Di Balik Dinding Burg Cochem: Ketika Kastel Jerman Mengingatkan Saya pada Badel Antak Milik Ayah

Ratusan tahun lalu kastel ini dibangun untuk menghadapi perang. Hari ini, orang datang untuk menikmati keindahannya. Waktu memang mampu mengubah fungsi, tetapi tidak selalu menghapus makna

Selama berada di kawasan Mosel, ada satu bangunan yang hampir selalu mencuri perhatian saya.

Ke mana pun mata memandang dari kota tua Cochem, bangunan itu selalu terlihat berdiri gagah di atas bukit. Menara-menara batu menjulang ke langit. Dinding-dinding kokohnya mengawasi lembah Sungai Mosel yang membentang di bawah sana.

Bangunan itu adalah Reichsburg Cochem, atau yang lebih akrab disebut warga setempat sebagai Burg Cochem.

Dalam bahasa Jerman, Burg berarti kastel atau benteng.

Dan seperti banyak kastel di Eropa, Burg Cochem tampak seolah keluar dari halaman buku dongeng.

Awalnya kami hanya menikmati keindahannya dari kejauhan. Dari tepi Sungai Mosel. Dari gang-gang kota tua yang dipenuhi rumah setengah kayu. Atau dari kereta yang membawa kami melintasi lembah hijau Mosel.

Namun rasa penasaran akhirnya menang.

Kami memutuskan untuk masuk dan melihat sendiri bagian dalam kastel yang selama berabad-abad menjadi penjaga kota kecil itu.

Memilih Bahasa Inggris karena Bahasa Jerman Terlalu Berani

Untuk memasuki kastel, setiap pengunjung harus membeli tiket dan mengikuti tur berpemandu.

Tidak ada pilihan berjalan sendiri sesuka hati.

Setelah membeli tiket, petugas menawarkan dua kelompok tur.

Bahasa Jerman.

Atau bahasa Inggris.

Tanpa banyak diskusi, kami memilih bahasa Inggris.

Bukan karena kemampuan bahasa Inggris kami hebat.

Justru sebaliknya.

Kami sadar kemampuan bahasa Inggris kami pas-pasan.

Namun dibandingkan kemampuan bahasa Jerman yang hanya sebatas Hallo, Danke, Bitte, dan beberapa kata yang dihafal secara darurat selama berada di Jerman, bahasa Inggris terasa jauh lebih masuk akal.

“Hahaha…”

Begitulah kesimpulan keluarga kami saat itu.

Pemandu berbicara dengan penuh semangat.

Sesekali saya memahami seluruh penjelasannya.

Sesekali saya hanya menangkap beberapa kata kunci lalu berusaha menyusun sendiri maknanya.

Untunglah sejarah tidak hanya hidup melalui kata-kata.

Ia juga hidup melalui benda-benda yang tersimpan di dalam kastel.

Aula Ksatria dan Kehidupan Para Bangsawan

Kami diajak memasuki berbagai ruangan yang dahulu digunakan penghuni kastel.

Langit-langit kayu yang tinggi.

Lampu gantung klasik.

Ukiran-ukiran rumit.

Meja dan kursi antik.

Semuanya menghadirkan suasana Eropa abad pertengahan yang selama ini hanya saya lihat dalam film atau buku.

Salah satu ruangan yang paling menarik adalah Aula Ksatria.

Ruangan besar itu dahulu digunakan untuk berbagai pertemuan penting dan jamuan para bangsawan.

Saya membayangkan para penguasa wilayah Mosel duduk di sana ratusan tahun lalu. Mereka mungkin membahas perdagangan, politik, peperangan, atau sekadar menikmati makan malam sambil minum anggur dari kebun-kebun di lereng Mosel.

Di ruangan lain terdapat berbagai perabot antik, lemari ukiran, dekorasi bergaya Gotik dan Renaisans, serta benda-benda yang menunjukkan bagaimana kaum bangsawan hidup pada zamannya.

Sebagian tampak sederhana menurut ukuran masa kini.

Namun pada masanya, benda-benda tersebut adalah simbol kemewahan dan kekuasaan.

Senjata Tua dan Kenangan dari Kampung

Bagian yang paling menarik perhatian saya justru berada di ruang senjata.

Di sana tersimpan berbagai perlengkapan perang dari masa lalu.

Baju zirah besi berdiri tegak seperti masih menunggu pemiliknya kembali dari medan tempur.

Pedang, tombak, kapak perang, dan berbagai senjata kuno dipamerkan di dalam ruangan.

Saya memperhatikan benda-benda itu cukup lama.

Sebagian sudah berusia ratusan tahun.

Sebagian mungkin pernah digunakan dalam peperangan yang mengubah sejarah wilayah ini.

Namun anehnya, benda-benda itu justru membawa pikiran saya pulang ke kampung.

Saya teringat kepada ayah.

Di kampung kami, senjata api tradisional untuk berburu dikenal dengan nama Badel Antak.

Bentuknya tentu berbeda dengan senjata yang dipamerkan di Burg Cochem.

Tidak semegah senjata para bangsawan Eropa.

Tidak pula menjadi bagian dari sejarah kerajaan.

Namun bagi keluarga kami, benda itu memiliki nilai yang tidak kalah penting.

Ayah selalu merawat Badel Antak miliknya dengan penuh perhatian.

Setelah digunakan berburu, senjata itu dibersihkan dengan teliti. Bagian logam diolesi oli agar tidak berkarat. Popor kayunya digosok menggunakan minyak kelapa hingga berkilau.

Saya masih ingat bagaimana guratan-guratan serat kayu pada popor itu tampak hidup ketika terkena cahaya matahari.

Ada kebanggaan tersendiri ketika ayah memegangnya.

Bukan karena memiliki senjata.

Melainkan karena alat itu menjadi teman setia dalam mencari nafkah dan menjaga ladang dari gangguan babi hutan.

Entah sudah berapa puluh.

Atau mungkin berapa ratus ekor babi hutan yang berhasil ditembak ayah sepanjang hidupnya.

Saya tidak pernah menghitungnya.

Yang saya ingat adalah cerita-cerita perburuan yang kerap terdengar di rumah. Tentang jejak babi di tanah basah. Tentang perjalanan menyusuri hutan. Tentang malam panjang di pondok ladang. Tentang keberhasilan maupun kegagalan yang selalu diceritakan dengan senyum.

Berdiri di dalam kastel tua di Jerman, saya tiba-tiba menyadari bahwa benda-benda sejarah memiliki kemampuan yang aneh.

Mereka mampu membawa seseorang melintasi ruang dan waktu.

Di depan saya terpajang senjata para bangsawan Eropa dari berabad-abad silam.

Namun yang muncul dalam benak justru sebuah Badel Antak tua milik ayah di kampung, lengkap dengan kilau minyak kelapa pada popor kayunya dan kenangan masa kecil yang masih tersimpan hingga hari ini.

Ruang Berburu dan Trofi Para Bangsawan

Tak jauh dari ruang senjata terdapat ruang berburu.

Di sana dipajang berbagai trofi perburuan berupa tanduk rusa dan atribut berburu yang dahulu menjadi kebanggaan para bangsawan.

Pada masa itu, berburu bukan sekadar kegiatan mencari makanan.

Berburu juga menjadi simbol status sosial.

Semakin besar hasil buruan, semakin tinggi pula gengsi yang diperoleh.

Melihat ruangan itu, saya kembali teringat kampung.

Tentu tujuan dan suasananya berbeda.

Para bangsawan berburu untuk kehormatan dan rekreasi.

Sementara banyak orang di kampung berburu untuk melindungi ladang atau memenuhi kebutuhan keluarga.

Namun pada akhirnya, manusia di berbagai tempat ternyata memiliki hubungan yang hampir sama dengan alam di sekitarnya.

Pemandangan yang Membuat Segalanya Terbayar

Meski koleksi kastel sangat menarik, daya tarik terbesar Burg Cochem sebenarnya berada di luar jendelanya.

Dari halaman kastel, pemandangan lembah Mosel terbentang tanpa halangan.

Sungai berkelok tenang di antara perbukitan hijau.

Kebun-kebun anggur menempel di lereng curam.

Atap-atap rumah kota tua Cochem tersusun rapi di bawah sana.

Kapal-kapal wisata tampak kecil ketika bergerak menyusuri sungai.

Saya berdiri cukup lama menikmati panorama itu.

Angin musim panas bertiup lembut.

Langit biru membentang luas.

Dan untuk sesaat saya memahami mengapa para penguasa masa lalu memilih lokasi ini untuk membangun benteng.

Tempat ini bukan hanya indah.

Tetapi juga strategis.

Dari ketinggian tersebut, mereka dapat mengawasi seluruh lembah dan jalur perdagangan yang melintasi Sungai Mosel.

Ketika tur berakhir dan kami mulai meninggalkan kastel, saya menoleh sekali lagi ke arah menara-menara batu yang menjulang tinggi.

Sebagian orang datang ke Cochem untuk menikmati anggur Mosel.

Sebagian lagi datang untuk berjalan-jalan di kota tua yang menawan.

Bagi saya, mengunjungi Burg Cochem adalah kesempatan menyentuh sepotong sejarah Eropa secara langsung.

Melihat ruang-ruang para bangsawan.

Mengamati senjata dan trofi perburuan dari masa lalu.

Menikmati panorama lembah Mosel dari ketinggian.

Dan tanpa diduga, mengenang kembali sosok ayah serta Badel Antak tua yang pernah menjadi bagian dari masa kecil saya di kampung.

Karena sering kali, perjalanan bukan hanya membawa kita ke tempat baru.

Ia juga membawa kita kembali ke tempat-tempat lama yang selama ini diam-diam tinggal di dalam ingatan. ***


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *