Di Tepi Mosel, Saya Mengingat Sunge Ritok dan Sunge Manur

Juni 2025 menjadi perjalanan yang tidak akan saya lupakan.

Bersama istri, anak ketiga, dan pacar anak kedua, saya terbang ke Jerman untuk menghadiri pernikahan putri sulung kami dengan seorang warga Jerman.

Mereka akan menikah di kantor Catatan Sipil di Kota Wittlich, serta pemberkatan di Gereja Katolik di kota Bombogen. Kedua kota ini tak terlalu jauh dari kota Trier.

Kesempatan itu juga kami gunakan untuk mengunjungi putra kedua yang sedang menempuh pendidikan vokasi (Ausbildung) di negeri tersebut. Tepatnya di Dusseldorf.

Di sela-sela kunjungan keluarga itu, kami menyempatkan diri menjelajahi beberapa kota di kawasan lembah Mosel. Salah satu yang paling membekas dalam ingatan saya adalah kota kecil Cochem.

Berjarak sekitar 50 kilometer dari Trier, kota tertua di Jerman yang sarat peninggalan Romawi, Cochem seolah keluar dari halaman buku dongeng.

Gang-gang sempit berliku membelah kawasan kota tua.

Rumah-rumah tradisional setengah kayu berdiri berjajar dengan warna-warna yang hangat dan menawan.

Pot bunga menghiasi jendela-jendela. Kafe-kafe kecil menghadap ke jalan batu yang telah dilalui orang selama berabad-abad.

Di atas bukit yang mengawasi kota berdiri megah Reichsburg Cochem.

Kastel yang tampak seperti istana dalam cerita anak-anak itu menjadi simbol kota sekaligus saksi perjalanan panjang sejarah kawasan Mosel.

Dari kejauhan, menara-menara kastel tampak menjulang di atas lembah, sementara di bawahnya Sungai Mosel berkelok tenang membelah perbukitan hijau.

Saya berdiri cukup lama memandangi pemandangan itu.

Dari ketinggian, Mosel terlihat seperti pita perak yang meliuk mengikuti lekuk alam.

Di kiri dan kanan sungai terbentang kebun-kebun anggur yang tersusun rapi di lereng bukit.

Kapal-kapal wisata bergerak perlahan di atas permukaan air. Cahaya matahari musim panas memantul lembut, menciptakan suasana yang tenang dan damai.

Sebagai orang yang baru pertama kali menyaksikan keindahan lembah Mosel secara langsung, saya tentu kagum.

Namun anehnya, pikiran saya tidak sepenuhnya berada di Jerman.

Mosel justru membawa saya pulang.

Bukan ke Pontianak. Bukan pula ke Sungai Kapuas yang besar dan terkenal. Yang hadir dalam ingatan saya adalah dua sungai kecil yang membesarkan masa kanak-kanak saya: Sunge Ritok di Retok dan Sunge Manur di Kampung Ampaning.

Jika dilihat di Google Map, kedua kampung ini berada di Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi Kalimantan Barat.

Bagi sebagian orang, sungai hanyalah bentang alam. Namun bagi anak-anak kampung seperti kami, sungai adalah kehidupan itu sendiri.

Di Sunge Ritok dan Sunge Manur saya belajar berenang.

Saya masih ingat bagaimana awalnya hanya bermain di tepian, lalu perlahan memberanikan diri ke bagian yang lebih dalam. Berkali-kali tenggelam, menelan air, dan panik karena kehilangan keseimbangan.

Namun, dari sungai itulah saya akhirnya belajar mengapungkan badan dan menjadi pandai berenang.

Sungai juga menjadi tempat kami mencari ikan.

Dengan pancing sederhana, kami duduk berjam-jam di tepian menunggu umpan disambar. Kadang hasil tangkapan cukup banyak untuk dibawa pulang. Kadang hanya beberapa ekor kecil.

Namun, tidak pernah ada rasa kecewa. Sebab yang kami cari bukan hanya ikan, tetapi juga kegembiraan.

Sungai menjadi ruang bermain yang tak pernah habis.

Lebih dari itu, sungai adalah jalan penghubung kehidupan.

Dengan sampan kecil kami mengayuh menuju ladang keluarga. Jika ingin mengunjungi kerabat di kampung sebelah, kami menyusuri aliran sungai yang sama.

Bahkan untuk bertamu ke rumah tetangga di seberang sungai, cukup mendayung beberapa menit.

Sebelum jalan darat berkembang seperti sekarang, sungai adalah urat nadi yang menghubungkan manusia dengan manusia lainnya.

Saya masih mengingat warna airnya dengan sangat jelas.

Air Sunge Ritok dan Sunge Manur berwarna hitam karena gambut. Namun hitamnya bukan berarti kotor. Justru sebaliknya. Airnya jernih, bersih, dan segar. Kami mandi di sana setiap hari. Kami berenang tanpa khawatir. Dalam keadaan tertentu, air sungai itu bahkan bisa langsung diminum.

Kini kenangan itu terasa seperti cerita dari masa yang sangat jauh.

Beberapa tahun terakhir saya mendengar bagaimana aktivitas Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) telah mengubah wajah sungai-sungai di kampung kami.

Air yang dahulu hitam dan bening kini berubah menjadi cokelat keruh, seperti kopi yang dicampur susu kental manis. Aliran yang dulu menjadi sumber kehidupan perlahan kehilangan kejernihannya.

Setiap kali mendengar cerita itu, hati saya terasa perih.

Yang hilang bukan sekadar air yang bersih.

Yang hilang adalah sebagian kenangan sebuah generasi.

Anak-anak hari ini mungkin tidak lagi mengenal sungai sebagaimana kami mengenalnya dahulu. Mereka mungkin tidak pernah merasakan berenang berjam-jam di air yang jernih. Mereka mungkin tidak pernah mendayung sampan menuju ladang sambil mendengar suara burung dari tepian hutan. Mereka mungkin tidak pernah merasakan kegembiraan sederhana ketika kail pancing tiba-tiba bergerak di tengah sore yang tenang.

Pikiran itu membuat dada saya sesak.

Di hadapan saya, Sungai Mosel tetap mengalir tenang melewati desa-desa yang terawat.

Masyarakat di sekitarnya menjaga sungai itu sebagai bagian dari warisan yang harus diteruskan kepada generasi berikutnya. Alam dan kehidupan berjalan berdampingan.

Saya kagum melihatnya.

Namun pada saat yang sama saya juga sedih.

Sebab saya teringat sungai-sungai masa kecil yang perlahan kehilangan kejernihannya.

Saya membayangkan betapa indahnya jika suatu hari nanti Sunge Ritok dan Sunge Manur dapat kembali pulih.

Saya membayangkan anak-anak kampung dapat kembali berenang, memancing, dan bermain di sungai sebagaimana yang pernah kami lakukan dahulu.

Entah mengapa, saat berdiri di tepi Mosel, mata saya terasa agak basah.

Mungkin karena saya menyadari bahwa manusia tidak hanya merindukan sebuah tempat. Kita merindukan waktu yang pernah kita jalani di tempat itu. Kita merindukan suara, aroma, wajah-wajah lama, dan kehidupan yang pernah memberi makna pada masa kecil kita.

Matahari mulai turun perlahan di balik perbukitan Cochem.

Cahaya keemasan memantul di permukaan Mosel. Kapal-kapal kecil bergerak mengikuti arus yang tenang.

Saya memandang sungai itu cukup lama.

Saya duduk di kursi taman di pinggir sungai. Di sebelah saya ada pohon cukup rindang.

Di hadapan saya adalah Sungai Mosel di Jerman.

Tetapi di dalam hati, saya sedang melihat Sunge Ritok dan Sunge Manur seperti puluhan tahun yang lalu—hitam karena gambut, jernih, bersih, dan penuh kehidupan.

Dan untuk sesaat, saya merasa sedang pulang. ***


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *