Perempuan yang Datang Bersama Aroma Kopi

Spread the love

Ada orang yang meninggalkan jejak di jalan hidup kita. Ada pula yang meninggalkan kehangatan yang bertahan jauh lebih lama daripada kehadirannya

Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.

☕ Traktir Kopi di Trakteer

Aku pertama kali menyadari bahwa aku mencintainya pada suatu sore yang biasa.

Tidak ada hujan.

Tidak ada musik yang mengalun dramatis.

Tidak ada langit yang tiba-tiba berubah menjadi puisi.

Hanya sebuah kedai kopi kecil di sudut kota dan secangkir kopi yang mulai dingin di hadapanku.

Ia duduk di dekat jendela.

Membaca buku.

Sesekali mengangkat wajahnya untuk melihat lalu lalang orang di luar.

Sinar matahari sore jatuh di rambutnya.

Membuat sebagian wajahnya berpendar keemasan.

Dan entah mengapa aku merasa sore itu menjadi lebih indah dari biasanya.


Kota kami tidak besar.

Orang-orang saling mengenal meski tidak selalu saling menyapa.

Di pasar, di gereja, di toko buku, di kedai kopi, wajah yang sama akan muncul berulang kali seperti tokoh dalam novel yang enggan meninggalkan cerita.

Karena itulah aku sering bertemu dengannya.

Kadang di toko bunga.

Kadang di perpustakaan.

Kadang hanya berpapasan di trotoar ketika senja mulai turun.

Setiap pertemuan terasa biasa.

Tetapi justru dari hal-hal biasa itulah sesuatu tumbuh diam-diam.

Seperti akar pohon yang bekerja dalam gelap.


Ia menyukai senja.

Aku mengetahui itu jauh sebelum mengetahui lagu favoritnya.

Sebab hampir setiap kali bertemu, pembicaraan kami selalu berakhir pada langit.

Pada warna jingga.

Pada awan.

Pada cahaya terakhir sebelum malam.

“Menurutmu kenapa senja selalu membuat orang melankolis?” tanyanya suatu hari.

Aku mengangkat bahu.

“Mungkin karena semua yang indah sedang berpamitan.”

Ia tersenyum.

Senyum yang membuat dunia terasa lebih pelan.

Lebih tenang.

Lebih mudah ditinggali.


Ada perasaan yang datang seperti petir.

Mengejutkan dan sulit diabaikan.

Namun ada juga yang datang seperti senja.

Pelan.

Nyaris tak terasa.

Sampai suatu hari kau menyadari seluruh langit telah berubah warna.

Begitulah perasaanku padanya.

Aku tidak pernah merencanakannya.

Tidak pernah mengundangnya.

Tetapi ia tetap datang.

Mengisi ruang-ruang kosong yang sebelumnya bahkan tidak kusadari ada.


Suatu malam kami berjalan di tepi sungai.

Lampu kota memantul di permukaan air.

Angin membawa aroma tanah dan dedaunan.

Langit bersih.

Bintang-bintang tampak begitu dekat.

Kami berbicara tentang banyak hal.

Tentang masa kecil.

Tentang mimpi yang belum tercapai.

Tentang rasa takut menjadi tua.

Tentang kesepian yang kadang datang tanpa alasan.

Dan untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa manusia tidak selalu membutuhkan jawaban.

Kadang mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengar.


Malam semakin larut.

Kota mulai sepi.

Langkah kami melambat.

Tidak ada yang ingin menjadi orang pertama yang mengakhiri pertemuan itu.

Karena kami tahu beberapa momen terlalu indah untuk dipercepat.

Ada kehangatan yang sulit dijelaskan.

Bukan kehangatan yang lahir dari kata-kata besar.

Melainkan dari keberadaan.

Dari fakta sederhana bahwa seseorang ada di sampingmu dan membuat dunia terasa lebih ringan.


Bertahun-tahun telah berlalu sejak malam itu.

Musim berganti berkali-kali.

Orang-orang datang dan pergi.

Kedai kopi berganti pemilik.

Pohon-pohon di tepi sungai bertambah tinggi.

Namun setiap kali aku mencium aroma kopi yang baru diseduh pada sore hari, ingatanku kembali kepadanya.

Kepada perempuan yang datang bersama senja.

Perempuan yang mengajariku bahwa tidak semua kisah cinta harus berakhir dengan kebersamaan.

Sebagian cukup hidup sebagai kenangan.

Seperti cahaya terakhir matahari sebelum malam.

Singkat.

Indah.

Dan karena itu tak pernah benar-benar terlupakan. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *