Suka dengan artikel ini? Kamu bisa apresiasi penulis dengan membelikan segelas kopi digital.
☕ Traktir Kopi di TrakteerKabut asap masih menyelimuti langit Kalimantan Barat ketika aku meninggalkan Nyarumkop, 6 September 2026. Jalan pulang menuju Pontianak kembali dipenuhi kendaraan. Di dalam mobil, orang-orang mulai terdiam. Barangkali lelah setelah tiga hari yang begitu padat. Barangkali masih sibuk merapikan kenangan yang baru saja tercipta.
Aku yang berada di balik kemudi Suzuki All New Ertiga biru termasuk yang memilih diam.
Entah mengapa, setiap kali meninggalkan Nyarumkop, selalu ada rasa yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti meninggalkan rumah yang sebenarnya tidak lagi saya tinggali, tetapi tetap menjadi bagian dari diri ku.
Mungkin karena di sanalah aku belajar menjadi manusia.
Reuni Akbar 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop bukan sekadar pertemuan ribuan alumni. Bukan pula hanya seremoni ulang tahun sebuah lembaga pendidikan yang telah melewati satu abad.
Aku melihat sesuatu yang lebih dalam.
Aku melihat orang-orang kembali menemukan dirinya sendiri.
Seorang pengusaha kembali menjadi anak asrama. Seorang pejabat kembali menjadi murid yang dulu pernah dihukum guru karena terlambat. Seorang uskup kembali menjadi anak sekolah yang pernah berjalan menyusuri lorong-lorong Nyarumkop. Jabatan, pangkat, dan profesi seperti ditinggalkan di gerbang sekolah.
Yang hadir hanyalah kami.
Anak-anak Nyarumkop.
Aku menyaksikan orang saling menatap beberapa detik sebelum akhirnya berteriak menyebut nama teman yang terakhir ditemui tiga puluh atau empat puluh tahun silam. Ada pelukan yang panjang. Ada tawa yang pecah. Ada air mata yang diam-diam jatuh.
Tak ada yang dibuat-buat.
Semuanya mengalir begitu saja.
Bagi ku, Nyarumkop bukan hanya ruang kelas.
Ia adalah halaman yang menyimpan ribuan langkah kaki para murid.
Ia adalah kapel tempat doa-doa pertama dipanjatkan.
Ia adalah asrama yang mengajarkan bagaimana hidup bersama orang lain.
Ia adalah ruang makan yang mengajari arti berbagi.
Dan ia adalah para guru yang mungkin dulu terasa keras, tetapi kini kami mengerti, ketegasan itu adalah bentuk kasih yang lain.
Nama-nama mereka kembali disebut sepanjang reuni.
Pak Suyadi.
Victor Subiastoro.
Pak Suratman.
Pak Slamet.
Pak Tukiji.
Pak Haryanto.
Pak Harjanto.
Bruder Claudius.
Suster Jeanne Marie.
Di era kami ada Pak Sukoco, Pak Hendrikus Clement, Pak Egidius, Pak Suratman, Bu Hilda, Bu Mulia, Bu Susana, almarhum Pak Paulus Anwardi, Om Theo Nungkat, Om Bartho, Pak Ajam, Bu Yanti.
Pak Teguh, Pak Sutrisno, Pak Slamet.
Ada Bruder Cimes OFM Cap, Pastor Heribertus Samuel OFM Cap, almarhum Pastor Virgilus Johan. Br Stephanus Paiman OFM Cap, Pastor Amantius OFM Cap, almarhum Pastor Heliodorus Herman OFM Cap, Suster Saferia SFIC. Pastor Iosephus Erwin OFM Cap, Pastor Oktav OFM Cap.
Masih banyak lagi.
Sebagian masih dapat kami jumpai. Sebagian lagi hanya bisa kami kenang dalam doa.
Namun saya percaya, seorang guru tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hidup melalui murid-murid yang dibentuknya.
Ada banyak cerita yang tidak pernah masuk dalam buku sejarah.
Tentang bubur Pak Lelen.
Tentang ikan asin yang dimakan bersama.
Tentang rumah Pak Nungkat yang selalu terbuka bagi anak-anak asrama.
Tentang teman yang diam-diam berbagi uang saku.
Tentang senior yang mengajari adik kelas bertahan hidup jauh dari orang tua.
Hal-hal kecil seperti itulah yang justru membentuk kehidupan.
Sering kali sejarah hanya mencatat nama besar dan peristiwa besar.
Padahal hidup kita dibangun oleh kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan tanpa sorotan.
Selama 3 minggu terakhir, aku menjadi bagian dari Tim Riset dan Penulisan Buku 110 Tahun Persekolahan Katolik Nyarumkop.
Bersama Bang Masri Sareb Putra dan tim lainnya, kami membaca arsip, mewawancarai puluhan narasumber, memeriksa data, menulis ulang sejarah, lalu menyusunnya menjadi sebuah buku yang akan menjadi penanda perjalanan 110 tahun almamater tercinta.
Terus terang, proses itu tidak ringan.
Ada hari-hari ketika kami harus berpacu dengan waktu.
Ada malam-malam ketika revisi terasa tidak ada habisnya.
Ada saat-saat ketika tubuh lelah, tetapi pekerjaan belum selesai.
Namun semua kelelahan itu seperti terbayar ketika buku akhirnya selesai dicetak.
Aku masih ingat perasaan itu.
Seolah beban besar yang dalam 3 minggu terakhir aku pikul tiba-tiba terlepas begitu saja.
Bahkan kabut asap yang beberapa hari sebelumnya membuat dada terasa sesak seperti ikut menghilang.
Ketika Bang Masri mengajak makan siang di Singkawang di sela-sela reuni, aku hanya bisa tertawa.
Semua makanan terasa enak.
Bukan karena menunya istimewa.
Tetapi karena hati sudah ringan.
Aku percaya, makanan paling lezat adalah makanan yang disantap setelah sebuah tanggung jawab dituntaskan.
Dalam reuni itu aku juga semakin yakin, sekolah bukan hanya soal gedung.
Bukan pula sekadar kurikulum.
Sekolah adalah manusia.
Guru-guru yang mengajar dengan hati.
Bruder dan suster yang mengabdikan hidup.
Para pembina asrama yang menemani anak-anak jauh dari keluarga.
Pegawai yang mungkin namanya tak pernah disebut, tetapi setiap hari memastikan semuanya berjalan baik.
Termasuk kakak dapur yang tiap hari memastikan kami bisa makan. Bahkan mereka mungkin bangun lebih awal dari kami, agar pagi hari kami bisa menyantap bubur hangat.
Dan ribuan alumni yang membawa nama Nyarumkop ke berbagai penjuru dunia.
Merekalah wajah sesungguhnya dari sebuah sekolah.
Ketika Misa Penutupan dipimpin Mgr Agustinus Agus, aku kembali merenung.
Seorang anak yang dulu belajar di ruang-ruang kelas sederhana di Nyarumkop kini kembali sebagai gembala Gereja.
Di situlah aku melihat bahwa pendidikan bukan hanya melahirkan orang-orang pintar.
Pendidikan melahirkan manusia yang memberi hidup bagi orang lain.
Itulah warisan terbesar sebuah sekolah.
Kini reuni telah usai.
Halaman kembali lengang.
Kursi-kursi sudah dirapikan.
Spanduk telah diturunkan.
Tamu-tamu pulang ke Pontianak, Singkawang, Sintang, Sanggau, Sekadau, Jakarta, bahkan ke berbagai negara.
Tetapi aku tahu, tidak ada seorang pun yang benar-benar pulang dengan tangan kosong.
Semua membawa sesuatu.
Ada yang membawa tawa.
Ada yang membawa haru.
Ada yang membawa semangat baru.
Dan aku, aku membawa keyakinan bahwa sekolah yang baik tidak pernah selesai mendidik murid-muridnya.
Ia terus hidup dalam setiap keputusan yang kita ambil.
Dalam setiap nilai yang kita pegang.
Dalam setiap kebaikan yang kita teruskan kepada orang lain.
Karena pada akhirnya, Nyarumkop bukan sekadar tempat kami pernah belajar.
Ia adalah tempat yang membentuk cara kami memandang kehidupan.
Dan seperti rumah yang selalu menunggu anak-anaknya kembali, Nyarumkop akan selalu memanggil kami pulang.
Scripta manent, verba volant. ***
