Salah satu kata dalam bahasa Jerman yang saya sukai adalah wandern.
Secara sederhana, artinya berjalan kaki menyusuri alam. Namun, setelah beberapa kali melihat dan melakukannya langsung selama berada di Jerman, saya merasa wandern lebih dari sekadar olahraga. Ia adalah cara menikmati alam, menghabiskan waktu bersama keluarga, sekaligus memberi kesempatan pada tubuh dan pikiran untuk beristirahat dari kesibukan sehari-hari.
Pada Juni 2025, saya bersama istri, anak-anak, menantu, dan cucu mencoba salah satu jalur wandern terkenal di kawasan Vulkaneifel, yaitu VulkanMaar-Pfad.
Jalur melingkar ini dikenal karena memadukan keindahan alam dengan jejak sejarah vulkanik yang membentuk kawasan Eifel jutaan tahun lalu. Hutan lebat, lembah hijau, jalur setapak alami, dan panorama perbukitan menjadi teman sepanjang perjalanan.
Pagi itu cuaca sangat bersahabat.
Langit biru membentang luas. Udara musim panas terasa sejuk. Burung-burung berkicau dari balik pepohonan.
Semua anggota keluarga tampak bersemangat.
Kecuali satu orang.
Saya.
Sejujurnya saya datang dengan modal kepercayaan diri yang cukup tinggi. Sebelum berangkat ke Jerman, selama sekitar tiga bulan saya rutin berjalan dan berolahraga di kawasan Untan Trek di Pontianak. Saya merasa kondisi fisik sudah lumayan baik.
Ternyata alam Eifel memiliki cara tersendiri untuk menguji keyakinan seseorang.
Beberapa kilometer pertama masih terasa menyenangkan. Jalurnya relatif landai. Kami berjalan santai sambil bercakap-cakap dan menikmati pemandangan.
Namun perlahan napas saya mulai terasa lebih berat.
Langkah mulai melambat.
Saya mulai mencari alasan untuk berhenti sejenak.
Biasanya alasan yang paling elegan adalah menikmati pemandangan.
Padahal sebenarnya saya sedang memberi kesempatan paru-paru dan jantung untuk melakukan negosiasi damai.
Dengan berat badan sekitar 85 kilogram dan perut yang semakin sulit disembunyikan, saya akhirnya menerima kenyataan bahwa olahraga rutin di Pontianak belum tentu membuat seseorang otomatis siap menghadapi jalur alam di Jerman.
Yang membuat situasi semakin lucu adalah kondisi anggota keluarga lainnya.
Istri saya berjalan santai tanpa terlihat kelelahan.
Anak-anak melangkah ringan sambil sesekali bercanda.
Menantu saya bahkan tampak menikmati setiap tanjakan.
Yang paling menyakitkan harga diri tentu saja adalah cucu kami yang baru berusia delapan tahun.
Ia berjalan tanpa keluhan.
Kadang berlari kecil.
Kadang berhenti mengamati bunga atau serangga.
Lalu kembali berjalan seolah memiliki cadangan energi tanpa batas.
Sementara saya mulai menghitung berapa banyak tanjakan yang masih tersisa.
Untunglah tidak ada perlombaan.
Sesekali mereka memperlambat langkah menunggu saya yang tertinggal beberapa puluh meter di belakang.
Tidak ada yang mengeluh.
Mereka hanya tertawa ketika saya datang sambil mengatur napas.
Dan mungkin memang seperti itulah seharusnya sebuah perjalanan keluarga dilakukan.
Bukan tentang siapa yang paling cepat mencapai tujuan.
Melainkan tentang menikmati perjalanan bersama.
Sepanjang jalur, pemandangan yang tersaji benar-benar memanjakan mata.
Kami berjalan melewati kawasan hutan yang teduh. Sinar matahari menembus celah dedaunan dan membentuk pola-pola cahaya di tanah.
Jalur sempit berkelok mengikuti kontur perbukitan.
Sesekali kami tiba di area terbuka yang memperlihatkan hamparan lembah hijau khas Eifel.
Salah satu titik yang paling menarik adalah panorama Manderscheid Castles.
Dari kejauhan tampak dua kastel tua berdiri di atas bukit yang saling berhadapan. Dinding-dinding batu yang telah berusia ratusan tahun itu tampak kontras dengan warna hijau lembah di sekitarnya.
Pemandangan tersebut seperti membawa kami kembali ke masa Abad Pertengahan.
Sulit membayangkan bahwa tempat yang kini menjadi tujuan wisata dan jalur pendakian itu dahulu merupakan bagian dari sejarah panjang perebutan kekuasaan dan peperangan di Eropa.
Perjalanan terus berlanjut melewati hutan dan perbukitan.
Rasa lelah mulai datang dan pergi silih berganti.
Namun setiap kali kami menemukan panorama baru, rasa lelah itu seperti sedikit terbayar.
Menjelang siang, kami mulai mendekati sebuah kawasan danau kawah yang terkenal di wilayah Vulkaneifel.
Dari kejauhan tampak permukaan air yang tenang dikelilingi bukit-bukit hijau.
Di tepinya berdiri sebuah kapel kecil berwarna putih.
Sekilas tempat itu terlihat biasa saja.
Namun ternyata lokasi tersebut menyimpan kisah yang jauh lebih menarik daripada yang saya bayangkan.
Tentang sebuah desa yang hilang akibat wabah mematikan.
Tentang pemakaman tua yang masih digunakan hingga hari ini.
Tentang legenda lonceng yang konon dapat mengabulkan harapan.
Dan tentang sebuah danau yang dijuluki masyarakat setempat sebagai Totenmaar, Danau Orang Mati.
Kisah itulah yang akan saya ceritakan pada bagian berikutnya di bagian-2. ***
Leave a Reply