Desir Daun Sagu

Spread the love

Ada suara-suara yang tidak pernah benar-benar pergi. Mereka hanya bersembunyi di dalam ingatan, lalu kembali ketika hati sedang rindu pulang.

Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.

☕ Traktir Kopi di Trakteer

Sebelum mengenal suara mesin kendaraan, ia lebih dahulu mengenal suara daun sagu.

Sebelum mengenal dering telepon dan bunyi notifikasi yang kini memenuhi kehidupan manusia, telinganya telah akrab dengan sebuah musik yang dimainkan alam setiap hari.

Musik itu tidak pernah dijadwalkan.

Tidak pernah direkam.

Tidak pernah dipentaskan di panggung mana pun.

Namun selama bertahun-tahun, ia menjadi lagu yang mengiringi masa kecilnya.

Pohon-pohon sagu tumbuh tidak jauh dari rumah nenek.

Batangnya tegak dan kokoh.

Daunnya menjulang tinggi, membentang seperti tangan-tangan raksasa yang melindungi halaman dari terik matahari.

Ketika pagi datang dan angin mulai bergerak perlahan dari arah bukit, daun-daun itu saling bersentuhan.

Tidak keras.

Tidak pula gaduh.

Hanya suara panjang yang lembut.

Desir yang datang dan pergi.

Kadang pelan seperti bisikan.

Kadang sedikit lebih kuat ketika angin bertiup lebih kencang.

Anak perempuan itu sering berhenti bermain hanya untuk mendengarkannya.

Entah mengapa ia menyukainya.

Mungkin karena suara itu membuat kampung terasa hidup.

Atau mungkin karena suara itu selalu hadir dalam setiap musim yang dilewatinya.

Pagi hari, desir daun sagu bercampur dengan kicau burung yang baru meninggalkan sarang.

Ada burung yang bernyanyi dari pohon rambutan.

Ada yang bersahut-sahutan dari kebun di belakang rumah.

Sementara dari kejauhan terdengar suara ayam kampung yang sibuk mencari makan.

Semua suara itu bertemu dalam satu harmoni yang tidak pernah dipelajari siapa pun.

Tidak ada dirigen.

Tidak ada partitur.

Namun semuanya terdengar selaras.

Seakan alam mengetahui dengan tepat kapan harus memulai dan kapan harus diam.

Menjelang siang, ketika matahari berdiri tinggi di atas kepala, suara itu tetap ada.

Angin menjadi lebih malas bergerak.

Daun-daun sagu hanya bergoyang perlahan.

Tetapi sesekali masih terdengar gesekan lembut yang mengingatkan bahwa kehidupan terus berjalan di sekelilingnya.

Kadang ia duduk di tangga rumah nenek sambil memperhatikan cahaya matahari yang menembus sela-sela daun.

Cahaya itu bergerak perlahan di tanah.

Seperti menari mengikuti irama yang hanya dipahami alam.

Saat sore tiba, suara daun sagu menjadi semakin indah.

Angin yang seharian beristirahat mulai kembali berkelana.

Ia menyusup di antara batang-batang pohon.

Mengangkat ujung daun.

Lalu membiarkan mereka saling bergesekan.

Desirnya terdengar lebih panjang.

Lebih penuh.

Lebih dalam.

Pada waktu-waktu seperti itulah kampung terasa paling damai.

Orang-orang mulai pulang dari ladang.

Anak-anak menghentikan permainan mereka.

Asap tipis mulai naik dari dapur-dapur rumah.

Dan di atas semuanya, daun-daun sagu memainkan lagu sore yang sama seperti kemarin, seperti bulan lalu, seperti tahun-tahun sebelumnya.

Anak perempuan itu tidak pernah menyangka bahwa suatu hari ia akan merindukan suara tersebut.

Ketika masih kecil, ia menganggapnya sebagai bagian biasa dari kehidupan.

Sama seperti udara.

Sama seperti hujan.

Sama seperti matahari.

Ia selalu ada.

Karena itu ia tidak pernah berpikir untuk menyimpannya.

Manusia memang sering begitu.

Kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah jarak dan waktu memisahkan kita darinya.

Tahun-tahun berlalu.

Ia tumbuh dewasa.

Kampung yang dahulu menjadi seluruh dunianya perlahan berubah menjadi tempat yang hanya sesekali dikunjungi.

Kesibukan datang silih berganti.

Pekerjaan menuntut perhatian.

Keluarga membutuhkan waktu.

Kota menawarkan kenyamanan yang tidak pernah dimiliki kampung.

Namun kota juga mengambil sesuatu.

Ia mengambil kesunyian.

Ia mengambil langit malam yang penuh bintang.

Dan tanpa disadari, ia mengambil suara daun sagu.

Kini pagi-paginya dimulai oleh deru kendaraan.

Siangnya ditemani suara klakson.

Malamnya dipenuhi dengung mesin pendingin udara dan cahaya lampu yang tidak pernah benar-benar padam.

Tidak ada yang salah dengan semua itu.

Begitulah kehidupan berjalan.

Namun sesekali, terutama ketika hujan turun atau ketika angin bertiup lembut dari arah yang tidak diketahui, kerinduan itu datang kembali.

Ia memejamkan mata.

Lalu mendengar sesuatu yang tidak lagi ada di sekelilingnya.

Desir daun sagu.

Pelan.

Jauh.

Seperti suara dari masa lalu.

Dalam ingatannya, pohon-pohon itu masih berdiri di dekat rumah nenek.

Masih menyambut pagi.

Masih menemani siang.

Masih mengiringi sore.

Burung-burung masih bernyanyi.

Serangga-serangga masih memainkan iramanya sendiri.

Dan seorang anak perempuan kecil masih duduk di tangga rumah kayu sambil menikmati konser terbesar yang pernah diberikan alam kepadanya.

Konser yang tidak membutuhkan tiket.

Tidak membutuhkan pengeras suara.

Tidak membutuhkan tepuk tangan.

Karena kemegahannya justru terletak pada kesederhanaannya.

Sampai hari ini, setiap kali mengingat kampung, yang pertama kali datang ke dalam pikirannya bukanlah jalan, bukan rumah, bahkan bukan ladang.

Melainkan suara.

Suara daun-daun sagu yang saling menyapa ketika angin melintas.

Suara yang dahulu dianggap biasa.

Suara yang kini dirindukan seperti seseorang yang telah lama pergi.

Dan mungkin begitulah cara kampung bertahan di dalam hati manusia.

Bukan melalui bangunan atau batas wilayah.

Melainkan melalui suara-suara kecil yang pernah membuat kita merasa berada di rumah. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *