Ketika Real Madrid Mengakhiri Musim Tanpa Trofi

Castilo Gagas Panamuan saat di Santiago Bernabeu, stadion kebangaan Real Madrid
di Kota Madrid, Spanyol

Saya tidak pernah membayangkan akan menulis tulisan seperti ini di akhir musim.

Sebagai seorang Madridista, saya selalu memulai musim dengan harapan. Bukan karena Real Madrid harus selalu juara, tetapi karena klub ini sudah terlalu sering mengajarkan bahwa tidak ada yang mustahil.

Berkali-kali kami melihat kebangkitan yang sulit dijelaskan dengan logika. Berkali-kali pula kami percaya bahwa selama masih ada peluit akhir, harapan itu tetap hidup.

Karena itu, ketika musim dimulai dengan skuad yang begitu kuat dan nama-nama besar yang menghiasi lapangan, rasanya wajar jika ekspektasi melambung tinggi. Saya membayangkan malam-malam Liga Champions yang magis.

Saya membayangkan persaingan ketat di La Liga. Saya membayangkan setidaknya ada satu trofi yang bisa dirayakan di akhir musim.

Ternyata sepak bola punya cerita lain.

Satu demi satu harapan itu menghilang.

Ada pertandingan yang seharusnya bisa dimenangkan tetapi berakhir mengecewakan.

Ada momen-momen ketika tim terlihat kehilangan arah.

Ada juga pertandingan yang membuat saya mematikan televisi atau menutup aplikasi skor dengan perasaan kesal.

Yang paling sulit mungkin bukan kekalahan itu sendiri.

Dalam sepak bola, kalah adalah hal yang biasa. Yang terasa berat adalah menyaksikan tim yang kita cintai tidak mampu menunjukkan versi terbaiknya.

Cedera datang silih berganti. Konsistensi sulit ditemukan. Beberapa pemain tampil luar biasa di satu pertandingan lalu menghilang pada pertandingan berikutnya.

Kadang saya bertanya-tanya, apakah ini memang musim yang harus dilalui seperti ini?

Sebagai fans, saya tentu kecewa.

Apalagi ketika media sosial dipenuhi sindiran dari pendukung klub rival.

Grup WhatsApp yang biasanya ramai dengan diskusi sepak bola berubah menjadi tempat bercandaan yang kadang cukup menohok.

Saya hanya bisa tersenyum, karena memang tidak banyak yang bisa dibela ketika tim kesayangan mengakhiri musim tanpa gelar.

Namun setelah rasa kecewa itu mereda, saya mulai menyadari sesuatu.

Mungkin menjadi pendukung sebuah klub bukan hanya soal menikmati kemenangan.

Kalau hanya hadir saat tim juara, itu mudah. Yang sulit adalah tetap bertahan ketika tim sedang jatuh.

Tetap menonton meski peluang juara semakin kecil.

Tetap percaya meski musim berjalan tidak sesuai harapan.

Saya teringat bahwa Real Madrid yang saya kenal tidak dibangun hanya oleh trofi.

Klub ini juga dibentuk oleh kegagalan, kritik, dan masa-masa sulit yang kemudian melahirkan kebangkitan.

Bukankah beberapa kisah terbaik dalam sepak bola justru lahir setelah kekecewaan?

Mungkin musim ini memang harus berakhir tanpa piala. Mungkin musim ini akan menjadi bahan candaan bagi para rival. Mungkin juga ada banyak hal yang harus diperbaiki sebelum kompetisi berikutnya dimulai.

Tetapi saya tahu satu hal.

Ketika musim baru dimulai nanti, saya akan kembali berharap.

Saya akan kembali menunggu pertandingan pertama.

Saya akan kembali percaya bahwa tim ini bisa bangkit. Saya akan kembali merasakan debar yang sama setiap kali lagu kebangsaan Liga Champions berkumandang.

Karena pada akhirnya, menjadi Madridista bukan tentang selalu menang.

Menjadi Madridista adalah tentang tetap percaya, bahkan ketika musim berakhir tanpa trofi.

Hala Madrid y Nada Más. ***


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *