Kebenaran tidak hidup dalam satu perspektif; karena itu redaksi yang sehat harus memberi tempat bagi banyak suara
Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.
☕ Traktir Kopi di TrakteerSelain memiliki struktur organisasi yang jelas dan sistem kerja yang efektif, sebuah redaksi idealnya juga dibangun di atas keberagaman.
Ruang redaksi sebaiknya diisi oleh orang-orang dengan latar belakang suku, agama, budaya, daerah, gender, generasi, pendidikan, dan pengalaman hidup yang beragam.
Keberagaman tersebut bukan sekadar simbol representasi, melainkan kebutuhan profesional untuk menghasilkan pemberitaan yang lebih lengkap, akurat, dan adi
Pemikir media Amerika, Walter Lippmann, mengingatkan bahwa dunia terlalu besar, kompleks, dan terus berubah sehingga tidak mungkin dipahami secara utuh oleh satu orang atau satu kelompok saja.
Karena itu, media membutuhkan banyak perspektif agar mampu menangkap realitas sosial secara lebih menyeluruh.
Sebuah redaksi yang homogen berisiko melihat dunia dari sudut pandang yang sempit dan kehilangan banyak cerita penting yang hidup di tengah masyarakat.
Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism menegaskan bahwa loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada warga negara.
Jika masyarakat yang dilayani media bersifat majemuk, maka redaksi juga perlu memahami kemajemukan tersebut.
Wartawan yang berasal dari latar belakang berbeda akan membawa pengalaman, kepekaan, dan cara pandang yang berbeda pula dalam menentukan isu, memilih narasumber, hingga menafsirkan fakta.
Mantan editor eksekutif The Washington Post, Marty Baron, bahkan menyatakan bahwa “Diversity is not an end in itself. It improves journalism.” Keberagaman bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk menghasilkan jurnalisme yang lebih baik.
Pandangan serupa dikemukakan Dean Baquet dan Leonard Downie Jr. yang menilai bahwa ruang redaksi yang beragam memungkinkan media menemukan cerita-cerita yang mungkin luput dari perhatian kelompok tertentu serta mengurangi potensi bias dalam pemberitaan.
Jurnalis internasional Christiane Amanpour juga menegaskan pentingnya menghadirkan berbagai suara dalam peliputan.
Menurutnya, tugas jurnalis bukan sekadar bersikap netral, melainkan mencari dan menyampaikan kebenaran melalui pemahaman terhadap berbagai perspektif yang ada di masyarakat.
Semakin beragam perspektif di ruang redaksi, semakin besar peluang media untuk mendekati kebenaran tersebut.
Dalam konteks Indonesia, gagasan ini sejalan dengan pemikiran Goenawan Mohamad tentang pentingnya independensi berpikir dalam kerja jurnalistik serta pandangan Jakob Oetama yang menempatkan kemanusiaan dan keberagaman pengalaman masyarakat sebagai inti dari pemberitaan.
Pers tidak boleh menjadi corong satu kelompok yang menganggap dirinya paling benar, melainkan menjadi ruang perjumpaan berbagai gagasan dan pengalaman hidup.
Karena itu, redaksi media umum idealnya tidak didominasi oleh satu golongan, satu agama, satu suku, satu kelompok sosial, atau satu pandangan politik tertentu.
Pengecualian tentu berlaku bagi media yang memang didirikan untuk melayani komunitas khusus, seperti media keagamaan, media organisasi, atau media etnis.
Namun bagi media yang melayani publik luas, keberagaman merupakan salah satu fondasi profesionalisme jurnalistik.
Pada akhirnya, kualitas sebuah redaksi tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, besarnya modal, atau banyaknya wartawan yang dimiliki.
Kualitas redaksi juga ditentukan oleh kemampuannya menghadirkan beragam perspektif dalam satu ruang kerja yang sehat, sehingga setiap keputusan editorial lahir dari pertukaran gagasan yang kaya, kritis, dan terbuka.
Dengan demikian, media dapat menjalankan fungsi utamanya sebagai cermin masyarakat yang utuh, bukan cermin bagi satu kelompok saja. ***
Keberagaman bukan hiasan di ruang redaksi. Ia adalah syarat agar jurnalisme tetap mampu melihat masyarakat secara utuh
