Mata Kail dan Seekor Ular

Masa kecil di kampung mengajarkan satu hal: keberanian sering lahir bukan karena tidak takut, melainkan karena terlalu ingin menikmati petualangan.

Ia suka memancing sejak kecil.

Bukan memancing di danau besar atau laut seperti yang sering terlihat di televisi, melainkan di parit-parit kecil yang membelah ladang dan pinggir kampung.

Parit-parit itu airnya kecokelatan, kadang tenang, kadang bergerak pelan setelah hujan turun semalaman. Di permukaannya sering terlihat daun-daun kecil hanyut perlahan mengikuti arus.

Bagi anak-anak kampung, parit seperti itu sudah cukup untuk menghadirkan kegembiraan.

Ia biasanya membawa pancing sederhana.

Batang pancingnya tidak mahal.

Kadang hanya dari ranting lentur yang dipotong dari semak dekat rumah.

Benangnya tipis.

Mata kailnya kecil.

Umpannya cacing yang dicari sendiri dari tanah lembap di belakang rumah.

Ia tidak pernah jijik memegang cacing.

Tangannya yang kecil sudah terbiasa menggali tanah basah sambil tertawa ketika menemukan cacing yang gemuk dan panjang.

Lalu ia pergi sendiri menuju parit-parit kecil di dekat kampung.

Kadang matahari sedang terik-teriknya.

Udara panas membuat kulit terasa lengket oleh keringat.

Namun itu tidak pernah menghalanginya.

Ia justru menikmati perjalanan kecil itu.

Melewati jalan setapak.

Melompati genangan kecil.

Mendengar suara burung dari kejauhan.

Dan sesekali berhenti hanya untuk melihat capung yang hinggap di rerumputan.

Di tepi parit, ia duduk diam sambil memegang pancing.

Air tampak tenang di bawah cahaya matahari.

Kadang hanya gelembung kecil yang muncul sebentar lalu hilang kembali.

Ia menunggu dengan sabar.

Begitulah memancing mengajarkan anak-anak kampung tentang waktu.

Tidak semua hal datang secepat yang kita inginkan.

Kadang harus diam lebih lama.

Kadang harus rela pulang tanpa hasil.

Namun ketika pelampung kecil mulai bergerak, jantungnya selalu ikut berdebar.

Biasanya yang paling sering didapat adalah ikan kecil yang di kampung mereka disebut Tangket.

Ikan kecil yang lincah dan bergerak cepat di air dangkal.

Sesekali ia juga mendapatkan Paparok, ikan gabus yang lebih besar dan membuatnya pulang dengan wajah bangga.

Ia suka memperlihatkan hasil tangkapannya kepada Nenek atau orang rumah.

Tidak peduli besar atau kecil.

Baginya, setiap ikan adalah kemenangan kecil.

Namun ada satu peristiwa yang tidak pernah benar-benar hilang dari ingatannya.

Hari itu matahari sangat panas.

Udara nyaris tidak bergerak.

Ia memancing sendirian seperti biasa di sebuah parit yang agak jauh dari rumah.

Sudah cukup lama ia duduk menunggu ketika tiba-tiba benang pancingnya bergerak keras.

Matanya langsung berbinar.

“Pasti besar,” pikirnya.

Ia menarik pancing itu dengan semangat.

Air di permukaan bergejolak.

Lalu sesuatu muncul dari dalam air.

Bukan ikan.

Melainkan seekor ular.

Tubuhnya kecil tetapi bergerak liar di ujung mata kail.

Anak perempuan itu langsung menjerit.

Pancing dilempar begitu saja.

Lalu ia lari tunggang-langgang menyusuri jalan kecil sambil menangis ketakutan.

Kakinya nyaris terpeleset beberapa kali karena terlalu panik.

Jantungnya berdegup keras sepanjang perjalanan pulang.

Dan selama berhari-hari setelah kejadian itu, ia selalu memeriksa air dengan hati-hati sebelum mulai memancing lagi.

Lucunya, rasa takut itu tidak membuatnya berhenti.

Beberapa waktu kemudian ia kembali memancing seperti biasa.

Karena bagi anak-anak kampung, ketakutan hanyalah bagian kecil dari petualangan.

Sesekali ia juga pergi memancing bersama teman-temannya menggunakan sampan kecil di Sunge Aik Manur.

Itulah hari-hari yang paling menyenangkan.

Mereka naik sampan sambil membawa pancing dan bekal sederhana.

Air sungai bergerak perlahan di bawah sampan kayu.

Sesekali angin membawa aroma hutan rawa yang lembut dan basah.

Mereka tertawa, saling mengejek hasil tangkapan, lalu kembali serius ketika pelampung mulai bergerak.

Kadang mereka mendapatkan ikan.

Kadang hanya mendapatkan cerita.

Namun anak-anak tidak pernah terlalu peduli tentang hasil.

Yang penting adalah perjalanan.

Yang penting adalah kebersamaan.

Yang penting adalah sore yang dihabiskan di atas air sambil mendengar suara sungai dan burung-burung dari tepian.

Kini, bertahun-tahun kemudian, ia tidak lagi duduk di tepi parit membawa pancing kecil.

Jalan hidup telah membawanya jauh dari kampung.

Namun setiap kali melihat anak-anak memancing atau mencium aroma sungai selepas hujan, sebagian dirinya diam-diam kembali ke masa itu.

Ke seorang anak perempuan kecil yang berani berjalan sendirian di bawah terik matahari.

Ke parit-parit kecil tempat Tangket berenang.

Ke Sunge Aik Manur yang tenang.

Ke sampan kayu yang bergoyang pelan.

Dan ke hari ketika seekor ular pernah membuatnya lari ketakutan sambil meninggalkan pancing di pinggir air.

Mungkin begitulah masa kecil tinggal di dalam ingatan.

Tidak sebagai cerita besar.

Melainkan sebagai kumpulan petualangan kecil yang suatu hari berubah menjadi kerinduan. ***


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *