Setiap orang punya cerita, dan di blog ini saya selalu percaya bahwa cerita terbaik adalah yang dialami sendiri secara nyata.
Di sudut-sudut Kalimantan Barat, ada satu cerita yang terus hidup tentang keberanian serta ketulusan yang dibungkus kesederhanaan.
Cerita itu milik Bruder Stephanus Paiman OFM Cap.
Bagi masyarakat Pontianak dan pedalaman Kalbar, ia bukan sekadar seorang biarawan Katolik yang menghabiskan waktunya di balik biara sunyi.
Ia adalah manusia jubah cokelat yang memilih membawa imannya langsung ke aspal jalanan, ruang sidang yang pengap, hingga ke kemudi mobil ambulans.
Melalui Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP) yang didirikannya, ia menghidupi spiritualitas dengan cara yang sangat membumi.
Saya sendiri telah membuktikannya beberapa kali.
Sering kali kita menemui jalan buntu atau mentok ketika ada keluarga di kampung atau warga tak mampu yang mendadak sakit keras atau bahkan meninggal dunia.
Di saat-saat kritis seperti itu, ketika kebingungan melanda, nama Bruder Stephanus selalu menjadi tempat saya mengadu.
Cukup melalui satu sambungan telepon, tanpa birokrasi yang berbelit-belit dan tanpa pakai lama, beliau pasti datang.
Jika kondisinya sedang fit dan tidak ada agenda lain yang mendesak, saya menyaksikan sendiri bagaimana biarawan ini langsung memegang kemudi mobil, turun lapangan menjemput warga yang kesusahan.

Namun, jika beliau sedang tidak sempat, ada sosok tangan kanan yang selalu siap sedia ditugaskan.
Kami mengenalnya sebagai Bang Ali.
Sosok setia yang selalu membelah jalanan Kalbar demi mengantar pasien atau jenazah warga miskin tanpa mengeluh.
Hubungan antara Bruder Stephanus dan Bang Ali ini juga menjadi potret paling indah tentang bagaimana toleransi dipraktikkan tanpa sekat agama di tanah Borneo.
Sebagai bentuk apresiasi mendalam atas dedikasi dan kesetiaan sang sopir ambulans yang beragama Islam tersebut, Bruder Stephanus bahkan telah memberangkatkan Bang Ali ke tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah umrah.
Sebuah tindakan yang mengetuk hati saya, membuktikan bahwa di mata beliau, ketulusan melayani sesama melampaui segala perbedaan keyakinan.
Bagi saya dan banyak orang yang pernah merasakan langsung bantuan kilatnya, Bruder Stephanus adalah jawaban atas doa-doa di kala mentok.
Beliau membuktikan bahwa aksi kemanusiaan sejati tidak pernah menanyakan apa suku atau agama seseorang sebelum ditolong.
Melalui ketepatan waktunya hadir di saat-saat paling sulit, beliau mengajarkan kepada kita semua bahwa hidup yang berdampak adalah tentang berani mengulurkan tangan lebar-lebar dengan tulus, kapan pun dan bagi siapa pun yang membutuhkan. ***

