Selama hampir sebulan berada di Jerman, saya menyadari bahwa kenangan terbaik tidak selalu lahir dari tempat-tempat terkenal.
Bukan dari kastel megah.
Bukan dari kota-kota tua yang dipenuhi wisatawan.
Bukan pula dari museum atau bangunan bersejarah.
Kadang kenangan terbaik justru lahir dari kehidupan sehari-hari yang sederhana.
Seperti hari-hari yang kami jalani di Lüxem dan Bombogen.
Lüxem adalah sebuah desa kecil yang menjadi bagian dari wilayah Wittlich, di negara bagian Rheinland-Pfalz. Sekilas tidak ada yang istimewa. Tidak ada bangunan monumental yang masuk buku sejarah. Tidak ada keramaian wisatawan yang datang berbondong-bondong.
Namun justru di situlah letak pesonanya.
Desa ini tenang.
Jalan-jalannya bersih.
Rumah-rumah berdiri rapi dengan halaman yang terawat.
Udara musim panas terasa sejuk dan segar.
Ketika pagi datang, suara burung lebih sering terdengar daripada suara kendaraan.
Sore hari berjalan lambat.
Malam tiba dengan tenang.
Semua terasa teratur.
Semua terasa nyaman.
Kalau ada satu kekurangan tinggal di Lüxem, mungkin sama seperti banyak kota kecil di Jerman dan Eropa pada umumnya.
Mobil hampir menjadi kebutuhan.
Jika ingin bepergian ke kota lain, berbelanja dalam jumlah besar, atau sekadar mengunjungi tempat yang agak jauh, kendaraan pribadi sangat membantu.
Pilihan lainnya adalah berjalan kaki menuju halte bus atau stasiun kereta terdekat.
Untungnya transportasi umum di Jerman cukup baik, sehingga meski tidak memiliki mobil, orang tetap bisa bepergian dengan relatif mudah.
Meski begitu, saya mulai memahami mengapa hampir setiap keluarga di desa-desa seperti ini memiliki mobil.
Karena kehidupan memang dirancang untuk bergerak dari satu desa ke desa lainnya.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian kami adalah keberadaan ladang-ladang bunga matahari.
Di beberapa sudut desa, hamparan bunga matahari berdiri menghadap matahari musim panas.
Kuning.
Tinggi.
Dan begitu cerah.
Suatu hari istri dan putri kami melihat sebuah lapak sederhana di pinggir jalan.
Tidak ada penjaga.
Tidak ada kasir.
Hanya bunga matahari yang sudah dipotong rapi dan sebuah kotak kecil untuk pembayaran.
Caranya sederhana.
Pilih bunga yang disukai.
Lalu masukkan uang sesuai jumlah yang dibeli ke dalam kotak yang disediakan.
Sistem yang bagi saya terasa unik.
Kepercayaan menjadi fondasinya.
Tidak ada yang mengawasi.
Tidak ada kamera yang mencolok.
Namun orang-orang tetap membayar dengan jujur.
Saya tersenyum melihatnya.
Kadang sebuah masyarakat maju dibangun bukan hanya oleh teknologi atau hukum yang ketat, tetapi juga oleh kebiasaan saling percaya yang tumbuh selama bertahun-tahun.
Selain tinggal di Lüxem, kami juga beberapa kali mengunjungi besan kami di Bombogen, desa kecil yang letaknya tidak jauh dari sana.
Bombogen bahkan terasa lebih tenang.
Rumah-rumah berdiri berjauhan.
Jalan-jalan kecil membelah kawasan perumahan yang asri.
Di kejauhan terlihat ladang dan hamparan hijau yang menenangkan mata.
Namun bagian favorit saya justru berada di belakang rumah besan.
Di sana terdapat taman bunga yang tertata rapi.
Berbagai warna bermekaran sepanjang musim panas.
Di sampingnya terdapat kebun sayur yang menghasilkan berbagai kebutuhan dapur sehari-hari.
Selada.
Tomat.
Mentimun.
Zucchini.
Berbagai rempah.
Dan tanaman lain yang sebagian bahkan tidak saya kenal namanya.
Saya memperhatikan bahwa orang Jerman tampaknya sangat menyukai kegiatan berkebun.
Hampir setiap rumah memiliki tanaman.
Ada yang menanam bunga.
Ada yang menanam sayuran.
Ada pula yang menggabungkan keduanya.
Berkebun bukan sekadar cara menghasilkan bahan makanan.
Melainkan bagian dari gaya hidup.
Mereka merawat tanaman seperti merawat hobi.
Dengan sabar.
Dengan telaten.
Dengan kebanggaan tersendiri ketika panen tiba.
Saya sering melihat orang-orang berusia lanjut menghabiskan sore di halaman rumah, memangkas tanaman, menyiram bunga, atau membersihkan kebun.
Tidak tergesa-gesa.
Tidak terburu-buru.
Seolah mereka menikmati setiap menit yang berlalu.
Melihat semua itu, saya teringat kampung halaman.
Kami juga dekat dengan alam.
Kami juga menanam berbagai tanaman untuk kebutuhan sehari-hari.
Hanya bentuknya yang berbeda.
Di Kalimantan ada ladang.
Ada kebun karet.
Ada kebun buah.
Di Jerman ada taman bunga dan kebun sayur yang tertata rapi.
Namun pada dasarnya, manusia tetaplah sama.
Kami semua membutuhkan tanah untuk ditanami.
Kami semua membutuhkan sesuatu untuk dirawat dan ditumbuhkan.
Ketika mengenang Jerman, saya tentu akan mengingat Porta Nigra di Trier.
Saya akan mengingat Sungai Mosel yang indah.
Saya akan mengingat Burg Cochem yang berdiri megah di atas bukit.
Tetapi saya juga akan mengingat hal-hal sederhana.
Hamparan bunga matahari di pinggir jalan Lüxem.
Kotak pembayaran yang mengandalkan kejujuran.
Kebun sayur di belakang rumah besan di Bombogen.
Dan sore yang tenang ketika saya dan istri duduk di taman sambil berbincang tentang kehidupan.
Karena sering kali, kebahagiaan tidak ditemukan di tempat-tempat yang luar biasa.
Ia justru tumbuh diam-diam di tempat-tempat yang sederhana. ***
Leave a Reply