Saya bukan pendukung fanatik Borussia Dortmund.
Jika ditanya klub Eropa favorit, saya hanya membutuhkan waktu beberapa detik untuk menjawabnya dengan tegas! Real Madrid dan Kaiserlautern.
Namun ketika berkesempatan mengunjungi Jerman pada musim panas 2025, rasanya sulit menolak ajakan untuk melihat langsung markas salah satu klub sepak bola paling terkenal di Eropa.
Apalagi nama Borussia Dortmund bukan nama sembarangan dalam sejarah sepak bola Jerman.
Klub yang bermarkas di ini dikenal memiliki salah satu basis pendukung paling fanatik di dunia. Stadionnya mampu menampung lebih dari 80 ribu penonton dan terkenal dengan tribun selatan atau Südtribüne, yang dijuluki Yellow Wall—Tembok Kuning—karena lautan manusia berbaju kuning yang memenuhi tribun saat pertandingan berlangsung.

Sayangnya, ketika kami datang, musim kompetisi sedang jeda.
Bulan Juli di Jerman adalah masa libur musim panas. Bundesliga belum bergulir. Tidak ada pertandingan resmi. Tidak ada ribuan pendukung yang bernyanyi sepanjang laga. Tidak ada sorak-sorai setelah gol tercipta.
Yang ada hanya stadion yang berdiri megah di bawah langit kelabu.
Hari itu saya berangkat bersama keluarga dari apartemen atau Wohnung putra kedua kami. Kami naik tram menuju kawasan stadion. Sistem transportasi umum Jerman memang memudahkan orang pergi ke mana saja, termasuk ke stadion sepak bola.
Setelah turun dari tram, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki.
Stadion itu berdiri agak lebih tinggi dari kawasan sekitarnya sehingga kami harus sedikit mendaki. Untungnya, saat itu saya sudah hampir tiga minggu berada di Jerman. Kaki mulai terbiasa berjalan jauh. Napas juga tidak terlalu ngos-ngosan seperti saat hari-hari pertama tiba.
Mungkin cuaca ikut membantu.
Meski secara kalender sedang musim panas, bagi kami yang datang dari Pontianak, suhu udara tetap terasa sejuk. Apalagi saat itu hujan gerimis turun perlahan. Udara dingin bercampur aroma tanah basah membuat perjalanan menuju stadion terasa nyaman.
Dari kejauhan, warna kuning khas Borussia Dortmund mulai terlihat.
Dominan.
Mencolok.
Sulit salah mengenalinya.
Warna itu sudah menjadi identitas kota dan klub selama puluhan tahun.
Ketika tiba di kawasan stadion, suasananya cukup tenang. Tidak ada antrean panjang. Tidak ada lautan syal kuning-hitam. Tidak ada pedagang yang sibuk melayani ribuan pembeli.
Di salah satu lapangan samping justru sedang berlangsung latihan sepak bola usia dini.
Anak-anak perempuan dan laki-laki berlatih bersama.

Kami berhenti sejenak mengamati.
Pelatih memberikan instruksi.
Anak-anak berlari mengejar bola.
Sesekali terdengar tawa.
Sepak bola di Jerman rupanya tidak hanya hidup di stadion besar. Ia juga hidup di lapangan-lapangan latihan seperti ini.
Di situlah bibit-bibit pemain masa depan ditempa.
Sambil berdiri di sekitar stadion, saya mencoba membayangkan bagaimana suasana tempat ini saat Bundesliga bergulir.
Saya membayangkan puluhan ribu orang berjalan menuju stadion.
Kereta dan tram yang penuh sesak.
Area parkir yang dipadati kendaraan.
Warung-warung yang ramai.
Lalu suara nyanyian para pendukung yang menggema.
Salah satu lagu yang paling terkenal dari pendukung Borussia Dortmund adalah:
“Olé, hier kommt der BVB!”
(Olé, di sinilah BVB datang!)
Ada pula lagu yang sering dinyanyikan sebelum pertandingan:
“You’ll Never Walk Alone”
Lagu yang juga populer di sejumlah klub Eropa lainnya, tetapi di Dortmund dinyanyikan dengan penuh penghayatan oleh puluhan ribu pendukung yang mengangkat syal kuning-hitam mereka tinggi-tinggi.
Saya membayangkan suara itu bergema di seluruh stadion.
Mengalir dari tribun ke tribun.
Menyatukan puluhan ribu orang yang mungkin berbeda pekerjaan, berbeda usia, berbeda latar belakang, tetapi memiliki satu kecintaan yang sama.
Sepak bola.
Di situlah saya mulai memahami sesuatu tentang Jerman dan Eropa.
Tradisi sepak bola mereka memang panjang.
Sangat panjang.
Sepak bola bukan sekadar hiburan akhir pekan.
Ia adalah bagian dari identitas kota.
Bagian dari kehidupan sosial.
Bagian dari sejarah keluarga.
Tak heran stadion-stadion di Jerman hampir selalu ramai.
Bahkan klub-klub yang bermain di divisi dua atau divisi tiga tetap memiliki pendukung setia.
Mereka tidak datang hanya ketika tim menang.
Mereka tetap datang ketika tim kalah.
Tetap membeli tiket.
Tetap membeli syal.
Tetap bernyanyi.
Tetap mendukung.
Beberapa hari sebelumnya saya juga melihat hal yang sama ketika mengunjungi markas . Fanatisme dan loyalitas itu terasa nyata.
Mungkin karena bagi mereka, mendukung klub bukan soal prestasi semata.
Melainkan soal identitas.
Soal rasa memiliki.
Soal kebanggaan terhadap kota tempat mereka lahir dan tumbuh.
Cukup puas melihat-lihat kawasan stadion, berfoto bersama keluarga, dan mengamati aktivitas di sekitarnya, kami pun memutuskan pulang.
Rutenya sama seperti saat datang.
Berjalan kaki menuju halte tram, lalu naik tram kembali ke arah apartemen putra kami.
Sembari berjalan pulang—orang Jerman biasanya menyebut berjalan kaki dengan istilah zu Fuß gehen—saya mulai menggoda putra kami.
“Jangan-jangan nanti kalau kita ke rumah kakakmu di Lüxem, kita dicuekin Johannes.”
Putra saya tertawa.
Saya ikut tertawa.
Sebab Johannes, menantu kami, adalah pendukung garis keras Kaiserslautern.
Di rumahnya tersimpan koleksi jersey berbagai musim, syal, dan beragam pernak-pernik klub kebanggaannya.
Sementara hari itu kami baru saja selesai berwisata ke markas Borussia Dortmund.
Walaupun sebenarnya saya bukan pendukung Dortmund, dalam logika para penggemar sepak bola fanatik, berkunjung ke stadion klub lain kadang bisa dianggap “pelanggaran ringan”.
Untunglah Johannes tidak sefanatik itu.
Atau setidaknya saya berharap demikian.
Hahaha.
Gerimis masih turun tipis ketika kami melangkah menuju halte.
Di belakang kami, stadion Borussia Dortmund tetap berdiri megah dalam warna kuning yang menjadi kebanggaan jutaan pendukungnya.
Hari itu memang tidak ada pertandingan.
Tidak ada gol.
Tidak ada selebrasi.
Tidak ada lautan manusia.
Namun saya tetap senang pernah berdiri di sana.
Karena terkadang sebuah stadion bukan hanya tentang pertandingan yang sedang berlangsung.
Ia adalah tempat di mana sejarah, identitas kota, dan kecintaan orang-orang terhadap sepak bola bertemu dalam satu ruang yang sama.
Dan meski stadion sedang sunyi, saya masih bisa membayangkan suatu hari tribun-triun itu kembali penuh, syal-syal kuning kembali terangkat, dan puluhan ribu suara bernyanyi bersama dalam satu irama.
Sebuah tradisi yang membuat sepak bola Eropa tetap hidup dari generasi ke generasi. ***
Hari itu Signal Iduna Park sedang sunyi. Namun di tengah gerimis musim panas Jerman, saya masih bisa membayangkan lautan kuning yang memenuhi tribun dan bernyanyi bersama.

