Ada masa ketika kebahagiaan tidak datang dari banyaknya cahaya, melainkan dari siapa yang duduk bersama kita di sekelilingnya.
Sebelum listrik masuk ke kampung, malam datang dengan cara yang berbeda.
Ia tidak hadir bersama lampu-lampu terang yang menyala hanya dengan satu sentuhan jari. Malam turun perlahan, mengikuti matahari yang tenggelam di balik hutan, lalu menyelimuti rumah-rumah kayu dengan gelap yang lembut dan akrab.
Pada masa itu, cahaya paling setia di rumah mereka berasal dari pelita minyak tanah.
Setiap sore, ketika langit mulai berubah jingga, anak perempuan itu sudah tahu apa yang harus dilakukan.
Ia mengambil pelita dari sudut rumah.
Membersihkan kacanya perlahan.
Memeriksa sumbu kecil di dalamnya.
Lalu menuangkan minyak tanah dengan hati-hati agar tidak tumpah ke lantai kayu.
Ia menyukai momen ketika pelita mulai dinyalakan.
Api kecil muncul perlahan di ujung sumbu.
Berkedip sebentar.
Lalu menyala tenang, menerangi ruangan dengan cahaya kekuningan yang hangat.
Cahaya itu tidak terang.
Namun cukup untuk membuat rumah terasa hidup.
Pada akhir tahun delapan puluhan dan awal sembilan puluhan, listrik belum mencapai kampung mereka. Malam-malam diterangi pelita, sementara hiburan paling istimewa adalah televisi hitam putih yang menyala menggunakan aki.
Televisi itu tidak selalu bisa ditonton setiap waktu.
Akinya harus diisi terlebih dahulu di tempat tertentu.
Kadang gambarnya bersemut.
Kadang suaranya hilang timbul.
Kadang antenanya harus diputar sambil seseorang berteriak dari dalam rumah:
“Sudah jelas belum?”
Namun bagi anak-anak kampung, semua itu tidak penting.
Televisi kecil itu tetap terasa ajaib.
Ia masih ingat bagaimana mereka duduk berdekatan di depan layar hitam putih yang berkedip-kedip.
Kadang bersama abangnya.
Kadang sambil menggendong adik kecilnya yang mulai mengantuk.
Kadang suara jangkrik di luar rumah lebih keras daripada suara televisi itu sendiri.
Tetapi malam-malam seperti itu terasa hangat.
Sebelum memiliki adik, hidupnya lebih sederhana.
Ia hanya anak perempuan kecil yang mengikuti abang-abangnya bermain di sekitar kampung.
Mereka suka membawa ketapel ke hutan kecil di dekat rumah.
Berburu burung-burung kecil dengan semangat anak-anak yang belum benar-benar mengerti tentang dunia.
Ia tidak terlalu pandai menggunakan ketapel.
Tangannya terlalu kecil.
Namun ia suka ikut berjalan bersama mereka.
Melewati jalan setapak.
Mendengar suara ranting patah di bawah kaki.
Melihat cahaya matahari jatuh di sela pepohonan.
Kadang mereka pulang tanpa hasil.
Kadang hanya membawa cerita.
Namun bagi anak-anak kampung, petualangan itu sendiri sudah cukup menyenangkan.
Lalu suatu hari, ketika ia duduk di kelas empat sekolah dasar, seorang bayi lahir di rumah mereka.
Adiknya.
Sejak saat itu, hidupnya perlahan berubah.
Ia bukan lagi hanya seorang anak kecil yang bebas bermain sepanjang hari.
Kini ada seseorang yang harus dijaga.
Ia mulai belajar menggendong adiknya.
Awalnya canggung.
Tubuh bayi itu terasa kecil dan rapuh di lengannya.
Namun lama-lama ia terbiasa.
Ia menggendong sambil berjalan pelan di beranda rumah.
Kadang menimang ketika bayi itu menangis.
Kadang memberinya makan ketika orang tua mereka sibuk bekerja.
Kadang menjaga adiknya tidur siang sambil menahan keinginan untuk ikut bermain bersama teman-temannya.
Meski masih kecil, ia menjalani semuanya tanpa banyak mengeluh.
Pagi-pagi sekali ia sudah bangun.
Udara kampung masih dingin ketika ia mandi dan bersiap ke sekolah.
Sepulang sekolah, ia membantu menjaga adik.
Lalu sore harinya membantu menyalakan pelita sebelum malam datang.
Di sela semua itu, ia masih sempat bermain.
Masih sempat tertawa bersama teman-temannya.
Masih sempat menjadi anak-anak.
Dan mungkin justru karena itulah perempuan itu tumbuh menjadi pribadi yang kuat.
Kampung mengajarkannya tanggung jawab lebih cepat daripada kota.
Ia belajar bahwa hidup bukan hanya tentang diri sendiri.
Bahwa kasih sayang sering hadir dalam bentuk menjaga orang lain.
Bahwa menjadi kakak berarti rela mengurangi waktu bermain demi menimang seorang adik hingga tertidur.
Kini, bertahun-tahun kemudian, dunia telah berubah jauh.
Lampu listrik menyala sepanjang malam.
Anak-anak tumbuh bersama telepon pintar dan internet.
Televisi tidak lagi hitam putih.
Dan hampir tidak ada lagi anak kecil yang harus membersihkan kaca pelita sebelum malam tiba.
Namun sesekali, ketika listrik padam beberapa menit di kota, ingatannya tiba-tiba kembali ke rumah kayu masa kecil itu.
Ke cahaya pelita yang bergoyang pelan tertiup angin.
Ke layar televisi hitam putih yang bersemut.
Ke suara jangkrik malam.
Ke bayi kecil yang tertidur di pelukannya.
Dan ke seorang anak perempuan kelas empat SD yang diam-diam sedang belajar menjadi dewasa lebih cepat daripada usianya.
Mungkin manusia memang tidak terlalu merindukan masa lalu.
Yang dirindukan sesungguhnya adalah versi diri kita yang pernah hidup di sana:
sederhana,
lelah,
bahagia,
dan merasa cukup hanya dengan cahaya pelita di sebuah rumah kecil di kampung. ***
Leave a Reply