Ketika Lonceng Menjadi Jenderal Kehidupan, Kenangan yang Tak Pernah Tamat dari Nyarumkop

Spread the love

Setiap kali mendengar orang berbicara tentang Persekolahan Katolik Nyarumkop yang tahun ini memasuki usia 110 tahun, ingatan saya selalu kembali ke sebuah pagi yang dingin di bawah Gunung Poteng.

Dingin yang berbeda dengan sekarang.

Dingin yang membangunkan saya dan teman-teman sebelum fajar benar-benar datang.

Saya adalah alumnus SMA Santo Paulus Nyarumkop. Tamat tahun 1996. Selama bersekolah saya tinggal di Asrama Seminari Wisma Widya.

Bagi kami yang pernah hidup di sana, Nyarumkop bukan sekadar sekolah. Ia adalah rumah kedua yang membentuk cara hidup, cara berpikir, dan bahkan cara memandang dunia.

Hidup kami diatur oleh satu sosok yang tidak pernah terlihat tetapi selalu ditaati.

Namanya: lonceng.

Di Nyarumkop, lonceng adalah jenderal.

Ketika lonceng berbunyi pukul empat pagi, seluruh penghuni asrama bangun. Tidak ada tawar-menawar. Tidak ada tombol snooze seperti sekarang.

Kami segera membereskan tempat tidur, mandi, lalu bersiap menuju kapel atau gereja untuk ibadah dan misa pagi yang dimulai pukul lima.

Udara pagi waktu itu terasa sangat dingin. Apalagi posisi sekolah dan asrama berada di kaki Gunung Poteng. Kabut sering masih menggantung di antara pepohonan ketika kami berjalan menuju tempat ibadah.

Setelah misa selesai, kami sarapan.

Lalu berangkat ke sekolah.

Jaraknya mungkin hanya sekitar 300 meter. Tidak jauh. Sedikit menanjak. Jalannya sudah disemen dan sebagian beratap sehingga nyaman dilalui meskipun hujan.

Rute pendek itu kami lalui setiap hari selama bertahun-tahun.

Mungkin saat menjalaninya terasa biasa saja.

Namun setelah puluhan tahun berlalu, justru perjalanan singkat itulah yang sering muncul dalam ingatan.


Siang hari kami kembali ke asrama untuk makan siang dan beristirahat.

Tetapi kehidupan asrama tidak pernah benar-benar sepi.

Setiap hari sudah memiliki jadwalnya sendiri.

Ada hari membersihkan asrama.

Ada hari mencari rumput untuk sapi peliharaan.

Ada hari mencincang batang pisang atau ubi untuk makanan babi.

Ada pula jadwal membersihkan kandang sapi dan kandang ayam. Ini juga seru, di sini lah kamu akan mencium aroma kotoran dan air kencing sapi yang menyengat.

Ada jadwal di kebun, membuang rumput dari sela-sela sayuran. Dan, ada jadwal menebas rumput. Jangan bayangkan menebas pakai mesin pemotong rumput, kami mmeotong pakai arit. Pokok-nya seminggu pertama telapak tangan akan lecet. Hahaha…

Ada jadwal lain-lain, ekskul pendidikan pertanian, matematika, olahraga seperti voli, sepakbola dan lainnya. Ada seni seperti drum band, dan masih banyak lagi yang lain.

Aku, memilih pertanian dan matematika. Alasannya sederhana, jika nanti tamat SMA tak melanjutkan kuliah aku punya bekal untuk menjadi petani di kampung.

Memilih matematika bukan karena aku sangat maniak ilmu pasti itu, tapi aku sadar matematika ku hancur lebur…Aku mau spill nilai akhir saat ujian, tapi nanti saja lah. Sebab, nilai-nya benar-benar membuat hidupku seperti roller coaster. Hahaha.

Oh iya malam hari, 3 kali dalam seminggu kami ada semacam les Guru Agama Katolik. Materi-nya lengkap. Seingatku ada Kitab Suci, Tata Perayaan Ibadah, Koor.

Oh satu lagi, kami di SMA dan seminari juga tentu-nya masih ada pelajaran lain yang tak umum: Bahasa Jerman dan Bahasa Latin.

Jangan tanyakan apakah aku bisa kedua bahasa itu. Jawabannya hanya kalimat ini yang kuingat.

Non scholae sed vitae discimus.” Bahasa Latin artinya kira-kira, “Kita belajar bukan hanya untuk sekolah, melainkan untuk hidup.

Ada satu lagi sih, hahaha…”Regina laudat agricolam.” Artinya kira-kira, “Ratu memuji petani.”

Terus kalau bahasa Jerman aku masih ingat hanya kalimat ini: “Ich liebe dich.”

Artinya, “Aku cinta kamu.”

Oh iya, saat itu mungkin terasa sebagai pekerjaan tambahan yang melelahkan.

