Masa kecil sering kali terdiri dari dua hal yang berjalan berdampingan: kegembiraan kecil dan ketakutan-ketakutan sederhana.
Setiap kali pergi ke ladang, Nenek selalu membawa katoro.
Bentuknya sederhana, tetapi bagi orang kampung, benda itu sama pentingnya seperti tas bagi orang kota.
Katoro dibuat dari buluh dan rotan yang dianyam dengan tangan-tangan terampil yang telah mewarisi keterampilan itu dari generasi sebelumnya. Warnanya kecokelatan, serat-serat rotannya masih terlihat jelas, dan aromanya khas—campuran kayu, rotan, dan asap dapur rumah kampung.
Semua kebutuhan untuk ke ladang masuk ke dalam katoro.
Bekal makan siang.
Parang.
Botol air minum.
Kadang garam kecil yang dibungkus plastik.
Kadang kain lap atau hasil ladang yang dibawa pulang nanti sore.
Bagi anak perempuan kecil itu, katoro milik Nenek tampak seperti benda ajaib yang mampu membawa seluruh kehidupan sehari-hari mereka.
Namun yang paling membuatnya bahagia adalah satu hal:
Ia juga memiliki katoro sendiri.
Ukurannya lebih kecil.
Dibuat khusus untuknya.
Tidak sebesar milik orang dewasa, tetapi cukup untuk membuatnya merasa sudah menjadi bagian dari perjalanan ke ladang.
Ia sangat bangga membawa katoro itu.
Sebelum berangkat, ia sering memeriksa apakah katoronya sudah ikut dibawa.
Kadang ia memasukkan benda-benda kecil ke dalamnya: buah hutan yang ditemukan kemarin, ranting unik, atau daun-daun yang bentuknya menarik menurut mata anak-anak.
Cara membawa katoro berbeda dengan tas biasa.
Talinya disangkutkan di kepala sehingga beban terasa lebih ringan di punggung.
Ketika pertama kali mencoba, ia sempat merasa aneh.
Namun lama-lama ia terbiasa.
Ia bahkan mulai berjalan mengikuti langkah Nenek dengan bangga, seolah dirinya benar-benar sudah cukup besar untuk ikut bekerja di ladang.
Dari belakang, tubuh kecilnya tampak lucu.
Katoro itu hampir sebesar punggungnya sendiri.
Kadang langkahnya terlalu cepat karena terlalu bersemangat.
Kadang ia tertinggal karena berhenti memperhatikan kupu-kupu atau capung di pinggir jalan.
Namun setiap kali Nenek menoleh dan tersenyum melihatnya masih berjalan sambil membawa katoro kecil itu, hatinya terasa hangat.
Bagi seorang anak, kebahagiaan sering kali sesederhana merasa dipercaya dan dilibatkan.
Di sepanjang perjalanan menuju ladang, hutan kecil di kiri kanan jalan selalu terasa hidup.
Daun-daun bergerak pelan ditiup angin.
Burung-burung bernyanyi dari balik pepohonan.
Sesekali tupai melompat cepat sebelum menghilang di dahan yang lebih tinggi.
Namun di balik semua keindahan itu, ada satu hal yang sangat ditakutinya.
Pacet.
Makhluk kecil yang hidup diam-diam di tempat lembap.
Tubuhnya kecil, lunak, dan bergerak perlahan.
Tetapi bagi anak perempuan itu, pacet adalah monster kecil dari hutan.
Terutama setelah hujan turun.
Pacet sering muncul di rerumputan basah atau daun-daun rendah di pinggir jalan setapak menuju ladang.
Kadang mereka menempel diam-diam di kaki tanpa langsung terasa.
Lalu tiba-tiba saja darah mulai mengalir kecil dari kulit yang digigitnya.
Setiap kali melihat pacet menempel di kakinya, ia langsung panik.
Tangisnya pecah seketika.
Bukan menangis biasa.
Melainkan tangis keras yang membuat orang-orang di ladang tahu bahwa cucu Nenek kembali digigit pacet.
Ia bisa meraung-raung sambil mengangkat kaki dan meminta tolong dengan wajah penuh ketakutan.
Kadang Nenek tertawa kecil melihat cucunya yang begitu takut pada makhluk sekecil itu.
Dengan tenang perempuan tua itu akan mendekat, lalu melepaskan pacet dari kaki cucunya menggunakan tangan atau sedikit abu dapur yang dibawa dari rumah.
“Sudah… sudah lepas,” kata Nenek pelan.
Namun anak perempuan itu tetap menangis sambil memeluk Nenek erat-erat.
Bahkan setelah pacet dibuang jauh-jauh, ia masih sering memeriksa kakinya sendiri selama perjalanan.
Takut ada pacet lain yang diam-diam menempel.
Lucunya, rasa takut itu tidak pernah membuatnya berhenti ikut ke ladang.
Esok harinya ia tetap ikut lagi.
Tetap membawa katoro kecilnya dengan bangga.
Tetap mengejar capung.
Tetap bermain di tingkabokng bersama kamburi’.
Tetap makan bekal bersama Nenek di pondok ladang.
Dan tetap takut pada pacet.
Begitulah masa kecil berjalan.
Penuh ketakutan kecil yang hari ini terasa lucu untuk dikenang.
Tahun-tahun kemudian, ketika ia telah dewasa dan tinggal jauh dari kampung, banyak hal mulai terlupakan.
Sebagian jalan setapak mungkin telah berubah.
Sebagian suara masa kecil mulai memudar.
Namun anehnya, ia masih mengingat dengan jelas dua hal yang selalu berjalan berdampingan dalam kenangannya tentang ladang:
Rasa bangga ketika membawa katoro kecil buatan Nenek.
Dan rasa takut luar biasa terhadap pacet yang bersembunyi di rerumputan basah selepas hujan.
Mungkin memang begitulah cara masa kecil tinggal di dalam diri manusia.
Ia tidak datang sebagai cerita besar.
Melainkan sebagai potongan-potongan kecil yang terus hidup diam-diam di dalam ingatan:
sebuah katoro kecil,
jalan setapak menuju ladang,
dan tangis seorang anak perempuan yang ketakutan melihat pacet di kakinya. ***
Leave a Reply