Proyek Bunuh Diri Itu Bernama ‘Buku 110 Tahun Nyarumkop’

Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.

☕ Traktir Kopi di Trakteer

Aku masih sering tersenyum sendiri ketika memegang buku 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop (1916–2026).

Buku itu kini sudah ada di tangan para alumni. Halamannya sudah dibaca banyak orang. Namun setiap kali aku melihat sampulnya, yang teringat bukan hanya isi buku itu, melainkan perjalanan yang nyaris membuat kami kehabisan tenaga.

Semuanya berawal dari permintaan Ketua Panitia Reuni Agung, Bang Yustianus Ami.

Beliau ingin agar perayaan 110 tahun tidak hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga sebuah buku yang dapat menjadi warisan sejarah.

Jujur, aku ragu.

Bahkan sangat ragu.

Aku pernah kirim pesan melalui WhatsApps kepada Bang Masri Sareb Putra. Kukatakan dengan sumber daya yang kami miliki dan waktu kurang dari tiga minggu, pekerjaan ini akan sangat sulit.

Bahkan mustahil.

Dalam hati aku bahkan menyebutnya sebagai proyek bunuh diri.

Tetapi Bang Masri justru tertawa kecil saat menelepon.

Dengan tenang ia berkata bahwa pekerjaan ini bisa diselesaikan.

Bang Masri berkata, ini adalah pekerjaan probono alias gratis yang kami semua persembahkan untuk almamater. Pengusaha atau pejabat mungkin punya uang bisa menyumbang.

Sementara aku. Bahkan mungkin kami adalah wartawan dan penulis kere, hahaha…hanya punya skill menulis dan hanya itu yang bisa kami sumbangkan.

Optimisme Bang Masri perlahan menular kepadaku.

Ada satu kalimat beliau yang sampai sekarang tidak pernah aku lupakan.

“Jika orang datang dengan rendah hati, hati kita pun luluh.”

Kalimat itu ternyata benar.

Kalimat itu juga mau bang Masri gambarkan bagaimana Bang Yustianus Ami saat ke Jakarta berusaha menemui diri-nya dan mereka mengobrol panjang lebar.

Kerendahan hati membuka begitu banyak pintu. Narasumber menerima kami. Alumni membantu. Arsip-arsip lama bermunculan. Foto-foto yang semula sulit ditemukan akhirnya datang satu per satu.

Bahkan suster pembina asrama putri, bruder mantan pembina Timonong, ketua yayasan, dan narasumber, menjawab WA dan telepon saya saat jarum jam menunjukkan pukul 00.00 WIB.

Di antara para narasumber ada yang saya tahu mereka sangat sibuk. Di antara mereka ada alumnus Persekolahan Katolik Nyarumkop (PKN) yang kini diberi amanah sebagai pejabat.

Di antaranya ada dokter Viator dari RSUD di Sintang. Ada dokter Damianus Hipolitus dari RS Santo Antonius Pontianak. Ia bukan sembarangan, ia adalah dokter konsultan.

Ada Bang Albanus Asnanto, seorang hakim, dan banyak lagi.

Ada Romo Vikjen KAP, ada Pak Asisten 3 Setda Landak.

Lalu dimulailah maraton itu.

Wawancara. Menulis. Mengetik hasil wawancara. Membaca buku-buku lama. Menelusuri arsip. Menyunting naskah. Menghubungi narasumber lagi. Memilih foto. Mengoreksi tata letak.

Begitu terus, berulang-ulang.

Beberapa malam aku baru tidur menjelang subuh. Rasanya seperti hidup hanya ditemani secangkir kopi, laptop, dan tenggat waktu.

Walaupun aku sebenar-nya tak asing dikejar deadline.

Aku sudah mengalami itu sejak tahun 2001. Ritme deadline itu semakin memuncak saat aku di Harian Equator, kemudian di Tribun Pontianak.

Tapi kali ini berbeda.

Vibes-nya benar-benar berbeda.

Menjelang batas akhir, tulisan Bang Welly Wedhanta akhirnya masuk dan melengkapi kepingan terakhir buku ini.

Tulisan Bang Sastrawan — begitu aku suka memanggilnya — melengkapi puzzle di buku itu.

Tetapi buku ini tidak lahir hanya karena kerja para penulis.

Bang Ivie dari Ruai TV sibuk melobi banyak tokoh sehingga dukungan, termasuk iklan untuk buku, bisa diperoleh.

Anton Ami, Apong, dan tim iklan bekerja mencari dukungan ke berbagai pihak.

Ada Justina Hendry dari Amerika Serikat yang masih meluangkan waktu-nya saat zoom.

Pak Gunawan.

RP Thomas Ola Ramaroang, Pastor Persekolahan Katolik Nyarumkop.

Br Dionisius Boneventura Frans MTB.

Dan, banyak lagi yang lain.

Semua bergerak dengan caranya masing-masing.

Tidak ada yang bekerja sendirian.

Bahkan ketika proses layout berlangsung, aku ikut “menjaga” naskah bersama layouter secara daring hingga setiap halaman benar-benar siap dicetak.

Tiga hari sebelum reuni, Bang Masri memberi kabar yang membuat kami lega.

Buku selesai dicetak di Jakarta.

Saya pikir perjuangan sudah selesai.

Ternyata belum.

Kabut asap sedang menyelimuti Kalimantan. Beberapa penerbangan Jakarta–Pontianak tertunda. Saya mulai gelisah. Jangan-jangan Bang Masri tidak bisa datang membawa buku.

Puji Tuhan.

Beliau akhirnya tiba sehari sebelum acara.

Aku sudah lebih dulu berada di Nyarumkop.

Aku menginap di Mahkota Hotel.

Bukan apa-apa, aku ingin berenanag di kolam renang dan membenamkan kepalaku agar dingin…

Di tengah kesibukan panitia di Nyarumkop, saya menghampiri Bang Yustianus Ami.

Dari kejauhan beliau langsung menyongsong saya, menjabat tangan ku erat sambil berkata,

“Terima kasih. Kalian bekerja luar biasa untuk membuat buku ini.”

Kalimat itu sederhana.

Tetapi bagi ku, semua rasa lelah seperti terbayar lunas.

Ucapan yang sama datang dari Ketua Yayasan, Bruder Dionisius Bonevantura Frans MTB. Bruder Dion menjabat tangan dan mengapresiasi kami.

Dalam sambutan-sambutan resmi nama tim penulis ikut disebut.

Bahkan dalam Perayaan Ekaristi, Mgr Agustinus Agus juga memberikan apresiasi atas terbitnya buku ini.

Yang paling sering disebut tentu saja nama Bang Masri Sareb Putra.

Dan menurut saya, itu memang pantas.

Beliau bukan hanya menulis. Beliau adalah orang yang membuat kami percaya bahwa pekerjaan yang tampaknya mustahil masih bisa diwujudkan. Pengalamannya menerbitkan hampir 200 judul buku menjadi kompas bagi kami yang sedang berjalan dalam gelap.

Ada satu momen yang tidak akan saya lupakan.

Kabut asap masih menggantung. Udara masih terasa sesak di dada. Tetapi anehnya, setelah buku itu benar-benar terbit, kabut itu seperti kehilangan maknanya. Sesak yang beberapa hari sebelumnya begitu terasa, tiba-tiba berubah menjadi rasa lega.

Beban itu akhirnya lepas.

Sesudah semua selesai, Bang Masri mengajak saya makan ke Singkawang.

Kalau dipikir-pikir, mungkin menunya biasa saja. Babi kecap, nasi campur, babi panggang.

Tetapi hari itu, apa pun yang masuk ke mulut ku terasa luar biasa enaknya.

Barangkali bukan karena masakannya.

Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah berminggu-minggu hidup bersama tenggat waktu, aku bisa menikmati makanan tanpa memikirkan halaman yang belum selesai, foto yang belum masuk, atau naskah yang belum diedit.

Aku hanya menikmati rasa syukur.

Pada akhirnya aku belajar satu hal.

Sebuah buku tidak hanya ditulis dengan pena, komputer, atau kecerdasan. Ia juga ditulis dengan keyakinan, persahabatan, kerja sama, doa, dan orang-orang yang saling menguatkan ketika yang lain mulai ragu.

Mungkin karena itulah, setiap kali aku membuka buku ini, aku tidak hanya membaca sejarah 110 tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop.

Aku juga membaca kisah kecil tentang bagaimana Tuhan bekerja melalui begitu banyak orang untuk membuat sesuatu yang nyaris mustahil menjadi kenyataan.

Malam ini, tanggal 10 September 2026 saat aku mengetik dan kemudian meng-upload catatan ringan ini, reuni sudah selesai.

Aku duduk di pojokan sebuah warung kopi bertemu seorang teman lama, tak jauh dari Gereja Katedral Pontianak.

Di sela-sela seruputan kopi itu, aku masih membayangkan proses kreatif maraton bunuh diri itu.

Tak terasa sudah dua gelas kopi pahit aku teguk.

Non Scholae sed vitae Discimus…***

3 Comments

  1. Ada namaku disebut…. 😀👍👍👍

  2. Selamat, proficiat, saatnya tamat….semua terasa nikmat….
    Bagaimana saya bisa mendapatkan bukunya boss

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *