Ia menyebut dirinya penikmat senja.
Aku tidak pernah bertanya sejak kapan.
Barangkali karena sebagian hal memang lebih indah tanpa penjelasan. Seperti aroma tanah setelah hujan, seperti suara burung yang pulang ke rimbun pepohonan, atau seperti alasan mengapa seseorang tiba-tiba menjadi penting dalam hidup kita.
Aku mengenalnya pada sebuah musim yang biasa-biasa saja.
Musim ketika kota kecil kami tetap berjalan seperti biasa; kedai-kedai kopi dipenuhi percakapan panjang, orang-orang menyapa dari atas sepeda motor, dan langit sore perlahan berubah warna di atas deretan atap seng yang memantulkan cahaya keemasan.
Di kota kecil seperti ini, pertemuan sering kali terasa seperti kebetulan yang berulang.
Hari ini di toko buku.
Besok di kedai kopi.
Lusa berpapasan di trotoar yang sama.
Seolah semesta sedang mengulang sebuah adegan yang tidak ingin segera selesai.
Ia cantik.
Bukan cantik yang berisik.
Bukan pula cantik yang meminta perhatian.
Kulitnya terang seperti cahaya pagi yang jatuh di permukaan sungai. Wajahnya oval dengan garis-garis yang mengingatkanku pada ukiran kayu tua di rumah-rumah panjang pedalaman. Ada sesuatu yang begitu khas dan begitu akrab dalam wajahnya, seolah sebagian hutan, sungai, dan cerita leluhur berdiam diam di sana.
Namun yang paling membuatku terpikat bukanlah semua itu.
Melainkan kesederhanaannya.
Ia tidak pernah berusaha menjadi pusat ruangan.
Tidak pernah berlomba menjadi yang paling terlihat.
Tetapi entah bagaimana, kehadirannya selalu menjadi hal pertama yang kucari.
Suatu sore kami duduk di sebuah kedai kopi tua.
Di luar, hujan baru saja reda.
Jalanan berkilau seperti kaca.
Orang-orang bercengkerama tanpa tergesa. Seorang bapak tertawa keras di sudut ruangan. Dua anak muda sibuk bermain catur. Aroma kopi hitam bercampur bau tanah basah memenuhi udara.
Ia menatap ke luar jendela.
“Senja selalu tahu cara berpamitan,” katanya.
Aku mengikuti arah pandangnya.
Langit sedang berubah warna.
Jingga perlahan larut menjadi ungu.
“Mungkin karena ia tidak pernah berniat tinggal,” jawabku.
Ia tersenyum.
Dan untuk sesaat aku merasa ada kalimat lain yang tidak jadi ia ucapkan.
Ada orang-orang yang datang seperti badai.
Mengubah segalanya.
Lalu pergi meninggalkan reruntuhan.
Tetapi ia tidak seperti itu.
Ia datang seperti cahaya sore.
Perlahan.
Hangat.
Hampir tidak terasa.
Lalu suatu hari kau sadar bahwa sebagian hari-harimu diam-diam dipenuhi olehnya.
Aku tidak tahu kapan tepatnya mulai merindukannya.
Mungkin saat menemukan sesuatu yang lucu dan spontan ingin menceritakannya kepadanya.
Mungkin saat melihat secangkir kopi dan teringat percakapan kami yang belum selesai.
Atau mungkin saat menyadari bahwa beberapa tempat di kota ini menjadi lebih hidup ketika ia ada di dalamnya.
Ada jarak yang tidak terlihat di antara kami.
Jarak yang tidak dibuat oleh kilometer.
Tidak pula oleh waktu.
Melainkan oleh kehidupan itu sendiri.
Kami tidak pernah membicarakannya secara langsung.
Seperti dua orang yang sama-sama mengetahui keberadaan sebuah sungai, tetapi memilih tidak menunjuk ke arahnya.
Namun diam-diam kami tahu.
Bahwa beberapa jalan tidak diciptakan untuk bertemu.
Bahwa beberapa nama hanya boleh tinggal dalam doa dan kenangan.
Bahwa tidak semua rindu meminta jawaban.
Dalam buku-buku psikologi, manusia sering dikatakan merindukan orang yang membuat dirinya merasa dipahami.
Bukan sekadar didengar.
Tetapi dipahami.
Mungkin itulah sebabnya perasaanku terus bertahan.
Bersamanya, aku tidak perlu menjelaskan terlalu banyak.
Ia mengerti jeda dalam kalimat.
Mengerti keheningan.
Mengerti mengapa seseorang kadang tersenyum ketika sebenarnya sedang menyimpan banyak hal.
Dan aku merasa ia pun menemukan sesuatu yang sama.
Sebuah ruang tenang yang tidak selalu mudah ditemukan dalam hidup.
Suatu petang kami kembali bertemu.
Matahari hampir tenggelam.
Angin membawa aroma sungai dan dedaunan.
Burung-burung melintas menuju sarangnya.
“Kau pernah bertanya pada Tuhan tentang sesuatu?” tanyanya tiba-tiba.
“Sering.”
“Misalnya?”
Aku berpikir sejenak.
“Lalu mengapa beberapa pertemuan terasa begitu berarti meski tidak ditakdirkan menjadi perjalanan panjang.”
Ia terdiam.
Lama sekali.
Kemudian tersenyum pelan.
Senyum yang indah sekaligus sedih.
Seperti senja itu sendiri.
Hari mulai gelap.
Lampu-lampu kota menyala satu per satu.
Kami berdiri.
Lalu berjalan ke arah yang berbeda.
Tidak ada yang perlu dijanjikan.
Tidak ada yang perlu dijelaskan.
Karena sebagian kisah memang terlalu halus untuk diberi nama.
Dan sebagian rasa terlalu dalam untuk dimiliki.
Ketika aku menoleh sekali lagi, ia masih berdiri di sana.
Memandang sisa cahaya yang perlahan hilang dari langit.
Penikmat senja itu.
Perempuan yang mungkin tidak pernah benar-benar menjadi milikku.
Tetapi entah mengapa selalu terasa seperti rumah yang tidak bisa kutinggali.
Dan sejak hari itu aku mulai mengerti:
barangkali Tuhan tidak selalu mempertemukan dua hati agar mereka berjalan berdampingan.
Kadang Ia hanya ingin mereka saling mengenali.
Lalu membawa kenangan itu pulang, masing-masing, seperti sepotong cahaya senja yang diam-diam disimpan di dalam dada. ***
Leave a Reply