Duduk di Tepi Mosel: Nasi Goreng Terasi, Kastel Dongeng, dan Sehari di Cochem

Sejauh apa pun kami pergi, dari Kalimantan hingga lembah Mosel, satu hal tetap sama: pemandangan boleh berganti, tetapi nasi tetap tak tergantikan

Jika ada kota yang langsung membuat saya jatuh hati saat berkunjung ke kawasan Mosel di Jerman, maka kota itu adalah Cochem.

Bukan karena ukurannya yang besar. Bukan pula karena pusat perbelanjaannya yang ramai. Justru sebaliknya. Cochem menawarkan sesuatu yang semakin sulit ditemukan di dunia modern: ketenangan, keindahan, dan harmoni antara alam, sejarah, dan kehidupan sehari-hari.

Pagi itu kami berangkat dari Lüxem, sebuah kawasan kecil yang tenang di dekat Wittlich. Dari rumah anak saya, kami menuju stasiun kereta di Wittlich untuk memulai perjalanan menuju Cochem.

Saya memang menyukai perjalanan dengan kereta api.

Ada sesuatu yang menyenangkan ketika duduk di dekat jendela, membiarkan pemandangan berganti tanpa harus memikirkan kemudi, kemacetan, atau mencari tempat parkir.

Kereta melaju meninggalkan Wittlich dengan tenang.

Perlahan kawasan permukiman menghilang, digantikan hamparan pedesaan khas Jerman. Ladang-ladang hijau membentang sejauh mata memandang. Sesekali terlihat peternakan kecil, rumah-rumah dengan atap miring, dan desa-desa mungil yang tampak begitu terawat.

Bukit-bukit hijau berdiri di kejauhan.

Kebun-kebun anggur mulai bermunculan di lereng-lereng yang menghadap matahari.

Semakin mendekati kawasan Mosel, pemandangan semakin memukau.

Lembah mulai menyempit. Perbukitan semakin curam. Di sela-sela bukit itulah Sungai Mosel mengalir berkelok-kelok seperti pita perak yang membelah lanskap hijau.

Saya beberapa kali menempelkan wajah ke jendela kereta.

Pemandangan di luar terasa seperti lukisan yang bergerak perlahan.

Tak heran kawasan Mosel menjadi salah satu daerah wisata paling terkenal di Jerman.

Setelah perjalanan singkat, kami tiba di Stasiun Cochem.

Begitu keluar dari stasiun, saya langsung memahami mengapa banyak wisatawan jatuh cinta pada kota ini.

Cochem terletak di sebuah lembah yang dipeluk perbukitan hijau. Di tengahnya mengalir Sungai Mosel yang tenang. Di atas salah satu bukit berdiri megah Reichsburg Cochem, kastel yang tampak seperti keluar dari halaman buku dongeng.

Dari mana pun berada di kota ini, kastel tersebut hampir selalu terlihat mengawasi lembah di bawahnya.

Keberadaannya memberikan karakter yang kuat bagi Cochem.

Seolah-olah seluruh kota tumbuh di bawah bayang-bayang sejarah berabad-abad.

Kami berjalan santai menuju tepian sungai.

Hari itu cuaca sangat cerah.

Langit biru tanpa banyak awan memantul di permukaan Mosel yang tenang.

Di salah satu bagian tepian sungai terdapat hamparan rumput hijau yang tebal dan terawat. Di situlah kami memilih duduk dan beristirahat.

Saya duduk menghadap sungai.

Di sebelah saya, istri duduk tenang menikmati pemandangan yang sama.

Kami tidak banyak berbicara.

Kadang-kadang kami hanya memandang air yang mengalir perlahan, kapal wisata yang melintas, atau rumah-rumah yang bertengger di lereng bukit seberang sungai.

Pada usia tertentu, kebersamaan tidak selalu membutuhkan banyak kata.

Duduk berdampingan sambil menikmati pemandangan yang indah sudah terasa cukup romantis.

Tak jauh dari kami, putri bungsu kami yang berusia tujuh tahun tampak sangat terpesona.

Matanya sibuk mengamati hampir segala sesuatu.

Perahu yang melintas di sungai.

Burung-burung yang terbang rendah di atas air.

Orang-orang yang berjalan di promenade.

Dan tentu saja kastel tua yang berdiri megah di atas bukit.

Sesekali ia menunjuk sesuatu dan bertanya dengan antusias.

Bagi anak-anak, dunia masih penuh keajaiban.

Sedangkan putri sulung kami yang sudah 4 tahun sekolah dan tinggal Jerman menjadi pemandu.

Ia cekatan menjelaskan. Walau kadang cerewet, saya dan ibu-nya hanya bisa senyum-senyum.

Kami berdua sudah hafal, begitulah karakter-nya. Dan, kami juga tahu dia sangat mencintai keluarga-nya. Kami pun berharap, sebagaimana ia mencintai kami, begitu pula dia mencintai keluarga suaminya.

Dan sore itu Cochem menyediakan banyak sekali keajaiban kecil untuk dikagumi.

Melihat wajah si bungsu yang penuh rasa ingin tahu membuat saya ikut menikmati kota ini dari sudut pandang yang berbeda.

Kami mungkin datang sebagai orang dewasa yang tertarik pada sejarah, arsitektur, dan lanskap.

Namun bagi seorang anak berusia tujuh tahun, Cochem adalah negeri dongeng yang benar-benar ada.

Nasi Goreng Terasi di Tepi Mosel

Setelah cukup lama berjalan, kami akhirnya memilih duduk di salah satu bangku yang menghadap langsung ke sungai.

Di depan kami Mosel mengalir tenang.

Kapal-kapal wisata sesekali melintas membawa para penumpang menikmati keindahan lembah.

Wisatawan dan warga lokal lalu lalang menikmati cuaca yang cerah.

Dan seperti keluarga Indonesia pada umumnya, tidak perlu waktu lama sebelum seseorang mengusulkan kegiatan yang sangat penting.

Makan.

Tak lama kemudian tas bekal dibuka.

Dari dalamnya muncul menu yang mungkin akan membuat sebagian warga Jerman terkejut jika melihatnya.

Nasi goreng terasi.

Telur rebus.

Dan termos berisi teh manis hangat.

Di salah satu kota tercantik di lembah Mosel, dengan kastel abad pertengahan menjulang di atas bukit dan panorama yang seolah keluar dari kartu pos wisata, kami justru menikmati bekal sederhana yang rasanya sangat Indonesia.

Saya tertawa sendiri memikirkannya.

Sejauh apa pun kami bepergian, hubungan kami dengan nasi tampaknya sulit dipisahkan.

Pagi makan nasi.

Siang makan nasi.

Kalau memungkinkan malam juga tetap mencari nasi.

Kadang saya bercanda kepada anak-anak bahwa orang Indonesia mungkin memiliki ikatan emosional yang terlalu kuat dengan beras.

Mereka tertawa karena tampaknya memang ada benarnya.

Namun justru di situlah letak kenikmatannya.

Di tengah suasana Eropa yang begitu berbeda, aroma terasi yang samar, telur rebus sederhana, dan segelas teh manis hangat menghadirkan sedikit rasa rumah di negeri yang jauh.

Kami makan perlahan sambil menikmati pemandangan.

Angin musim panas bertiup lembut dari arah sungai.

Burung-burung sesekali melintas di atas permukaan air.

Dan entah mengapa, nasi goreng terasi terasa jauh lebih nikmat ketika disantap di tepi Mosel.

Saat itu saya menyadari bahwa perjalanan tidak selalu tentang restoran terkenal atau makanan mahal.

Kadang kenangan terbaik justru lahir dari bekal sederhana yang dibawa dari rumah lalu disantap bersama orang-orang tercinta di tempat yang indah.

Kota Tua yang Hidup

Setelah beristirahat, kami melanjutkan perjalanan memasuki kawasan kota tua Cochem.

Dan di sinilah pesona kota itu benar-benar terasa.

Gang-gang sempit berliku menghubungkan satu sudut kota dengan sudut lainnya. Jalan-jalan berbatu mengajak pengunjung berjalan pelan sambil menikmati detail-detail bangunan yang ada di sekitarnya.

Rumah-rumah tradisional setengah kayu atau Fachwerkhaus berdiri berjajar dengan warna-warna hangat dan menawan.

Sebagian telah berusia ratusan tahun.

Namun semuanya tampak terawat dengan sangat baik.

Kotak-kotak bunga menghiasi jendela.

Kafe-kafe kecil menempatkan meja di luar ruangan.

Restoran-restoran ramai oleh wisatawan yang menikmati makan siang atau secangkir kopi.

Saya merasa seperti sedang berjalan di dalam sebuah kartu pos Eropa.

Yang menarik, meskipun menjadi destinasi wisata terkenal, suasana kota ini tetap nyaman.

Tidak berlebihan.

Tidak semrawut.

Tidak kehilangan identitasnya.

Trotoar rapi.

Bangunan tua dirawat tanpa kehilangan karakter aslinya.

Ruang publik tertata dengan baik dan ramah bagi pejalan kaki.

Di berbagai sudut saya melihat warga lokal dan wisatawan berbagi ruang dengan harmonis.

Tidak ada kesan bahwa kota ini hanya hidup untuk turis.

Sebaliknya, Cochem terasa sebagai kota yang benar-benar dihuni dan dicintai oleh penduduknya.

Menjelang sore, kami kembali ke tepian sungai.

Sinar matahari mulai melembut.

Bayangan kastel di atas bukit memanjang perlahan.

Permukaan Mosel berkilau memantulkan cahaya keemasan.

Saya kembali duduk beberapa menit di bangku yang sama.

Memandangi sungai.

Memandangi kastel.

Memandangi orang-orang yang menikmati hari mereka.

Di sebelah saya, istri masih duduk tenang menikmati suasana.

Putri kecil kami masih sesekali menunjuk kapal yang melintas dan mengajukan pertanyaan baru.

Saat itulah saya menyadari bahwa perjalanan terbaik tidak selalu ditentukan oleh seberapa jauh kita pergi atau berapa banyak tempat yang berhasil dikunjungi.

Kadang kebahagiaan hadir dalam bentuk yang sangat sederhana.

Sebuah perjalanan kereta melewati lembah hijau.

Sebuah kota tua yang cantik di tepian sungai.

Seporsi nasi goreng terasi yang disantap bersama keluarga.

Dan sebuah sore musim panas di Cochem, ketika waktu seolah berjalan lebih lambat dan dunia terasa begitu damai. ***


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *