Rindu terkadang datang bukan karena cinta belum selesai, melainkan karena kenangan itu terlalu indah untuk benar-benar hilang.
Kota kecil itu selalu lebih indah setelah hujan.
Lampu-lampu jalan memantul di aspal basah. Kedai kopi masih ramai oleh orang-orang yang enggan pulang terlalu cepat. Dari kejauhan terdengar suara musik lama bercampur gelak tawa dan bunyi cangkir yang saling bersentuhan.
Aku menunggunya di meja paling pojok.
Dan seperti biasa, ia datang bersama aroma yang selalu sulit kulupakan.
Perempuan itu berjalan pelan dengan rambut hitam terurai di bahunya. Tubuhnya indah dan matang seperti musim yang sedang mencapai puncaknya. Wajahnya tenang, tetapi matanya selalu menyimpan sesuatu yang membuat dada lelaki mudah berdebar.
Ketika ia duduk di depanku, dunia mendadak terasa lebih lambat.
“Kau sudah lama?” tanyanya sambil tersenyum kecil.
“Baru sebentar.”
Padahal aku sudah menunggunya hampir satu jam.
Namun beberapa orang memang layak ditunggu lebih lama.
Ia tertawa ketika aku menggoda caranya menikmati kopi.
Katanya kopi pahit lebih jujur daripada manusia.
Aku berkata mungkin karena kopi tidak pandai menyembunyikan rasa.
Ia menatapku beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Dan aku tahu malam itu tidak akan menjadi malam yang biasa.
Di luar, hujan kembali turun pelan.
Orang-orang mulai meninggalkan kedai.
Kota kecil itu perlahan tenggelam dalam sunyi.
Aku masih mengingat bagaimana ia memandangku malam itu.
Tatapan yang hangat sekaligus berbahaya.
Seolah ada rindu panjang yang selama ini ditahan diam-diam.
Ketika kami akhirnya berada berdua di ruangan kecil yang hanya diterangi lampu temaram, aku bisa mendengar napasnya lebih jelas daripada suara hujan di luar jendela.
Ia mendekat perlahan.
Begitu dekat hingga aroma rambutnya memenuhi pikiranku.
Tanganku menyentuh wajahnya dengan hati-hati, seolah takut perempuan itu hanya mimpi yang bisa hilang kapan saja.
Ia memejamkan mata.
Dan malam mulai kehilangan batasnya.
Tubuhnya terasa hangat dalam pelukanku.
Lembut sekaligus penuh gairah yang diam-diam membuatku kehilangan arah.
Aku masih mengingat bagaimana ia menggenggam pundakku saat dunia seolah hanya tersisa kami berdua.
Desah napasnya pelan.
Kadang tertahan.
Kadang berubah menjadi rintih kecil yang membuat malam semakin sunyi.
Di luar sana hujan terus jatuh.
Sedangkan di dalam ruangan kecil itu, waktu seperti berhenti bergerak.
Kami saling mencari.
Saling tenggelam.
Saling menikmati kehadiran yang mungkin tidak akan pernah bisa dimiliki sepenuhnya.
Dan justru karena itulah semuanya terasa begitu indah.
Ada kenangan yang tidak tinggal di kepala.
Ia tinggal di tubuh.
Di ingatan tentang hangat pelukan.
Tentang jemari yang saling menggenggam dalam gelap.
Tentang detak jantung yang bergerak terlalu cepat.
Tentang seseorang yang pernah membuatmu merasa begitu hidup.
Aku masih mengingat malam itu sampai sekarang.
Cara ia rebah di sampingku sambil memandang langit-langit kamar.
Cara rambutnya jatuh di dadaku.
Cara ia tersenyum kecil setelah semuanya hening.
Seolah untuk sesaat dunia tidak lagi menuntut apa pun dari kami.
Bertahun-tahun kemudian, kadang aku masih teringat dirinya ketika malam terlalu sunyi.
Saat hujan turun perlahan.
Saat aroma kopi memenuhi udara.
Atau saat senja datang membawa warna jingga yang muram.
Aku teringat perempuan itu.
Perempuan yang pernah membuatku percaya bahwa beberapa malam memang diciptakan bukan untuk dilupakan.
Melainkan untuk disimpan diam-diam di dalam dada, selamanya. ***
Leave a Reply