Lalak Kampokng

Ada masa ketika kampung menjadi sangat sunyi, sampai anak-anak pun belajar berbicara dengan bisikan

Pada akhir tahun delapan puluhan dan awal sembilan puluhan, kampung mereka belum mengenal listrik.

Malam datang benar-benar sebagai malam.

Gelap turun perlahan dari balik hutan, lalu menyelimuti rumah-rumah kayu yang berdiri berjauhan di antara pohon-pohon dan ladang.

Satu-satunya bangunan besar saat itu hanyalah SD Inpres.

Bangunan sederhana yang bagi anak-anak kampung terasa begitu penting, seolah seluruh masa depan mereka bertumpu di sana.

Di luar itu, kampung berjalan lambat mengikuti irama alam.

Ketika matahari tenggelam, orang-orang mulai menyalakan pelita minyak tanah.

Cahaya kecil kekuningan muncul satu per satu dari jendela rumah penduduk, seperti kunang-kunang yang tersebar di tengah gelap.

Sebagian keluarga yang sedikit lebih mampu memiliki lampu strongking.

Lampu minyak tanah dengan tabung yang dipompa agar nyalanya lebih terang.

Cahayanya jauh lebih kuat daripada pelita biasa.

Namun lampu itu boros minyak tanah.

Karena itu tidak semua rumah mampu menyalakannya setiap malam.

Ada juga beberapa rumah yang memiliki genset kecil.

Jika malam tiba dan genset mulai dinyalakan, suara mesinnya terdengar cukup jauh di antara kesunyian kampung.

Anak-anak biasanya senang ketika lampu listrik menyala beberapa jam.

Mereka bisa menonton televisi hitam putih sebelum genset dimatikan menjelang tengah malam untuk menghemat solar yang mahal.

Televisi pada masa itu bukan sekadar hiburan.

Ia seperti jendela kecil menuju dunia luar.

Kadang gambarnya kabur.

Kadang antenanya harus diputar berkali-kali.

Namun warga tetap berkumpul untuk menontonnya bersama.

Sementara di luar rumah, malam kampung tetap berjalan seperti biasa.

Suara jangkrik.

Desir daun sagu.

Anjing menggonggong dari kejauhan.

Dan langit yang penuh bintang tanpa terhalang cahaya kota.

Namun di antara semua musim dalam kehidupan kampung, ada satu waktu yang selalu membuat suasana berubah menjadi berbeda.

Sunyi menjadi lebih sunyi.

Langkah kaki menjadi lebih pelan.

Dan bahkan anak-anak belajar menahan suara mereka sendiri.

Musim itu disebut Lalak Tamakng atau Lalak Kampokng.

Ketika masa itu tiba, seluruh kampung memasuki waktu pantang.

Sejak sore hari hingga keesokan sore, warga harus berdiam diri di rumah.

Tidak boleh ribut.

Tidak boleh bekerja di ladang.

Tidak boleh pergi ke kebun karet.

Tidak boleh masuk hutan.

Bahkan ada larangan yang terdengar sangat aneh bagi orang luar:

tidak boleh memetik daun.

Orang kampung menyebutnya ngalayuik.

Membuat daun atau tumbuhan menjadi layu.

Anak perempuan itu tidak pernah benar-benar memahami semuanya ketika masih kecil.

Ia hanya tahu bahwa ketika Lalak Kampokng tiba, suasana rumah berubah.

Orang-orang berbicara lebih pelan.

Tidak ada suara parang dari ladang.

Tidak ada orang berjalan ramai-ramai menuju kebun.

Kampung seperti menahan napas.

Dan ia paling ingat satu hal:

ia tidak boleh berteriak.

Jika ingin berbicara, ia harus berbisik.

Kadang ia lupa lalu tertawa terlalu keras.

Maka orang dewasa segera mengingatkannya dengan cepat.

“Ssst… jangan ribut.”

Lalu ia kembali diam sambil menahan rasa penasaran yang besar.

Di beberapa rumah, warga membuat palantaratn.

Semacam sesajen adat yang disiapkan sebagai bagian dari ritual kampung.

Di atas piring atau gelas diletakkan beras, telur ayam kampung, paku, dan sirih masak—daun sirih yang dilipat rapi.

Benda-benda itu tampak sederhana di mata anak-anak.

Namun bagi orang-orang tua kampung, semuanya memiliki makna.

Tidak seorang pun berani melanggar pantangan tersebut.

Karena jika melanggar, harus dilakukan upacara adat kembali dan seluruh biayanya ditanggung sendiri.

Untuk ritual kampung itu sendiri, warga biasanya patungan bersama.

Tidak ada yang merasa keberatan.

Sebab adat bukan sekadar aturan.

Ia adalah cara hidup.

Cara menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri.

Kini, setelah dewasa, anak perempuan itu mulai memahami hal-hal yang dahulu terasa misterius.

Bahwa mungkin leluhur mereka sedang mengajarkan sesuatu yang perlahan hilang dari kehidupan manusia modern:

tentang berhenti sejenak.

Tentang memberi waktu bagi alam untuk bernapas.

Tentang menghormati hutan dan tanah yang memberi kehidupan.

Tentang kesunyian.

Di kota, manusia terus bergerak tanpa henti.

Mesin bekerja sepanjang malam.

Lampu menyala dua puluh empat jam.

Orang-orang berbicara tanpa jeda.

Namun kampung dahulu pernah mengajarkannya bahwa ada waktu ketika manusia harus diam.

Harus menunda pekerjaan.

Harus menahan suara.

Harus berhenti memetik bahkan sehelai daun.

Dan mungkin, tanpa disadari, itulah cara Tuhan dan alam meminta manusia untuk mengingat bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja dan mengejar sesuatu.

Kadang manusia perlu duduk tenang di dalam rumah.

Mendengar napas sendiri.

Mendengar suara malam.

Dan menyadari bahwa dunia tetap berjalan meski kita berhenti sejenak.

Sampai hari ini, ketika mengingat masa kecilnya, yang paling ia rindukan bukan hanya pelita atau televisi hitam putih itu.

Melainkan suasana ketika seluruh kampung tiba-tiba menjadi begitu hening.

Seolah semua orang sedang mendengarkan sesuatu yang tidak terdengar oleh telinga,

tetapi dapat dirasakan oleh hati. ***


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *