Beberapa rasa hadir begitu lembut, hingga kita sendiri takut menyebutnya cinta.
Aku mengenalnya dari senyum.
Bukan dari nama.
Bukan pula dari percakapan panjang.
Hanya dari senyum kecil yang selalu muncul setiap kali kami berpapasan di komunitas doa pada malam Jumat.
Kota kecil kami tidak pernah benar-benar ramai. Menjelang malam, jalan-jalan mulai lengang. Warung kopi dipenuhi orang-orang yang berbicara pelan tentang pekerjaan, keluarga, dan hujan yang akhir-akhir ini sering turun tiba-tiba.
Sementara di aula kecil dekat gereja tua itu, orang-orang berkumpul membawa doa-doa yang tak selalu sanggup mereka ceritakan kepada dunia.
Dan di sanalah aku sering melihatnya.
Perempuan berkulit terang dengan wajah teduh dan mata yang selalu tampak ramah kepada siapa saja.
Ia tidak banyak bicara.
Tetapi entah mengapa, kehadirannya selalu mudah disadari.
Seperti cahaya lilin di ruangan gelap.
Tidak menyilaukan.
Namun cukup untuk membuat orang diam-diam memperhatikannya.
Aku tidak tahu kapan tepatnya mulai menunggunya.
Mungkin saat aku sadar mataku otomatis mencarinya setiap ibadat dimulai.
Mungkin saat sapaan sederhananya mulai terasa lebih hangat dari biasanya.
Atau mungkin saat aku mulai mengingat suaranya lebih lama daripada lagu-lagu pujian yang kami nyanyikan bersama.
“Halo,” katanya suatu malam sambil tersenyum kecil.
Dan anehnya, satu kata sederhana itu mampu tinggal di kepalaku hingga berhari-hari.
Kadang aku merasa lucu pada diriku sendiri.
Usia sudah tidak muda lagi.
Hidup telah berjalan dengan tenang.
Segala sesuatu tampak baik-baik saja.
Namun hati manusia rupanya tidak selalu tumbuh menjadi sederhana.
Ia tetap bisa berdebar secara tiba-tiba.
Tetap bisa jatuh diam-diam pada seseorang yang bahkan tak pernah benar-benar disentuhnya.
Suatu malam hujan turun deras setelah ibadat selesai.
Orang-orang bertahan lebih lama di teras aula. Ada yang minum kopi. Ada yang tertawa kecil sambil membicarakan hal-hal sepele.
Ia berdiri tidak jauh dariku.
Memandangi hujan.
Lampu jalan memantulkan cahaya kuning di genangan air.
“Kota ini cantik kalau habis hujan,” katanya pelan.
Aku mengangguk.
Tetapi sebenarnya bukan kota itu yang sedang kulihat.
Ada rasa-rasa tertentu yang terlalu halus untuk disebut cinta, tetapi terlalu dalam untuk disebut biasa saja.
Dan mungkin kami sama-sama memahami itu tanpa perlu mengatakannya.
Tidak ada janji.
Tidak ada kata-kata terlarang.
Tidak ada langkah yang melewati batas.
Hanya tatapan yang kadang terlalu lama.
Percakapan yang terasa terlalu hangat.
Dan diam-diam yang tumbuh perlahan di antara dua manusia yang sama-sama tahu bahwa hidup telah memiliki jalannya sendiri.
Pernah suatu malam aku bertanya dalam hati:
Tuhan, apakah salah jika aku memimpikannya?
Namun tak pernah ada jawaban langsung.
Hanya keheningan gereja.
Hanya nyala lilin.
Hanya lagu pujian yang mengalun pelan.
Dan mungkin memang begitu cara Tuhan menjawab sebagian pertanyaan manusia.
Dengan membuat kita mengerti perlahan.
Bahwa tidak semua rasa harus dimiliki agar menjadi berarti.
Bahwa hati bisa tersentuh tanpa harus merusak.
Bahwa kadang seseorang hadir hanya untuk mengingatkan: masih ada bagian dalam diri kita yang mampu merasa hangat, mampu berdebar, mampu hidup.
Malam semakin larut.
Hujan reda perlahan.
Orang-orang mulai pulang.
Sebelum pergi, ia sempat menoleh dan tersenyum kecil kepadaku.
Lalu berjalan menjauh di bawah lampu jalan yang basah oleh hujan.
Aku memandang punggungnya hingga menghilang di tikungan.
Dan sejak malam itu aku mengerti:
ada orang-orang yang mungkin tidak ditakdirkan menjadi milik kita.
Namun tetap dikirim Tuhan untuk singgah sebentar di hidup kita—
seperti senja,
seperti doa,
seperti cahaya kecil yang diam-diam membuat hati kembali hangat. ***
Leave a Reply