Perempuan yang Tinggal di Warna Jingga

Ia selalu datang ketika matahari hampir tenggelam.

Seolah ada perjanjian rahasia antara dirinya dan langit. Ketika warna jingga mulai menyentuh cakrawala, ketika burung-burung kembali ke sarang, dan ketika kota kecil mulai memperlambat langkahnya, di sanalah ia biasanya berada.

Aku menyebutnya gadis penikmat senja.

Barangkali karena aku tidak pernah menemukan nama lain yang lebih tepat.

Sore itu kami duduk di sebuah bukit kecil di pinggir kota. Dari sana terlihat lampu-lampu rumah mulai menyala satu demi satu. Sungai berkilau seperti pita perak yang membelah kegelapan. Angin membawa aroma rumput dan tanah yang masih menyimpan hangat siang.

Kami tidak banyak berbicara.

Ada orang-orang yang membuat percakapan terasa penting.

Namun ada pula orang-orang yang membuat keheningan terasa cukup.

Ia termasuk yang kedua.

“Kau tahu?” katanya pelan.

“Apa?”

“Senja selalu membuatku percaya bahwa sesuatu yang indah tidak harus berlangsung selamanya.”

Aku tersenyum.

Sebab sejak lama aku merasa kalimat itu tidak hanya berbicara tentang senja.


Malam turun perlahan.

Langit berubah menjadi hamparan beludru hitam yang ditaburi bintang-bintang. Udara semakin dingin. Jauh di bawah sana, suara kendaraan terdengar samar seperti alunan musik yang kehilangan liriknya.

Kami tetap duduk berdampingan.

Sesekali angin memainkan rambutnya.

Sesekali ia tertawa kecil karena cerita-cerita sederhana yang bahkan kini sudah tak kuingat lagi.

Yang kuingat hanyalah perasaannya.

Perasaan bahwa malam itu begitu damai.

Begitu utuh.

Seolah dunia berhenti berputar hanya untuk memberi ruang bagi dua manusia yang sedang menikmati keberadaan satu sama lain.


Ada kenangan yang tersimpan dalam pikiran.

Ada pula yang menetap di indera.

Aku masih mengingat aroma hujan yang menempel pada jaketnya.

Aroma kopi yang tertinggal di ujung jemarinya.

Kehangatan bahunya ketika malam semakin dingin.

Dan cara ia menatap langit seolah sedang berbicara dengan bintang-bintang.

Waktu berlalu.

Musim berganti.

Kota kecil itu tetap sama.

Kedai-kedai kopi masih ramai.

Orang-orang masih bercengkerama hingga larut malam.

Lampu-lampu jalan masih memantulkan cahaya kekuningan ketika hujan turun.

Tetapi malam itu tak pernah benar-benar pergi.

Ia tinggal sebagai cahaya kecil di sudut ingatan.


Kadang-kadang, ketika malam terlalu sunyi, aku masih teringat padanya.

Bukan pada kata-kata yang kami ucapkan.

Bukan pula pada cerita yang kami bagikan.

Melainkan pada rasa yang sulit dijelaskan.

Rasa ketika seseorang hadir dan membuat dunia menjadi sedikit lebih indah.

Dan entah mengapa, aku yakin ia pun sesekali mengingat malam yang sama.

Malam ketika kami duduk di bawah gugusan bintang.

Malam ketika angin membawa harum rerumputan.

Malam ketika senja yang kami nikmati bersama berubah perlahan menjadi kenangan.

Sebab ada beberapa perjumpaan yang tidak pernah benar-benar berakhir.

Mereka hanya berpindah tempat.

Dari dunia nyata ke dalam hati.

Lalu tinggal di sana, diam-diam, selama bertahun-tahun. ***


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *