Ketika La Roja Berangkat ke Piala Dunia Tanpa Real Madrid

Tidak ada pemain Real Madrid di skuad Spanyol kali ini. Bagi sebagian orang itu hanya daftar nama. Bagi saya, itu penanda bahwa sebuah generasi telah berlalu.

Ada kabar sepak bola yang tidak membuat saya marah, tidak juga membuat saya terkejut. Hanya meninggalkan perasaan aneh.

Timnas Spanyol telah mengumumkan skuad untuk Piala Dunia 2026. Nama-nama besar ada di sana. Generasi muda berbakat juga hadir. Namun ketika saya membaca daftar itu perlahan, ada sesuatu yang terasa hilang.

Tidak ada pemain Real Madrid.

Awalnya saya mengira ada nama yang terlewat. Saya membaca ulang. Tetap tidak ada.

Sebagai Madridista, saya sadar bahwa tim nasional bukanlah perpanjangan tangan sebuah klub. Pemanggilan pemain harus didasarkan pada performa dan kebutuhan tim. Pelatih tentu memiliki pertimbangannya sendiri. Tetapi tetap saja, ada rasa yang sulit dijelaskan ketika melihat Spanyol berangkat ke Piala Dunia tanpa satu pun pemain dari Real Madrid.

Mungkin karena saya tumbuh dengan nama-nama yang begitu melekat antara Real Madrid dan timnas Spanyol.

Saya masih ingat Iker Casillas mengangkat trofi Piala Dunia 2010. Saya ingat Sergio Ramos yang selalu bermain dengan semangat yang seolah tak pernah habis. Saya ingat Xabi Alonso yang mengendalikan permainan dengan tenang. Mereka bukan hanya pemain Real Madrid. Mereka juga wajah dari La Roja.

Dalam ingatan saya, Real Madrid dan tim nasional Spanyol selalu memiliki hubungan yang sulit dipisahkan.

Karena itulah berita ini terasa ganjil.

Bukan karena Spanyol akan menjadi lebih lemah tanpa pemain Madrid. Bukan pula karena saya ingin tim nasional diisi oleh pemain dari klub tertentu. Melainkan karena fakta ini seperti menjadi cermin yang memperlihatkan kondisi Real Madrid saat ini.

Musim ini memang tidak berjalan baik.

Trofi tidak datang. Cedera berdatangan. Permainan sering kehilangan konsistensi. Kini, ketika daftar pemain timnas diumumkan, Real Madrid bahkan tidak memiliki satu nama pun yang dianggap layak masuk ke dalam 26 pemain terbaik Spanyol saat ini.

Bagi saya, inilah bagian yang paling menyakitkan.

Bukan soal rivalitas dengan Barcelona yang menyumbang banyak pemain ke tim nasional. Bukan soal perdebatan siapa yang lebih dominan dalam sepak bola Spanyol saat ini.

Yang terasa menyakitkan adalah kesadaran bahwa sebuah era memang telah berlalu.

Generasi Casillas, Ramos, Arbeloa, Alonso, dan Carvajal perlahan berubah menjadi kenangan. Nama-nama baru belum sepenuhnya mengambil tempat mereka. Ada ruang kosong yang masih menunggu untuk diisi.

Namun sepak bola selalu bergerak dalam lingkaran.

Barcelona pernah mengalami masa sulit. Tim nasional Spanyol juga pernah mengalami periode suram. Bahkan Real Madrid sendiri berkali-kali jatuh sebelum akhirnya bangkit lebih kuat.

Karena itu saya memilih melihat kabar ini bukan sebagai penghinaan, melainkan pengingat.

Pengingat bahwa kejayaan tidak pernah bersifat permanen.

Pengingat bahwa sebuah klub sebesar Real Madrid pun bisa mengalami masa ketika tidak ada pemainnya yang mengenakan seragam tim nasional.

Dan mungkin, justru dari titik seperti inilah sebuah kebangkitan dimulai.

Beberapa tahun dari sekarang, bisa saja muncul generasi baru yang kembali menjadi tulang punggung Spanyol. Bisa saja Santiago Bernabéu kembali melahirkan pemain-pemain yang mengisi daftar skuad La Roja.

Saya tidak tahu kapan itu akan terjadi.

Tetapi sebagai seorang Madridista, saya memilih untuk percaya bahwa suatu hari nanti, ketika daftar pemain timnas Spanyol diumumkan kembali, saya tidak perlu membaca dua kali untuk menemukan nama pemain Real Madrid di dalamnya.

Karena harapan, sama seperti sepak bola, selalu menemukan cara untuk bertahan.

Hala Madrid! ***


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *