Ketika Kantor Lupa Bahwa Karyawan Adalah Manusia

Spread the love

Tidak ada karier yang cukup berharga untuk ditukar dengan kesehatan mental, keluarga, dan kedamaian jiwa.

Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.

☕ Traktir Kopi di Trakteer

Banyak orang mengira alasan utama seseorang bertahan di sebuah perusahaan adalah gaji. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Tidak sedikit karyawan yang memilih tetap bekerja karena merasa dihargai, didengarkan, dan diperlakukan sebagai manusia.

Mereka tidak menuntut perlakuan istimewa. Mereka hanya ingin diperlakukan dengan hormat. Ditegur ketika salah, dibimbing ketika kesulitan, dan diapresiasi ketika bekerja dengan baik.

Sayangnya, tidak semua pemimpin adalah leader. Banyak yang hanya menjadi bos.

Bagi seorang leader, target memang penting, tetapi manusia yang menjalankan target itu jauh lebih penting.

Sebaliknya, bagi seorang bos, sering kali hanya ada dua warna: hitam dan putih. Capai target atau gagal. Produktif atau tidak produktif. Dalam pola pikir seperti ini, karyawan perlahan berubah menjadi angka di laporan kinerja.

Ironisnya, pendekatan seperti ini sebenarnya sudah lama dikritik dalam ilmu manajemen. Salah satu akarnya berasal dari teori Scientific Management yang diperkenalkan oleh Frederick W. Taylor pada awal abad ke-20.

Teori ini berhasil meningkatkan efisiensi kerja, tetapi sering dipraktikkan secara berlebihan hingga manusia dipandang layaknya bagian dari mesin produksi.

Belakangan, penelitian Elton Mayo melalui Hawthorne Studies menunjukkan bahwa produktivitas tidak hanya ditentukan oleh aturan dan pengawasan. Manusia bekerja lebih baik ketika mereka merasa diperhatikan, dihargai, dan menjadi bagian dari sebuah komunitas.

Namun hingga hari ini, masih banyak organisasi yang mengandalkan budaya takut. Ancaman evaluasi, ancaman mutasi, bahkan ancaman pemecatan menjadi alat manajemen sehari-hari.

Dalam situasi seperti itu, muncul pula budaya menjilat, saling menyalahkan, dan politik kantor yang menguras energi. Orang-orang terbaik sering kali bukan kalah karena tidak kompeten, tetapi karena lelah menghadapi lingkungan yang tidak sehat.

Ketika berada dalam kondisi demikian, banyak orang bertahan dengan harapan dapat memperbaiki keadaan. Padahal tidak semua sistem bisa diselamatkan.

Ada kalanya keputusan paling bijaksana bukanlah bertahan, melainkan pergi.

Keluar dari lingkungan kerja yang toxic bukan tanda menyerah. Itu adalah bentuk penghormatan terhadap diri sendiri. Sebab Anda datang ke perusahaan untuk bekerja dan berkembang, bukan untuk memperbaiki budaya yang bahkan tidak ingin diperbaiki.

Pada akhirnya, perusahaan yang baik bukan hanya tempat mencari nafkah. Ia adalah tempat di mana manusia tetap diperlakukan sebagai manusia. Dan ketika sebuah tempat gagal melakukan hal paling mendasar itu, mungkin sudah saatnya mencari pintu keluar. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *