Berjumpa Karya Sebelum Orangnya, Catatan Singkat Bersama Masri Sareb Putra

Spread the love

Ada orang-orang yang kita kenali lewat wajah atau jabatannya terlebih dahulu. Namun, dalam dunia literasi, rute perkenalan itu sering kali terbalik. Kita jatuh cinta pada isi kepalanya, akrab dengan diksinya, baru kemudian takdir mempertemukan kita dengan raganya. Itulah yang saya alami saat mengenal R. Masri Sareb Putra, M.A.

Jauh sebelum tatap muka itu terjadi, saya sudah akrab dengan namanya. Di meja redaksi, jemari saya sering kali memilah dan memuat resensi dari buku-buku yang lahir dari rahim pemikirannya. Setiap kali membaca karya-karyanya—baik tentang teknik menulis maupun kebudayaan—saya selalu membayangkan sosok di balik baris-baris kalimat tersebut: seorang pemikir yang barangkali kaku, atau editor senior yang berjarak.

Namun, prasangka itu runtuh pada tahun 2007.

Saat itu, saya sedang mengemban tugas sebagai editor di Borneo Tribune. Di tengah hiruk-pikuk ruang redaksi dan tenggat waktu yang memburu, takdir membawa Masri Sareb Putra melangkah masuk ke ruang kehidupan saya secara nyata.

Pertemuan pertama itu di luar ekspektasi.

Alih-alih mendapati sosok senior yang intimidatif, saya justru disambut oleh kehangatan yang tulus. Masri adalah pribadi yang sangat ramah.

Di balik reputasi besarnya sebagai penulis puluhan buku dan ribuan artikel di media nasional, ia tidak membawa sekat senioritas.

Obrolan mengalir begitu ringan, sehangat seduhan kopi di sela-sela rehat cetak koran.

Menulis Tanpa Henti, Merawat Tradisi

Bagi saya yang juga bergulat di dunia kata-kata, Masri adalah potret kedisiplinan yang ekstrem.

Bayangkan saja, ia mewajibkan dirinya sendiri menulis minimal tiga halaman setiap hari.

Konsistensi baja itulah yang membuatnya mampu membukukan puluhan judul buku dan lebih dari 4.000 artikel sepanjang kariernya.

Namanya bahkan dicatat emas oleh sastrawan Korrie Layun Rampan dalam Leksikon Susastra Indonesia (2000).

Kiprahnya di industri media nasional pun bukan kaleng-kaleng. Ia pernah menjadi kode inisial ikonik X-5 saat menjadi wartawan harian Suara Indonesia di Malang, menjadi redaktur Majalah Hidup, hingga menjadi koresponden kantor berita internasional UCANews di Hong Kong.

Pengalamannya selama 13 tahun sebagai Editor Ahli di PT Grasindo (Kompas Gramedia Group) menjadikannya seorang “arsitek” yang tahu betul bagaimana mengemas sebuah gagasan menjadi konsumsi publik yang bergizi.

Namun, di atas semua pencapaian mentereng itu—mulai dari ruang sidang penerbitan raksasa di Jakarta hingga mimbar kuliah di Universitas Multimedia Nusantara (UMN)—hati Masri tidak pernah benar-benar meninggalkan Kalimantan.

Melalui Lembaga Literasi Dayak (LLD) yang dipimpinnya, ia mendedikasikan sisa energinya untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat adat. Ia tahu betul bahwa jika sebuah kebudayaan tidak dituliskan, ia akan punah digilas zaman.

Sebuah Inspirasi dari Meja Redaksi

Pertemuan tahun 2007 di kantor Borneo Tribune itu mungkin sudah belasan tahun berlalu.

Namun, kesan tentang sosok penulis besar yang ramah dan hangat itu tetap tinggal dalam ingatan saya.

Masri Sareb Putra mengajarkan saya—dan kita semua—bahwa menjadi produktif tidak harus membuat kita kehilangan pijakan bumi.

Menjadi ahli tidak harus membuat kita berjarak dengan mereka yang baru memulai. Dari jurnalisme lapangan hingga dunia akademis, ia terus menulis, terus mengajar, dan yang paling penting: terus merawat kemanusiaannya dengan keramahan yang tak pernah pudar.

Setiap orang punya cerita, dan bagi saya, cerita tentang Masri Sareb Putra adalah cerita tentang bagaimana sebuah karya mampu melintasi ruang untuk mempertemukan dua sahabat literasi. ***


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *