abaikan selama perjalanan di Jerman.
Bahwa usia dan berat badan tidak pernah bisa dibohongi.
Dalam perjalanan pulang, saya membuat janji kepada diri sendiri.
Sepulang ke Indonesia saya harus lebih rajin berolahraga.
Lebih disiplin berjalan kaki.
Lebih serius mengurangi lemak yang selama ini menempel dengan setia.
Rencananya terdengar sangat bagus.
Masalahnya, saya juga mengenal diri sendiri cukup baik.
Karena itu saya tidak berani menjamin apakah tekad tersebut akan bertahan berbulan-bulan atau hanya sampai saya kembali bertemu semangkuk mi favorit dan secangkir kopi hangat.
Namun satu hal yang pasti.
Totenmaar telah meninggalkan pelajaran yang sulit saya lupakan.
Tentang sejarah yang nyaris hilang.
Tentang keheningan yang menenangkan.
Tentang keramahan orang-orang asing di tengah hutan.
Dan tentang pentingnya menjaga tubuh selagi masih diberi kesempatan untuk menikmati keindahan dunia dengan langkah kaki sendiri. ***
Leave a Reply