Hari itu hari Minggu ketika kami tiba di Koblenz, salah satu kota tertua di Jerman. Bersama istri, anak ketiga, putra kedua yang sedang menempuh pendidikan vokasi (Ausbildung), serta pacar anak kedua, dan…putri sulung kami bersama suaminya orang Jerman, saya berjalan menyusuri kota yang berdiri di pertemuan dua sungai besar Eropa: Rhein dan Mosel.
Langit musim panas tampak cerah. Udara terasa sejuk bagi kami yang berasal dari Kalimantan Barat. Suasana kota relatif tenang. Sebagian besar toko tutup karena hari Minggu, sebuah pemandangan yang masih terasa unik bagi orang Indonesia yang terbiasa dengan pusat perbelanjaan yang tetap ramai setiap akhir pekan.
Namun justru ketenangan itulah yang membuat Koblenz terasa istimewa.
Orang-orang berjalan santai tanpa tergesa-gesa. Beberapa keluarga duduk menikmati kopi di kafe terbuka. Wisatawan berjalan menyusuri jalan-jalan berbatu di kawasan kota tua. Sesekali terdengar lonceng gereja dari kejauhan, seolah mengingatkan bahwa kota ini telah melewati berabad-abad sejarah.
Kami memulai perjalanan dengan menyusuri pusat kota lama. Bangunan-bangunan tua berdiri kokoh di sepanjang jalan. Fasad berwarna pastel, jendela-jendela besar, dan detail arsitektur klasik membuat setiap sudut terasa menarik untuk dipotret.
Sulit membayangkan bahwa kota yang tampak damai ini telah berdiri selama lebih dari dua ribu tahun.
Nama Koblenz berasal dari bahasa Latin Confluentes yang berarti “pertemuan sungai”. Nama itu diberikan oleh bangsa Romawi yang mendirikan permukiman di kawasan tersebut sekitar abad pertama sebelum Masehi. Letaknya yang strategis di pertemuan Rhein dan Mosel menjadikan kota ini penting bagi perdagangan, pertahanan militer, dan pergerakan manusia sejak zaman Kekaisaran Romawi.
Jejak masa lalu masih terasa hingga sekarang. Benteng-benteng tua, gereja-gereja bersejarah, dan bangunan-bangunan klasik berdiri berdampingan dengan kehidupan modern. Koblenz seolah menjadi ruang pertemuan antara masa lalu dan masa kini.
Tujuan utama kami hari itu adalah kawasan Deutsches Eck atau “Tanjung Jerman”, titik terkenal tempat Sungai Mosel bertemu dengan Sungai Rhein.
Saat tiba di sana, saya langsung memahami mengapa tempat ini begitu populer.
Dua sungai besar mengalir dari arah yang berbeda lalu bertemu dalam satu titik sebelum melanjutkan perjalanan menuju Laut Utara. Di atas tanjung berdiri patung berkuda Kaisar Wilhelm I yang megah. Wisatawan dari berbagai negara berjalan santai di sekelilingnya sambil menikmati pemandangan sungai.
Saya berdiri cukup lama memperhatikan pertemuan dua aliran air itu.
Mosel datang dari arah lembah-lembah anggur yang beberapa hari sebelumnya kami kunjungi, termasuk kawasan Cochem yang begitu indah. Rhein datang membawa sejarah panjang Eropa Tengah. Keduanya bertemu di Koblenz dan melanjutkan perjalanan bersama.
Ada sesuatu yang puitis dalam pemandangan tersebut.
Mungkin karena saya sedang berada di Jerman untuk sebuah peristiwa keluarga yang penting: pernikahan putri sulung kami dengan seorang pria Jerman. Dua keluarga dari budaya yang berbeda dipersatukan dalam satu ikatan. Seperti Rhein dan Mosel, masing-masing memiliki asal-usul dan cerita sendiri, tetapi kini berjalan menuju masa depan yang sama.
Tidak jauh dari kawasan itu terdapat kios-kios kecil yang menjual berbagai cendera mata. Saya tertarik melihat tempelan kulkas berbentuk kuda dan berbagai simbol khas Koblenz. Harganya sekitar tiga hingga lima euro. Saya membeli beberapa buah untuk dibawa pulang.
Nilainya memang tidak besar.
Namun setiap suvenir menyimpan cerita. Kelak ketika melihat tempelan itu di rumah, saya akan teringat pada perjalanan ini, pada keluarga yang berjalan bersama, dan pada kota tua yang berdiri di pertemuan dua sungai besar Eropa.
Dari kawasan sungai kami kemudian menuju titik pandang yang menjadi salah satu ikon Koblenz. Dari tempat yang lebih tinggi, panorama kota terlihat jauh lebih mengagumkan.
Di bawah sana, Sungai Rhein dan Mosel tampak berkilau diterpa cahaya matahari. Atap-atap bangunan tua membentuk hamparan warna yang teratur. Kapal-kapal wisata bergerak perlahan mengikuti aliran sungai. Di kejauhan tampak Ehrenbreitstein Fortress berdiri kokoh di atas bukit, mengawasi kota dan sungai seperti yang telah dilakukannya selama berabad-abad.
Saya berdiri cukup lama menikmati bentang alam itu.
Sebagai orang yang tumbuh di Kalimantan Barat, saya tentu akrab dengan sungai. Namun melihat dua sungai besar Eropa bertemu di tengah kota bersejarah menghadirkan kesan yang berbeda. Ada perpaduan antara alam, sejarah, dan kehidupan manusia yang terasa begitu harmonis.
Di tengah suasana yang damai itu, tiba-tiba terdengar suara teriakan cukup keras.
Seorang pria kulit putih berdiri tidak jauh dari lokasi kami dan berbicara dengan suara lantang. Saya tidak memahami apa yang diucapkannya karena menggunakan bahasa Jerman. Sesekali ia mengangkat tangannya dan terus berbicara dengan penuh semangat.
Saya sempat terkejut.
Putra saya kemudian menjelaskan bahwa pria tersebut meneriakkan kalimat-kalimat tentang Jerman, kurang lebih menyerukan agar Jerman tetap maju dan kuat.
Saya tidak tahu siapa dia.
Saya juga tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam hidupnya.
Mungkin ia sedang bersemangat. Mungkin sedang marah. Mungkin sedang mengalami tekanan tertentu. Saya tidak tahu, dan terus terang saya tidak ingin menebak-nebak. Setelah beberapa saat, perhatian saya kembali tertuju pada sungai yang jauh lebih menarik daripada teriakan itu.
Hal lain yang membuat saya terkesan adalah budaya bersepeda.
Di hampir setiap sudut kota saya melihat orang menggunakan sepeda. Ada mahasiswa, pekerja, pasangan lanjut usia, bahkan keluarga yang membawa anak-anak mereka. Di sepanjang tepian sungai berjajar sepeda yang diparkir dengan rapi dan dirantai pada rak atau tiang khusus.
Jumlahnya begitu banyak sehingga saya beberapa kali berhenti hanya untuk memperhatikannya.
Bagi masyarakat di sana, sepeda tampaknya bukan sekadar alat olahraga atau rekreasi. Sepeda merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Orang datang ke pusat kota dengan sepeda, berbelanja, menikmati sore di tepi sungai, lalu mengayuh pulang dengan santai.
Pemandangan itu membuat saya berpikir tentang hubungan manusia dengan ruang publik. Di Koblenz, sungai bukan hanya objek wisata. Sungai menjadi bagian dari kehidupan warga. Orang berjalan kaki di tepinya, bersepeda, duduk membaca buku, berbincang dengan teman, atau sekadar menikmati matahari sore.
Menjelang petang, cahaya keemasan mulai menyelimuti kota. Kapal wisata perlahan bergerak meninggalkan dermaga. Burung-burung melintas di atas permukaan sungai. Wisatawan mulai berkurang.
Saya kembali memandang pertemuan Rhein dan Mosel.
Di hadapan saya bukan hanya dua sungai yang bertemu. Saya melihat sebuah kota yang berhasil menjaga sejarahnya, merawat ruang publiknya, dan hidup berdampingan dengan alam yang mengelilinginya.
Koblenz mengajarkan bahwa sebuah kota tidak harus dipenuhi gedung pencakar langit untuk menjadi menarik. Terkadang yang membuat sebuah tempat istimewa adalah kemampuannya menjaga kenangan, menghormati sejarah, dan memberi ruang bagi manusia untuk menikmati hidup dengan lebih perlahan.
Dan pada hari Minggu yang tenang itu, di pertemuan Rhein dan Mosel, saya merasa menjadi saksi kecil dari pelajaran tersebut. ***
Leave a Reply