Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.
☕ Traktir Kopi di TrakteerBarangkali itulah sebabnya senja selalu tampak sendu; ia mengingat cahaya yang pernah dekat, sebelum akhirnya harus melepaskannya.
Ada malam-malam yang tidak benar-benar pergi.
Mereka tetap tinggal di antara lipatan waktu, muncul kembali ketika hujan mengetuk jendela atau ketika lagu lama tiba-tiba terdengar dari kedai kopi di sudut kota.
Malam itu adalah salah satunya.
Aku masih mengingat bagaimana senja perlahan tenggelam di balik perbukitan. Langit yang mula-mula jingga berubah menjadi ungu tua, lalu hitam yang lembut. Lampu-lampu kota kecil menyala satu demi satu seperti kunang-kunang yang enggan padam.
Kau duduk di sampingku.
Tidak terlalu dekat.
Tetapi cukup dekat untuk membuat dunia terasa lebih tenang.
Aku masih mengingat wangi rambutmu yang bercampur aroma malam dan udara sehabis hujan. Masih mengingat caramu tersenyum ketika menatap bintang-bintang, seolah setiap cahaya di langit menyimpan rahasia yang hanya kau pahami sendiri.
Dan aku masih mengingat bagaimana malam itu membuat kami lupa pada waktu.
Percakapan mengalir tanpa tujuan.
Tawa datang tanpa alasan.
Keheningan pun terasa akrab.
Seolah kami telah saling mengenal jauh sebelum pertemuan pertama.
Ada saat ketika jemarimu menemukan jemariku.
Pelan.
Hampir ragu.
Namun justru keraguan itulah yang membuat segalanya terasa nyata.
Aku tidak ingat kata-kata apa yang kami ucapkan sesudahnya.
Yang kuingat hanyalah perasaan hangat yang memenuhi dada. Perasaan bahwa di tengah luasnya dunia, ada seseorang yang memahami bahasa sunyi yang selama ini kusimpan sendiri.
Tahun-tahun telah berlalu.
Musim datang dan pergi.
Daun-daun gugur lalu tumbuh kembali.
Namun kenangan tentang malam itu masih hidup seperti cahaya kecil yang tidak pernah padam.
Bukan karena apa yang terjadi.
Melainkan karena bagaimana aku merasa saat bersamamu.
Dicintai.
Dipahami.
Diterima.
Dan kadang-kadang, ketika malam terlalu sepi, aku masih memejamkan mata dan membiarkan ingatan itu datang.
Bukan untuk mengulang masa lalu.
Melainkan untuk mengingat bahwa pernah ada satu malam ketika langit dipenuhi bintang, dunia terasa begitu tenang, dan hatiku menemukan rumahnya untuk sesaat. ***
