“Beberapa kerinduan datang tanpa suara. Kadang hanya berupa aroma yang tiba-tiba kembali pada suatu malam.”
Malam di kampung selalu datang perlahan.
Tidak seperti di kota yang dipenuhi lampu dan suara kendaraan, malam di kampung turun bersama kabut tipis dari tepi sungai, bersama bunyi serangga yang mulai bersahutan, dan bersama angin yang berembus dari ladang-ladang yang telah ditinggalkan para petani pulang ke rumah.
Di sebuah rumah kayu sederhana, seorang anak perempuan kecil bersiap tidur.
Ia belum mengenal banyak hal tentang dunia. Belum tahu tentang kota-kota besar. Belum pernah membayangkan negeri-negeri yang jauh. Dunianya masih seluas jalan setapak menuju ladang, tepian Sunge Manur, halaman rumah yang dipenuhi ayam kampung, dan pelukan seorang perempuan tua yang dipanggilnya Nenek.
Malam-malam seperti itu adalah malam yang paling ia sukai.
Karena Nenek selalu bercerita.
Kadang tentang masa lalu.
Kadang tentang orang-orang yang pernah tinggal di kampung.
Kadang tentang musim panen yang melimpah.
Kadang tentang hutan yang dahulu lebih lebat daripada sekarang.
Anak perempuan itu jarang menyela. Ia hanya mendengarkan dengan mata yang mulai berat oleh kantuk, sementara suara neneknya mengalir pelan seperti air sungai yang tidak pernah terburu-buru.
Ketika cerita selesai, Nenek akan mengambil sehelai kain tua yang sudah menemaninya bertahun-tahun.
Kain itu tidak istimewa.
Warnanya sudah memudar.
Ujung-ujungnya mulai usang.
Bahkan mungkin bagi orang lain, kain itu sudah tidak layak dipakai.
Namun bagi anak kecil itu, tidak ada selimut yang lebih nyaman daripada kain tersebut.
Nenek akan menyelimutinya perlahan.
Merapikan bagian yang terbuka.
Lalu memastikan cucunya tidak kedinginan sebelum memejamkan mata.
Setiap kali kain itu menyentuh wajahnya, ada aroma yang selalu sama.
Aroma yang sulit dijelaskan.
Bukan aroma parfum.
Bukan aroma sabun.
Melainkan campuran dari banyak hal yang hanya dimiliki oleh kehidupan kampung.
Aroma kayu rumah yang telah lama berdiri.
Aroma asap dapur yang setiap hari mengepul dari tungku.
Aroma ladang yang basah setelah hujan.
Aroma matahari yang mengeringkan pakaian di halaman.
Dan mungkin juga aroma waktu yang telah menempel selama bertahun-tahun pada serat-serat kain tua itu.
Aroma itulah yang membuatnya merasa aman.
Seolah selama aroma itu masih ada, tidak ada sesuatu pun yang perlu ditakutkan.
Di luar rumah, angin malam bergerak perlahan.
Daun-daun sagu saling bergesekan.
Suara mereka terdengar lembut di kejauhan.
Sesekali terdengar anjing menggonggong.
Lalu semuanya kembali tenang.
Anak perempuan itu menarik kain lebih dekat ke tubuhnya.
Membiarkan aroma yang dikenalnya sejak kecil memenuhi seluruh ingatannya.
Lalu ia tertidur.
Esok pagi ia akan kembali mengikuti Nenek ke ladang.
Mereka akan berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah dikenalnya di luar kepala.
Melewati semak-semak.
Melewati pohon-pohon karet yang berjajar seperti penjaga tua kampung.
Melewati tanah merah yang kadang licin setelah hujan.
Ia senang ikut ke ladang.
Bukan karena pekerjaan di sana mudah.
Justru sebaliknya.
Pekerjaan di ladang membuat punggung pegal dan kulit menghitam oleh matahari.
Namun bersama Nenek, segala sesuatu terasa menyenangkan.
Kadang mereka membawa bekal sederhana.
Kadang hanya nasi dengan lauk yang dimasak pagi-pagi sebelum berangkat.
Mereka makan di pondok kecil sambil memandang hamparan ladang yang bergoyang ditiup angin.
Di sana ia belajar banyak hal tanpa pernah merasa sedang diajar.
Belajar bahwa padi tidak tumbuh dalam sehari.
Belajar bahwa hasil panen membutuhkan kesabaran.
Belajar bahwa hidup tidak selalu mudah.
Dan belajar bahwa kasih sayang sering kali hadir dalam bentuk yang sederhana.
Dalam sebungkus bekal.
Dalam genggaman tangan.
Dalam perjalanan panjang menuju ladang.
Dalam kain tua yang dipakai untuk menyelimuti cucunya setiap malam.
Musim panen adalah waktu yang paling meriah.
Sejak pagi orang-orang kampung sudah berkumpul.
Mereka datang membawa katam, alat sederhana yang digunakan untuk memotong bulir padi satu per satu.
Suara percakapan bercampur tawa memenuhi udara.
Tidak ada yang bekerja sendirian.
Setiap orang membantu satu sama lain.
Begitulah kampung mengajarkan arti kebersamaan.
Anak perempuan itu sering memperhatikan orang-orang dewasa bekerja.
Tangannya terlalu kecil untuk ikut membantu banyak hal.
Tetapi matanya menyimpan semuanya.
Gerakan tangan yang terampil.
Suara padi yang dipotong.
Tawa para perempuan.
Candaan para lelaki.
Dan rasa syukur yang selalu menyertai setiap musim panen.
Tahun-tahun berlalu.
Anak perempuan itu tumbuh dewasa.
Kampung perlahan berubah.
Sebagian orang pergi merantau.
Sebagian rumah berganti bentuk.
Sebagian jalan menjadi lebih mudah dilalui.
Waktu membawa banyak hal pergi.
Termasuk perempuan tua yang selama ini menjadi tempatnya pulang.
Suatu hari, Nenek tidak lagi duduk di beranda rumah.
Tidak lagi berjalan ke ladang.
Tidak lagi bercerita sebelum tidur.
Dan tidak lagi menyelimuti cucunya dengan kain tua kesayangannya.
Namun ada hal-hal yang tidak dapat dibawa pergi oleh waktu.
Ada kenangan yang memilih tinggal.
Ada suara yang tetap terdengar meski puluhan tahun telah berlalu.
Ada aroma yang terus hidup meski sumbernya telah lama tiada.
Sampai hari ini, ketika usia anak perempuan itu telah mencapai empat puluh lima tahun, ia masih dapat mengingat aroma kain tersebut.
Bukan dengan pikirannya.
Melainkan dengan hatinya.
Kadang ketika malam terasa sepi, kenangan itu datang tanpa diundang.
Ia kembali menjadi anak kecil yang berbaring di rumah kayu kampung.
Mendengar daun sagu bergesekan ditiup angin.
Mendengar suara Nenek yang bercerita pelan.
Lalu merasakan kain tua itu menutupi tubuhnya dengan hangat.
Barangkali itulah sebabnya manusia selalu merindukan masa kecil.
Bukan karena hidup dahulu lebih mudah.
Melainkan karena pernah ada seseorang yang membuat dunia terasa aman.
Dan bagi anak perempuan itu, orang tersebut adalah Nenek.
Sementara kenangan yang paling setia menjaganya hingga hari ini bukanlah sebuah foto atau benda berharga.
Melainkan sesuatu yang jauh lebih sederhana: aroma kain tua yang pernah menyelimutinya setiap malam. ***
Leave a Reply