Selama berkunjung ke Jerman, saya belajar banyak hal.
Ada yang besar dan mudah terlihat.
Kereta api yang teratur.
Kota-kota yang bersih.
Jalur sepeda yang nyaman.
Bangunan-bangunan tua yang telah berdiri selama ratusan bahkan ribuan tahun.
Namun ada pula pelajaran yang datang dari hal yang sangat sederhana.
Yaitu bagaimana orang Jerman memperlakukan makanan.
Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan.
Namun semakin lama tinggal di rumah anak dan menantu kami di Lüxem, sebuah desa kecil di wilayah Wittlich, saya mulai melihat pola yang sama berulang kali.
Makanan tidak dibuang sembarangan.
Jika masih layak dimakan, makanan akan disimpan.
Jika masih bisa diolah, makanan akan diolah kembali.
Jika ada makanan tersisa di meja, biasanya akan dihabiskan oleh anggota keluarga yang lain.
Saya menyadari bahwa bagi banyak orang Jerman, membuang makanan bukanlah sesuatu yang lumrah.
Makanan dihargai.
Makanan diperlakukan dengan hormat.
Barangkali itulah salah satu alasan mengapa berbagai gerakan penyelamatan makanan, pengurangan limbah pangan, dan kampanye anti-pemborosan cukup berkembang di negara ini.
Semakin saya memperhatikan kebiasaan tersebut, semakin saya teringat pada kampung halaman.
Menghormati Beras
Ketika masih kecil, saya tidak pernah mendengar istilah ketahanan pangan.
Saya juga tidak mengenal konsep ekonomi hijau.
Namun saya ingat betul bagaimana orang tua memperlakukan beras.
Di rumah-rumah kampung dahulu, beras biasanya disimpan dalam tempayan atau wadah khusus.
Saat mengambil beras, orang tua tidak melakukannya sembarangan.
Mereka tidak berdiri sambil membungkuk dan menungging ke arah tempayan.
Biasanya mereka merendahkan badan atau jongkok ketika mencedok beras.
Sebagai anak-anak, kami tidak banyak bertanya.
Kami hanya mengikuti.
Belakangan saya menyadari bahwa tindakan sederhana itu sesungguhnya adalah bentuk penghormatan.
Karena beras bukan sekadar bahan makanan.
Beras adalah sumber kehidupan.
Dalam tradisi lisan masyarakat Dayak Baahe, terdapat kisah yang selalu saya ingat hingga sekarang.
Konon, padi berasal dari langit.
Padi adalah makanan Jubata.
Padi dibawa ke bumi oleh jubata yang menyamar menjadi anak remaja bernama Nek Baruakng Kulup.
Cara membawanya pun tidak biasa.
Menurut cerita para tetua, sebutir padi diselundupkan dari surga melalui ujung kemaluannya yang pada saat itu belum disunat.
Ia berpesan agak padi itu ditanam, tapi jangan di lahan terbuka supaya cahaya dari bulir padi yang keemasan tidak terlihat dari langit.
Sebagai anak-anak, kami tentu tertawa mendengar kisah itu.
Namun semakin dewasa, saya memahami bahwa inti cerita tersebut bukan pada bagian yang lucu.
Pesan utamanya adalah bahwa padi merupakan anugerah yang sangat berharga.
Ia berasal dari tempat yang suci.
Ia membawa kehidupan.
Karena itu tidak boleh disia-siakan.
Mungkin itulah sebabnya orang tua zaman dulu selalu mengingatkan agar jangan membuang nasi.
Jangan bermain-main dengan makanan.
Jangan meninggalkan makanan di piring.
Karena setiap butir memiliki nilai.
Semangkuk Mi Instan yang Membuka Mata
Pelajaran tentang menghargai makanan kembali saya alami dalam peristiwa yang sederhana.
Ketika itu menantu kami datang ke Pontianak.
Saat itu ia masih berstatus pacar putri kami.
Perjalanan dari Eropa menuju Indonesia sangat panjang.
Dari bandara di Luxembourg — satu negara tetangga Jerman — ke Jakarta, lalu melanjutkan penerbangan ke Pontianak.
Suatu hari kami makan bersama di kafe.
Anak bungsu kami tidak menghabiskan mi instan yang ada di mangkuknya.
Tanpa banyak bicara, menantu saya mengambil mangkuk tersebut dan menghabiskan sisanya.
Saya sempat berpikir dalam hati.
“Mungkin dia lapar sekali.”
Maklum, perjalanan jauh memang melelahkan.
Namun kemudian anak kami menjelaskan bahwa hal itu merupakan kebiasaan yang cukup umum dalam keluarga mereka.
Makanan yang masih baik tidak dibuang begitu saja.
Jika anak-anak tidak menghabiskannya, orang tua sering kali membantu menghabiskannya.
Bukan karena kekurangan makanan.
Bukan pula karena terlalu hemat.
Melainkan karena makanan dihargai.
Saya tersenyum mendengarnya.
Dan saya merasa kebiasaan itu sangat baik.
Bersyukur Karena Masih Bisa Makan
Suatu hari menantu saya mengatakan sesuatu yang sederhana.
“Kita harus bersyukur karena setiap hari masih bisa makan dan minum.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Namun semakin saya pikirkan, semakin terasa maknanya.
Di berbagai belahan dunia, jutaan orang masih berjuang mendapatkan makanan.
Di sejumlah negara Afrika, di kawasan konflik, atau di daerah-daerah yang dilanda kekeringan, makan tiga kali sehari bukanlah sesuatu yang pasti.
Apa yang bagi kita tampak biasa, bagi orang lain bisa menjadi kemewahan.
Karena itu membuang makanan yang masih layak makan bukan sekadar persoalan ekonomi.
Ia juga persoalan rasa syukur.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Meja Makan
Sering kali kita membicarakan ketahanan pangan dalam skala besar.
Tentang sawah.
Tentang produksi pertanian.
Tentang cadangan beras nasional.
Tentang kebijakan pemerintah.
Semua itu memang penting.
Namun saya mulai percaya bahwa ketahanan pangan juga dimulai dari rumah.
Dimulai dari dapur.
Dimulai dari meja makan.
Ketika kita mengambil makanan secukupnya.
Ketika kita berusaha menghabiskan apa yang telah kita ambil.
Ketika kita mengurangi pemborosan.
Maka kita sedang menghargai kerja petani, tanah, air, energi, dan seluruh proses panjang yang membuat makanan itu sampai ke meja kita.
Di sinilah saya melihat sebuah benang merah yang menarik antara kampung saya di Kalimantan dan kehidupan yang saya saksikan di Jerman.
Budayanya berbeda.
Bahasanya berbeda.
Sejarahnya berbeda.
Namun keduanya mengajarkan pelajaran yang sama.
Bahwa makanan adalah anugerah.
Bahwa setiap butir beras memiliki makna.
Bahwa kehidupan tidak boleh dianggap remeh.
Dan bahwa rasa syukur kadang sesederhana menghabiskan apa yang sudah tersaji di hadapan kita.
Saat kami pulang dari Jerman, saya pasti selalu akan mengingat Sungai Mosel dan Sungai Rhein.
Saya akan mengingat Porta Nigra.
Saya akan mengingat kastel-kastel tua dan jalur-jalur wandern yang indah.
Namun saya juga akan mengingat semangkuk mi instan yang tidak jadi dibuang.
Karena dari peristiwa kecil itu, saya belajar kembali sebuah pelajaran lama yang pernah diajarkan orang tua di kampung: hormatilah makanan, sebab di dalamnya ada kehidupan. ***
Leave a Reply