Namun sekarang saya menyadari bahwa semua itu adalah bagian dari pendidikan.

Kami diajarkan bahwa hidup bukan hanya soal membaca buku dan mengerjakan soal ujian.

Ada kerja keras.

Ada tanggung jawab.

Ada penghargaan terhadap pekerjaan sekecil apa pun.

Dan ada kesadaran bahwa makanan yang hadir di meja makan tidak datang begitu saja.


Dari sekian banyak tugas, ada satu yang paling ditunggu.

Membawa makanan ke Wisma Rini.

Kami menggunakan kereta dorong untuk mengantarkan makanan ke asrama putri yang dihuni para siswi SMP dan SMK.

Tugas itu selalu menjadi tugas yang paling menggembirakan.

Alasannya tentu bukan karena kereta dorongnya.

Anak-anak laki-laki seusia kami pasti mengerti alasannya.

Di sana ada kesempatan melihat wajah-wajah yang diam-diam menjadi pujaan hati.

Kadang hanya bertemu beberapa menit.

Kadang hanya saling melihat sekilas.

Tetapi bagi remaja belasan tahun, itu sudah cukup membuat hari terasa lebih menyenangkan.


Sore hari biasanya diisi dengan olahraga.

Sepak bola.

Bola voli.

Bulu tangkis.

Lapangan menjadi tempat kami melepaskan energi setelah seharian belajar dan bekerja.

Lalu mandi.

Makan malam bersama.

Semua dilakukan dalam ritme yang teratur.

Makanan kami waktu itu sebenarnya sangat sederhana.

Saya masih ingat menu yang sering muncul di meja makan.

Kangkung.

Kecambah.

Ikan asin.

Sesekali ada daging ketika ada pesta atau perayaan khusus.

Saat itu mungkin kami sering mengeluh.

Anak-anak memang begitu.

Tetapi anehnya, justru makanan-makanan sederhana itulah yang sekarang paling sering menghidupkan kenangan tentang Nyarumkop.

Bukan hidangan mewah.

Bukan makanan mahal.

Melainkan sepiring kangkung, kecambah, dan ikan asin yang disantap bersama teman-teman seperjuangan.


Malam Kamis memiliki suasana yang berbeda.

Seluruh penghuni asrama mengikuti misa di gereja besar.

Oh ya hal yang sama pada hari Minggu. Kami semua misa di gereja besar — yang kala itu juga menjadi gereja paroki umat di Nyarumkop — pada pagi hari.

Anak asrama Wisma Timonong (asrama siswa putra SMP), Wisma Bhinneka (asrama Siswa Putra SMK), Wisma Widya (asrama siswa seminari dan siswa Topang), dan Wisma Rini (asrama putri SMP dan SMK), bergiliran bertugas di gereja. Mulai bacaan, misdinar, hingga koor.

Sementara pada hari biasa, kami di asrama Wisma Widya misa di kapel lingkungan asrama setiap pagi.

Setelah makan malam kami belajar.

Kemudian pukul sembilan malam doa kompletorium.

Sesudah itu tidur.

Begitulah hari-hari kami berjalan.

Teratur.

Disiplin.

Berulang.

Mungkin jika anak-anak zaman sekarang menjalaninya, mereka akan menganggap hidup seperti itu terlalu ketat.

Tetapi justru dari ritme itulah banyak hal terbentuk.

Disiplin.

Tanggung jawab.

Kebersamaan.

Kesederhanaan.

Dan rasa hormat kepada waktu.


Banyak dari kami yang setelah tamat kemudian berjalan ke arah yang berbeda-beda.

Ada yang menjadi guru.

Pegawai negeri.

Pengusaha.

Politisi.

Pastor.

Jurnalis, penulis buku, sastrawan, seniman.

Petani.

Atau profesi lainnya.

Namun satu hal yang tetap sama.

Kami merasa bersaudara.

Di mana pun berada, selalu ada alumni Nyarumkop yang bisa disapa sebagai teman.

Ada perasaan memiliki rumah yang sama.

Ada pengalaman hidup yang sama.

Ada cerita yang sama tentang lonceng, misa pagi, mencari rumput, membersihkan kandang, bermain bola, hingga mengantar makanan ke Wisma Rini.

Mungkin itulah warisan terbesar Nyarumkop.

Bukan gedungnya.

Bukan lapangannya.

Bukan pula nilai rapornya.

Melainkan persaudaraan yang bertahan jauh setelah seragam sekolah tidak lagi dipakai.

Dan setiap kali saya kembali ke Nyarumkop, saya selalu sadar bahwa sebagian diri saya masih tertinggal di sana.

Di bawah Gunung Poteng.

Di antara suara lonceng pagi.

Di jalan semen yang sedikit menanjak menuju sekolah.

Di tempat yang telah membantu membentuk siapa saya hari ini. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *